Oleh: Kiai Moh. Hidayat, Lc., S.Th.I., Dewan Pengasuh dan Pimpinan Majelis Dzikir Al-Fattah
Allah Swt. berfirman,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ نُوْحٍۘ اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَّقَامِيْ وَتَذْكِيْرِيْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَعَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ فَاَجْمِعُوْٓا اَمْرَكُمْ وَشُرَكَاۤءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ اَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوْٓا اِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُوْنِ
“Sampaikanlah [wahai Nabi Muhammad] kepada mereka berita penting [tentang] Nuh ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, jika terasa berat bagi kamu keberadaanku tinggal [bersamamu] dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, kepada Allahlah aku bertawakkal. Oleh karena itu, bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu [untuk membinasakanku], selanjutnya janganlah keputusanmu itu dirahasiakan. Kemudian, bertindaklah terhadap diriku dan janganlah kamu tunda-tunda [tindakan itu] kepadaku,” [Q.S. Yunus: 71].
Ayat ini menceritakan tentang Nabi Nuh as.. Ia termasuk nabi yang berusia panjang, diperkirakan mencapai 950 hingga 1.050 tahun. Hanya saja, kaumnya yang beriman dan mengimani ajarannya jumlahnya sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang. Beberapa riwayat bahkan menyebutkan jumlahnya sekitar 80 orang.
Nabi Nuh as. termasuk ulul azmi, karena hatinya banyak dilukai oleh kaumnya. Sepanjang hidup ia berdakwah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah. Bukan penerimaan dan kepercayaan yang ia dapatkan, tetapi penghinaan, cacian dan makian. Hanya segelintir orang dari kaumnya yang mengimani ajaran yang dibawanya.
Setiap perjuangan perlu pengorbanan. Ketika kita berjuang, pasti ada saja sesuatu yang tak enak bersemayam di hati. Karena dunia ini tempatnya ujian dan cobaan. Tidak selamanya bahagia, tetapi juga tidak selamanya sedih. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti menyertai perjalanan hidup manusia di dunia ini.
Nabi Nuh as. berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, jika terasa berat bagi kamu keberadaanku tinggal [bersamamu] dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, kepada Allahlah aku bertawakkal,” [Q.S. Yunus: 71]. Ini adalah ilmu yang paling pokok, yaitu tawakkal.
Tawakkal adalah memasrahkan segala urusan kepada Allah. Tetapi, tawakkal itu tidak pasif, melainkan harus aktif; bekerja keras lalu berserah. Tidak dibenarkan seseorang menyebut dirinya tawakkal, menenggelamkan diri dalam ibadah dan dzikir di masjid sementara istri dan anaknya terlantar dan kelaparan di rumah.
Di pagi hari seorang istri meminta uang kepada suaminya untuk membeli beras di pasar, tetapi suaminya bilang, “Tawakkal saja.” Di siang hari seorang anak meminta uang kepada ayahnya untuk membeli jajanan, lalu ayahnya bilang, “Tawakkal saja.” Seorang suami meminta istrinya untuk membuatkannya kopi, tetapi istrinya hanya memberinya cangkir kosong, lalu bilang, “Tawakkal saja.” Ini konsep tawakkal yang salah.
Tawakkal, untuk level hamba seperti kita, harus disertai dengan usaha dan kerja keras. Berbeda, misalnya, dengan sosok manusia seperti Siti Maryam yang di sisinya selalu ditemukan buah-buah segar tanpa melakukan usaha apapun. Tetapi, kalau kita ingin seperti ini, kita harus naik level.
Setiap orang punya tantangan masing-masing. Tantangan nabi adalah umatnya, tantangan orangtua adalah anaknya, tantangan suami adalah istrinya, dan seterusnya. Untuk menghadapi tantangan-tantangan ini kita tidak bisa seenaknya bilang “tawakkal saja” tanpa melakukan sesuatu.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani, Al-Dailami, dan Abu Na’im, yang berbunyi,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن من الذنوب ذنوبا لا يكفرها الصلاة ولا الصيام ولا الحج ولا العمرة، قالوا: فما يكفرها يا رسول الله؟ قال: الهموم في طلب المعيشة
“Bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ‘Ada dosa-dosa yang tidak bisa ditebus dengan shalat, puasa, haji dan umrah.’ Para sahabat bertanya, ‘Lalu apa yang bisa menebusnya, ya Rasulullah?’ Beliau berkara, ‘Kesusahan mencari ma’isyah.”
Hadits ini menunjukkan bahwa beberapa dosa tidak dapat ditebus dengan ibadah-ibadah biasa seperti shalat, puasa dan haji, melainkan dengan kesulitan dan kecemasan yang dialami dalam usaha mencari nafkah dan penghidupan.
Secara umum, konsep yang kita kenal adalah,
الحسنات يذهبن السيئات
“Kebaikan menghapuskan keburukan“
Harusnya shalat, puasa, dan haji bisa menghapuskan dosa-dosa. Tetapi, ternyata, ada dosa-dosa yang tidak terhapuskan oleh semua itu kecuali oleh kesusahan mencari ma’isyah.
Kalau ada orang yang wajahnya tampak sedih, gundah dan gelisah karena suatu keadaan di mana ia memikirkan nasib keluarganya; hari ini dan esok mereka mau makan apa?, sementara ia terus berusaha mencari ma’isyah untuk menafkahi mereka, kita jangan pernah menyepelehkannya, sebab itu bisa menghapus dosa-dosanya.
Di sinilah tawakkal menemukan tempatnya. Semakin susah seseorang dalam upayanya mencari ma’isyah, dan ia tetap sabar dan tawakkal kepada Allah, semakin banyak dosa yang terhapuskan darinya.
Hal ini memberi kita motivasi untuk bekerja keras, berjuang mencari nafkah dan memikul tanggungjawab keluarga yang disertai tawakkal kepada Allah sebagai cara untuk menebus dosa-dosa yang masih menempel pada diri kita.[]
*) Disampaikan pada Pengajian Jum’at Pagi, Kantor SDIT Al-Fattah Kuningan, 14 November 2025
Tinggalkan Komentar