Oleh: Ust. Virgi Vergiawansyah, S.Pd., Guru SDIT Al-Fattah
Istilah pesantren sudah menjadi istilah umum yang digunakan sebagai tempat menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Dan eksistensi pesantren sudah tidak diragukan lagi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh bangsa yang lahir dari pesantren, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, Syaikhana Kholil Bangkalan, K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) Presiden ke-4 RI, dan lainnya.
Tujuan pendidikan pesantren sebagaimana disebutkan oleh Dr. Zamakhsyari Dhofir, tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan ilmu-ilmu agama, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan meningkatkan semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah-laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap santri diajarkan agar menerima etika agama di atas etika-etika yang lain.
Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan. Al-Qur`an menyebutkan,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّ تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu,” [Q.S. Fushshilat: 30].
Dalam tradisi Islam, santri sering mendengar ungkapan, “Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu.” Nasihat ini juga relevan dalam menghadapi ketidakpastian zaman. Yuval Noah Harari (2018: 290) menyebut bahwa di abad ke-21 ini, mengenal diri sendiri adalah salah satu kunci untuk bertahan.
Mengapa penting? Karena saat ini kita hidup di era “peretasan manusia”. Dengan teknologi yang memantau setiap gerak kita melalui perangkat digital, algoritma mulai mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri sendiri. Pada saat algoritma mengenal kita lebih baik dibanding kita sendiri, maka algoritma akan mengendalikan kehidupan kita. Jika kita tidak belajar mengenal diri, kita bisa kehilangan kendali atas kehidupan dan masa depan kita, karena keputusan yang diambil oleh algoritma berbasis data.
Sehingga santri dituntut untuk kreatif, inovatif, produktif, dan mampu menjawab tantanggan zaman sehingga dakwah Islam dapat diterima di semua kalangan.
1. Santri tidak hanya mengaji, namun harus memiliki integritas tinggi sebagai pengawal NKRI
2. Santri harus berwawasan global, sehingga tidak selalu dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan
3. Santri harus menguasai IPTEK sehingga tidak disebut sebagai kaum sarungan yang tidak berwawsan global
4. Santri harus berpndidikan tinggi namun masih mampu menerapkan nilai-nilai kepesantrenan yang ditanamkan oleh kyai
5. Santri harus menguasai ilmu bisnis, karena dari sinilah Rasulullah Saw. pertama kali mendapatkan gelar Al-Amin yang artinya yang dapat dipercaya.
Selamat Hari Santri 22 Okotber 2025
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Santri Pengawal Kyai dan NKRI
“Mengawaal Indonesia merdeka, menuju peradaban dunia.”
Tinggalkan Komentar