Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
2 Desember 2025

Ujian Sekolah dan Signifikansinya

Sel, 2 Desember 2025 Dibaca 47x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Ujian merupakan masalah utama dalam pendidikan modern. Terlepas dari beragam bentuk, sistem, dan metodenya, ujian sangat diperlukan dalam setiap sistem pendidikan karena banyaknya manfaat.

Ujian diperlukan untuk menilai kompetensi dan pengetahuan para siswa, menentukan kesesuaian dan kemampuan mereka dalam berbagai tugas, dan memberitahu guru tentang sejauh mana para siswa telah memperoleh manfaat dari pelajaran yang mereka terima.

Melalui ujian, kita dapat menghargai nilai kerja guru serta dampak upaya mereka dalam pendidikan, pengembangan karakter, dan administrasi. Namun, dalam bentuknya yang familiar saat ini, terlepas dari kebutuhan dan manfaatnya, ujian meninggalkan tidak sedikit dampak negatif pada moral dan kesejahteraan siswa.

Selain itu, ujian bukanlah standar sempurna untuk menilai kompetensi dan pengetahuan. Oleh karena itu, kita percaya bahwa tidaklah bijaksana untuk memberikan penilaian mutlak terhadap ujian.

Meskipun diperlukan, ujian tidak sepenuhnya memadai, dan juga bukan ukuran yang tepat. Penggunaan ujian yang berlebihan dapat menyebabkan banyak kerugian. Hal terbaik yang dapat dikatakan tentang ujian adalah bahwa ujian merupakan suatu keniscayaan dalam pendidikan.


Dampak Ujian terhadap Pendidikan

Sebagian besar orang percaya bahwa ujian menawarkan banyak manfaat pendidikan, termasuk:

1 – Memotivasi siswa untuk terus berupaya mencapai tujuan mereka.

2 – Mendorong anak-anak untuk mengingat pelajaran mereka, menghubungkannya, serta meninjau, mengingat, dan menelitinya; ini merupakan manfaat yang signifikan.

3 – Menunjukkan luasnya pengetahuan siswa.

4 – Menumbuhkan ketekunan, kemandirian, dan kerja terorganisir untuk mencapai tujuan tertentu.

5 – Membina persaingan yang sehat di antara siswa dan memotivasi mereka untuk berjuang meraih keunggulan.

6 – Mengungkapkan kepada guru tentang prestasi akademik siswanya, menunjukkan kepadanya hasil kerja siswa, dan menyoroti kelemahan siswa serta dampak dari metode pengajaran yang digunakan, yang memungkinkan guru untuk memperbaiki kesalahan apa pun. Hal ini juga menunjukkan kepada kepala sekolah dan orangtua hasil dari upaya sekolah dan siswa.

7 – Memungkinkan kita memilih siswa yang paling tepat untuk diterima di sekolah terbaik pada jenjang pendidikan selanjutnya, misalnya.


Namun demikian, tidak sedikit orang percaya bahwa selain membawa manfaat, ujian juga bisa membawa kerugian. Sebab ujian merupakan penilaian atas kinerja siswa dan sekolah itu sendiri. Jika hasilnya baik, sekolah tersebut dianggap baik, dan jika hasilnya buruk, sekolah tersebut juga dianggap buruk. Tidak diragukan lagi, menilai sekolah hanya berdasarkan hasil ujiannya merupakan suatu sikap yang tercela.

Sebagian orang menganggap ujian sebagai hambatan untuk mencapai reformasi yang diinginkan dalam pendidikan dan metodenya. Karena beberapa alasan, yang harus diwaspadai oleh seluruh pendidik, di antaranya:

1 – Ujian hanya mengungkapkan sejauh mana pengetahuan yang diperoleh para siswa; namun, pengetahuan bukanlah satu-satunya ukuran pendidikan. Pengetahuan siswa tentang tata bahasa, morfologi, peristiwa sejarah, dan kemampuan mereka memecahkan masalah matematika tidak menunjukkan kompetensi atau kesiapan mereka, juga tidak menunjukkan kesesuaian mereka untuk berbagai peran dalam kehidupan.

