Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Perpustakaan bukan sekadar bangunan berisi rak penuh buku; ia adalah dinding-dinding sunyi yang menyimpan roh-roh dan kertas-kertas putih yang menguning, usang oleh keletihan tahun-tahun yang berlalu.
Perpustakaan adalah sebuah tempat di mana ruang-ruang kosong dan kursi-kursi dingin terhampar, tempat yang masih jarang dikunjungi. Bahkan beberapa orang mulai takut, seolah-olah perpustakaan adalah binatang buas yang akan menerkam begitu mereka melangkahi ambang pintu, atau cermin yang akan mengungkapkan kebenaran yang mereka hindari di tengah hiruk-pikuk dunia luar.
Dinding-dinding yang sunyi itu hanyalah saksi dari masa yang terlupakan dan lenyap, masa yang pintunya tertutup di halaman-halaman terakhirnya, pergi sambil berbisik getir ke rak-rak buku: “Kami tidak akan kembali, dan tidak seorang pun akan pernah menghapus debumu lagi. Kami terperangkap di sini dalam keheningan buku-buku itu, tak terbaca oleh siapa pun; jadi kau akan menanggung beban kami selama kami bersandar padamu, dan kau akan menanggung kisah-kisah kuno kami, yang dihafal di dalam hati, dan kau akan terbebani oleh kisah-kisah yang makna rahasianya hanya kau yang tahu, dan hanya kau yang akan merasakan rintihan dari halaman-halamannya.”
Namun, yang lebih berat daripada masa yang terlupakan adalah bahwa kita melupakannya dan masa itu tidak melupakan kita; setiap pengunjung yang berani memasuki perpustakaan hari ini membawa serta waktu istimewa, yang ia lemparkan kepada buku-buku di rak pertama yang ia temui, dan matanya menjelajahi halaman-halamannya, sehingga buku-buku itu merasakan dingin tangannya, yang telah aus karena dinginnya teknologi, dan buku-buku itu menghangatkan dirinya dengan kerinduan akan sentuhan manusiawi.
Buku-buku itu menyimpan jejak tangan pengunjung pada kata-kata seperti kode rahasia; bukan untuk mengawasinya, tetapi untuk membiarkannya merasakan apa yang dibacanya, dengan lembut menariknya masuk, seolah-olah ia telah memasuki dunia paralel di mana ia mulai melihat jati dirinya yang sebenarnya.
Di sana, di antara baris-baris buku, pengunjung melihat apa yang ingin dilihatnya, dan mengagumi apa yang terlewatkan dalam kebisingan dunia luar. Buku-buku itu membisikkan kepadanya semua yang ingin didengarnya, menggantungnya seperti cahaya penuntun dalam kegelapan lorong-lorong dunia.
Pada hakikatnya, perpustakaan adalah “labirin diri,” tempat seseorang masuk untuk mencari informasi dan mendapati dirinya dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang tak terduga. Ini adalah tempat di mana waktu berhenti, di mana waktu menjadi ilusi, dan kata-kata menjadi satu-satunya kebenaran.
Di sini, di perpustakaan, kita menyadari bahwa membaca bukanlah kemewahan, melainkan proses untuk menemukan kembali bagian-bagian diri kita yang hilang, yang tersebar di sepanjang jalan kehidupan sehari-hari.
Demikianlah, seorang pengunjung datang dan yang lain pergi, tak pernah kembali, seolah-olah ia akhirnya menemukan solusi untuk labirinnya sendiri dan pergi. Dan perpustakaan tetap seperti sumur yang terlupakan, sumur dalam yang penuh dengan kerinduan dan kata-kata yang dahaga, menunggu orang-orang yang sadar untuk mengambil darinya dan mengekstrak kebijaksanaan atau penghiburan apa pun yang mereka inginkan.
Namun, berapa harga dari masuknya pengunjung ini? Apakah pengunjung pergi tanpa berubah? Tentu tidak. Perpustakaan mengambil waktu kita untuk memberi kita pengalaman seumur hidup di luar diri kita sendiri, dan mengambil kebingungan kita untuk memberi kita keajaiban membaca.
Dan pertanyaan yang tetap menggantung di rak-rak buku adalah: Akankah para pengunjung membayar harga yang mahal dalam pemikiran dan kontemplasi, atau akankah mereka pergi tanpa terbebani oleh pajak pengetahuan dan melupakan apa yang mereka lihat, seperti orang lain? Perpustakaan membuka pintunya untuk semua orang, tetapi hanya mengungkapkan rahasianya kepada mereka yang memiliki keberanian untuk tersesat di labirinnya dan menerima untuk menjadi bagian dari ingatannya yang abadi.
Perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan buku; ia adalah ibu yang penuh kasih sayang bagi mereka yang mencari kebenaran di saat identitas diri telah hilang di balik layar yang dingin.[]
Tinggalkan Komentar