Oleh: Ust. Nizar Zulmi Rauf, S.H., Guru Bahasa Arab dan Tahsin-Tahfizh SDIT Al-Fattah Kuningan
Mendengar nama R.A. Kartini, hal yang pertama kali terlintas dalam benak kita biasanya adalah soal kebaya dan sanggul atau konde. Padahal, R.A. Kartini memiliki warisan yang lebih berharga dari sekadar kebaya dan sanggul yang ia pakai, yaitu pendidikan.
Bagi Kartini, pendidikan bukan sebatas usaha untuk mendapatkan ijazah dan gelar, tetapi bagaimana seorang perempuan bisa memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri dan mampu menentukan arah hidupnya sendiri tanpa terdikte oleh keadaan.
Kartini yang cerdas merasa sangat prihatin karena perempuan di zamannya seolah lahir tanpa memiliki pilihan. Mereka dibatasi oleh dinding pingitan dan aturan adat yang membuat dunia mereka terasa sempit, seolah tugas kaum hawa hanya di area domestik tanpa hak memiliki mimpi besar.
Sebab itulah Kartini menyadari bahwa musuh terbesar kaum hawa pada saat itu adalah ketidaktahuan. Ia paham betul bahwa ketika seorang perempuan mendapatkan akses ke pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka pandangannya akan terbuka.
Pendidikan adalah sebab yang dapat melepaskan seseorang dari ketergantungan, karena perempuan yang berpendidikan akan mengedepankan logika dan keberanian dalam hal independensi.
Lebih jauh lagi, pendidikan bagi perempuan punya dampak yang sangat krusial terhadap kemajuan peradaban. Berdasar pada sebuah keyakinan bahwa jika kita mendidik seorang perempuan, sebenarnya kita sedang mendidik satu generasi.
“Al-ummu al-madrasah al-ula (ibu adalah sekolah pertama),” tulis Hafiz Ibrahim (1872-1932), penyair asal Mesir. Ibu yang cerdas dan memiliki wawasan luas akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan berkarakter.
Barangkali itulah alasan kuat mengapa Kartini sangat gigih dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Ia ingin bangsa yang ia cintai ini maju, dan kemajuan harus dimulai dari pondasi awal, yaitu pendidikan bagi mereka yang akan melahirkan dan membesarkan generasi masa depan.
Zaman sekarang, meskipun akses sekolah sudah jauh lebih terbuka, tantangan pemikiran lama terkadang masih muncul. Masih ada yang beranggapan bahwa perempuan itu tidak perlu menuntut ilmu setinggi mungkin, karena pada akhirnya ia akan berakhir menjadi seorang istri yang mengurus rumah tangga.
Pemikiran seperti inilah yang perlu diluruskan melalui semangat Kartini. Tidak ada yang salah dengan pilihan profesi apapun selagi itu halal, namun pendidikan memberikan perempuan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya berdasarkan kesadaran, bukan karena paksaan atau keterbatasan pilihan.
Dengan bekal ilmu, seorang perempuan bisa menjadi ilmuwan, akademisi, peneliti, atau ibu rumah tangga yang hebat dengan cara pandang yang lebih luas.
Pada akhirnya, meneladani Kartini di masa kini berarti kita terus merawat rasa haus akan ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan sebab terbukanya kesempatan yang dahulu tertutup rapat bagi kaum hawa.
Dengan terus mengembangkan pengetahuan, kita tidak hanya membawa cahaya bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi lentera bagi keluarga dan masyarakat luas. Seperti mimpi Kartini, pendidikanlah yang akan membawa kita keluar dari kegelapan menuju cahaya masa depan yang gemilang. Habis Gelap, Terbitlah Terang.[]
Tinggalkan Komentar