Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
28 Oktober 2025

Teladan Nabi Membimbing Generasi Muda

Sel, 28 Oktober 2025 Dibaca 71x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah


Pemuda adalah pilar bangsa, rahasia kebangkitannya, dan pembangun peradabannya. Mereka adalah pelindung tanah air dan penjaga batas-batas negara. Hal ini karena masa muda adalah masa penuh aktivitas, energi, dan karunia. Dengan kekuatan mental, fisik, dan psikologis yang unggul, mereka mengemban panji pembelaan tanah air di masa perang serta berjuang untuk pembangunan dan pengembangan di masa damai. Di samping kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan perkembangan baru dan tantangan yang muncul di berbagai bidang keilmuan, politik, dan sosial. Fleksibilitas, yang disertai dengan kemauan keras, tekad yang teguh, dan kegigihan, adalah di antara karakteristik pemuda yang paling menonjol.

Allah Swt. menggambarkan fase ini sebagai kekuatan setelah kelemahan dan sebelum kelemahan. Dia berfirman, “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan[mu] kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan[mu] lemah [kembali] setelah keadaan kuat dan beruban,” [Q.S. al-Rum: 54].

Islam memberikan perhatian sangat besar kepada pemuda, membimbing mereka dengan bijaksana menuju pembangunan, pertumbuhan, dan kebaikan. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Saw. yang selalu melibatkan kaum muda dalam perjuangannya. Mereka adalah kelompok yang paling banyak menghabiskan waktu untuk mendampingi beliau di awal dakwah, mendukung dan membantu beliau, menyebarkan risalah Islam, dan menanggung berbagai kesulitan serta penderitaan dalam prosesnya.

Dengan wawasannya yang tajam dan kebijaksanaannya yang mendalam, Nabi Saw. menempatkan kaum muda sejak awal pada posisi yang semestinya, menjadikan mereka sebagai aktor utama dalam membangun entitas Islam, menyampaikan risalahnya, dan menyebarkan cahayanya ke seluruh dunia.

Nabi Saw. memperbaiki akhlak mereka, mempertajam tekad mereka, mengarahkan energi mereka, dan mempersiapkan mereka untuk mengemban tanggungjawab memimpin umat. Beliau juga mendorong mereka untuk bekerja dan beribadah, dengan bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, dan di antara mereka ada seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,” (Shahih al-Bukhariy, Juz 1, hal. 234)

Di saat yang sama, Nabi Saw. mendorong kaum muda untuk kuat dalam iman, kuat fisik, dan kuat dalam tindakan. Beliau bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan keduanya memiliki kebaikan,” (Shahih Muslim, Juz 4, hal. 2052). Namun, beliau menekankan bahwa kekuatan tidak hanya terletak pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri. Beliau bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah,” (Shahih al-Bukhariy, Juz 5, hal. 2267).

Oleh karena itu, Nabi Saw. berupaya mempersiapkan kaum muda dengan membangun kepribadian mereka yang kuat, agar mereka siap mengemban risalah kebenaran, lebih mampu memikul tanggungjawab, dan lebih berkomitmen pada prinsip-prinsip Islam.

Dari perspektif praktis, tak seorang pun menafikan peran pemuda di masa-masa awal Islam. Merekalah yang mendukung Nabi Saw. di awal dakwah. Islam menyebar melalui para pemuda yang beriman kepada Tuhan dan dibimbing oleh-Nya. Nabi Saw. sering bermusyawarah dengan mereka tentang hal-hal penting dan seringkali tunduk pada pendapat mereka. Misalnya, beliau tunduk pada pendapat para pemuda untuk maju menghadapi kaum musyrik dalam Perang Uhud, sementara para tetua berpendapat untuk memperkuat diri di Madinah.

Peran penting pemuda dalam membangun dakwah Islam diilustrasikan oleh orientalis Inggris Montgomery Watt dalam bukunya, Muhammad in Mecca. Ia mengatakan bahwa Islam hakikatnya merupakan gerakan pemuda. Awalnya, Nabi Saw. merintis dakwah Islam di rumah salah seorang pemuda, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam yang saat itu baru berusia 16 tahun. Karena dakwah tersebut mengandalkan transmisi, para pemudalah yang menyampaikannya kepada para penduduk Makkah dan sekitarnya.

Kita tidak lupa peran Ali bin Abi Thalib ra. pada masa hijrah. Betapa penting perannya di masa itu dan betapa besar beliau dalam memenuhi misi yang dipercayakan kepadanya.

Di tengah perhatiannya yang besar terhadap generasi muda, beliau menunjuk Abu Abdillah al-Tsaqafi untuk memimpin delegasi kaumnya—delegasi Tsaqif—karena beliau melihat kecerdasan dan hasratnya untuk kebaikan dan agama, meskipun ia adalah yang termuda di antara mereka. (Siyar A’lam al-Nubala’, Juz 2, hal. 374).

Para sahabat mengikuti cara Nabi Saw. dalam membimbing para pemuda. Ketika Abu Bakr al-Shiddiq ingin menyusun al-Qur’an, ia mempercayakan tugas mulia ini kepada Zaid bin Tsabit. Imam al-Zuhri berkata: “Janganlah kalian merendahkan diri karena usia muda. Setiap kali Umar bin al-Khaththab menghadapi masalah yang sulit, ia akan memanggil para pemuda dan bermusyawarah dengan mereka, untuk menajamkan akal mereka.” (Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadluhu, Juz 1, hal. 85).

Sejarah umat Muslim penuh dengan teladan cemerlang yang tak terhitung jumlahnya dari para pemudanya di segala bidang kehidupan. Pemuda masa kini harus mengambil inspirasi dari teladan-teladan ini untuk membangun kembali bangsa dan membangun peradaban kokoh yang mendapatkan legitimasinya dari agama Islam yang sejati.

Para pemuda harus menginvestasikan kemampuan dan energi luar biasa mereka untuk menggerakkan roda pembangunan dan mengangkat bangsa ini di segala bidang politik, ekonomi, dan sosial ke jajaran negara-negara besar, agar bangsa ini dapat meraih kembali kejayaannya yang telah lama dibangun oleh para pemuda dengan tangan dan perjuangan mereka sendiri.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar