Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Di era revolusi digital dan maraknya penggunaan ponsel pintar dan media sosial, budaya membaca di Indonesia menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Membaca, yang dulunya merupakan mercusuar pemikiran dan landasan budaya, tidak lagi sepopuler dulu, tetapi telah surut di hadapan daya tarik konten digital yang serba cepat dan informasi yang dangkal.
Namun pertanyaan terpenting tetap ada: Apakah era membaca benar-benar telah berakhir, ataukah kita menghadapi krisis yang lebih dalam, yang terkait dengan struktur budaya dan pendidikan yang membentuk kesadaran kolektif kita di Tanah Air?
Membaca Antara Teknologi dan Budaya
Peran teknologi dalam mengubah kebiasaan kita tidak dapat disangkal. Layar ponsel telah menjadi sumber utama informasi dan hiburan. Data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada Agustus 2025 menyebutkan bahwa rata-rata warga RI membaca sekitar enam buku per tahun. Angka ini menunjukkan budaya baca yang masih tergolong rendah.
Data lain menunjukkan bahwa rutinitas membaca buku secara intensif masih rendah, dengan angka rutin membaca sering disebut berada di kisaran 20,7% pada awal 2026.
Indonesia berada di peringkat ke-31 dunia dalam hal kegemaran membaca menurut survei yang mencakup 102 negara pada tahun 2024.
Fenomena ini terkait dengan tingkat buta huruf yang melebihi 20% di beberapa wilayah di Indonesia, yang berdampak negatif pada budaya membaca.
Di sisi lain, sebanyak 60% penduduk Indonesia gemar melihat gambar dan video pendek di media sosial. Pada akhir 2025, pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 180 juta, setara dengan 62,9% dari total populasi, dibandingkan dengan persentase kecil konten tertulis seperti buku dan artikel.
Namun, krisis ini bukan semata-mata disebabkan oleh teknologi. Krisis ini juga berakar dari kurangnya dorongan untuk membaca sejak usia muda, tidak adanya lingkungan budaya yang merangsang, kurikulum pendidikan yang cenderung pada hafalan, lemahnya perpustakaan umum, dan dukungan terbatas untuk penerbit lokal. Semua faktor ini telah berkontribusi pada penurunan minat membaca.
Apa Sebenarnya yang Kita Rugikan?
Membaca bukan sekadar mengonsumsi teks; ini adalah proses menumbuhkan pemikiran kritis, meningkatkan kesadaran, dan memperluas wawasan. Budaya membaca yang lemah menyebabkan melemahnya kemampuan berpikir analitis dan independen, membuat masyarakat Indonesia lebih rentan terhadap narasi yang menyesatkan, yang jumlahnya sangat banyak!
Tanpa budaya membaca, beberapa bahaya muncul: penurunan kesadaran politik, penurunan kreativitas dan inovasi, dan konsumsi informasi yang dangkal secara luas.
Bagaimana Kita Dapat Menghidupkan Kembali Budaya Membaca?
Indonesia membutuhkan strategi komprehensif untuk menghidupkan kembali budaya membaca, di antaranya:
Era membaca belum mati di Indonesia, tetapi berada dalam bahaya. Kembali membaca adalah keharusan peradaban. Jika kita tidak memeliharanya hari ini, kita akan kehilangan generasi berikutnya, tidak hanya sebagai pembaca, tetapi juga sebagai pemikir dan pemimpin yang mampu membangun masa depan yang lebih baik.[]
Tinggalkan Komentar