Selain itu, ujian konvensional tidak dapat secara akurat menilai dampak pendidikan terhadap perkembangan intelektual, kekuatan dan kesehatan fisik, penanaman kebiasaan baik, perbaikan moral, persiapan anak untuk kehidupan sosial yang memuaskan, atau mengajari mereka cara memanfaatkan waktu luang.

Oleh karenanya, menilai efektivitas sekolah hanya berdasarkan jumlah siswa yang lulus ujian umum merupakan kesalahan besar. Banyak siswa lulus ujian tetapi gagal dalam kehidupan praktis dan sosial.

2 – Ujian konvensional mengabaikan perbedaan signifikan dalam kecenderungan dan bakat siswa, sehingga mengharuskan mereka semua mengikuti satu model. Hal ini karena ujian standar mengharuskan kurikulum tunggal yang telah ditentukan sebelumnya untuk semua siswa yang mengikutinya. Akibatnya, mereka dipaksa untuk menghafal berbagai informasi yang akan diujikan, terlepas dari kecenderungan dan kemampuan masing-masing.

Lebih lanjut, ujian konvensional berasumsi bahwa semua anak memiliki kapasitas intelektual yang sama, sehingga mengharuskan mereka semua untuk berkembang dengan kecepatan dan cara yang sama—sebuah gagasan yang tidak pernah didukung oleh siapa pun.

3 – Ujian konvensional membuat pendidikan di sekolah menjadi sangat menuntut. Guru mengerahkan upaya mereka untuk menjejalkan informasi sebanyak mungkin ke dalam pikiran para siswa dalam waktu sesingkat mungkin untuk mempersiapkan mereka menghadapi ujian, mengabaikan pemahaman mereka terhadap pelajaran atau mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

Guru memfokuskan upaya pada pembuatan ringkasan, menghafal catatan, memilih topik yang akan menjadi sumber pertanyaan, dan membebani para siswa dengan detail dan definisi yang tidak relevan yang tidak mereka pahami.

Akibatnya, pengetahuan mereka menjadi sekadar kosakata yang tidak berhubungan dengan kehidupan atau pengalaman pribadi mereka. Maka, tidak mengherankan jika siswa melupakan semua informasi ini segera setelah ujian. Alih-alih bermanfaat bagi pendidikan, ujian justru menjadi hambatan bagi pendidikan yang layak. Semua perhatian tertuju pada ujian, sementara mempersiapkan siswa untuk kehidupan justru diabaikan sepenuhnya.

4 – Ujian dapat menyebabkan guru mengabaikan siswa tertentu di kelas mereka. Mereka mungkin memfokuskan seluruh perhatian mereka pada siswa berprestasi, yang yakin akan keberhasilan mereka, sementara mengabaikan siswa yang lebih lemah, yang diperkirakan akan gagal.

Sebaliknya, seorang guru mungkin memberikan perhatian yang signifikan kepada siswa yang kurang berprestasi, mendorong mereka hingga mereka dapat lulus ujian, sementara mengabaikan siswa berprestasi yang yakin akan keberhasilan mereka. Dalam kedua kasus tersebut, banyak siswa yang terabaikan, dan sebagian besar waktu mereka terbuang sia-sia.

5 – Ujian mengurangi nilai mata pelajaran akademik. Setiap mata pelajaran dinilai semata-mata berdasarkan nilai yang diberikan dalam ujian. Namun, informasi bermanfaat terkait kehidupan, moral, dan perilaku siswa diabaikan karena tidak dicantumkan dalam ujian. Ini termasuk pelajaran agama, pendidikan jasmani, kerajinan tangan, dan mata pelajaran lain yang memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan moral dan etika siswa.

6 – Ujian tak jarang berkontribusi pada perilaku buruk; ujian dapat mendorong siswa untuk berbohong dan menyontek dengan berbagai cara. Misalnya, seorang siswa mungkin mencoba menipu penguji agar percaya bahwa ia memahami pertanyaan ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, yang merupakan suatu bentuk kecurangan.[RG]

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar