Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
3 Februari 2026

Perpustakaan dalam Sejarah Peradaban Islam (2/2)

Sel, 3 Februari 2026 Dibaca 17x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Para khalifah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah terkenal karena kecintaan dan hasrat mereka terhadap ilmu pengetahuan dan pendirian perpustakaan. Para khalifah Dinasti Abbasiyah termasuk di antara pendukung terbesar pengembangan ilmu pengetahuan, menghabiskan sejumlah besar uang untuk usaha ini. 

Mereka mendirikan sekolah, mengisi perpustakaan dengan buku-buku berharga, dan dengan murah hati mendukung para sarjana, penulis, dan penyair. Istana khalifah menjadi forum tempat para penyair, penulis, dan sarjana bersaing. Siapa pun yang istananya dipenuhi oleh kelas orang-orang terdidik dan berbudaya seperti ini dipastikan mengetahui apa yang terjadi di istananya, bahkan memahami seluk-beluk topik yang dibahas. 

Para khalifah hanya dapat mencapai kedudukan mulia mereka melalui membaca, belajar, dan berdiskusi. Mereka juga memastikan anak-anak mereka menerima pendidikan yang unggul, sehingga beberapa dari mereka tumbuh dewasa dengan bekal pengetahuan, bersemangat untuk mendapatkannya, dan mendorong pencariannya.


Perpustakaan Para Khalifah

Sekolah Abbasiyah terbesar adalah Sekolah Mustanshiriyah di Baghdad, yang pembangunannya selesai pada tahun 631 H. Di dalamnya terdapat “tempat-tempat penyimpanan buku yang jumlahnya belum pernah terdengar sebelumnya. Seluruhnya sangat istimewa, baik keindahan salinannya maupun kualitas buku-buku yang tersedia di dalamnya”. 

Pustakawan Mustanshiriyah adalah sejarawan terkemuka Baghdad, Ibnu al-Sa’i. Ia menulis: “[Perpustakaan] ini adalah keistimewaan yang belum pernah dicapai siapa pun sebelum kami. Di dalamnya terdapat tempat-tempat penyimpanan buku. Dua ratus sembilan puluh muatan unta berisi buku-buku mulia dan berharga, serta naskah-naskah asli ilmu pengetahuan telah dipindahkan ke sana, di samping apa yang akan dipindahkan ke sana setelah itu. Sepuluh orang telah ditetapkan untuk berada di sana, yang merupakan tempat penyimpanan, yang akan bekerja untuk ilmu hadits Nabi, dan mereka memiliki dua tugas: melibatkan para pelajar dalam mempelajari ilmu hadits Nabi, dan menunjuk seorang syaikh bersama mereka untuk memeriksa rantai periwayatan (al-isnad)”. 

Sayangnya, perpustakaan-perpustakaan ini hancur setelah runtuhnya kekhalifahan, dan buku-bukunya raib entah ke mana. Tidak diragukan lagi, invasi Mongol ke Baghdad merupakan salah satu pukulan terberat bagi kekhalifahan; sebagian buku dipindahkan, dan sebagian lainnya dihancurkan. 

Ibnu al-Sa’i menyebutkan bahwa ketika Baghdad jatuh pada tahun 656 H (1258 M), bangsa Mongol “membangun kandang dan palungan dengan buku-buku para ulama sebagai pengganti batu bata”.

Al-Qalqasyandi, penulis ensiklopedia paling terkenal di era Dinasti Mamluk, Subh al-A’sya fi Shina’ah al-Insya, menyinggung nasib tragis perpustakaan para khalifah Abbasiyah, dan menganggapnya sebagai salah satu dari tiga perpustakaan terbesar dalam sejarah Islam hingga zamannya. Ia menyatakan, “Dikatakan bahwa tiga perpustakaan terbesar dalam Islam adalah: salah satunya adalah perpustakaan para khalifah Abbasiyah di Baghdad, yang berisi buku-buku yang tak terhitung jumlahnya dengan nilai yang tak tertandingi. Perpustakaan itu tetap demikian hingga bangsa Mongol menginvasi Baghdad. Raja Mongol, Hulagu, membunuh al-Musta’shim, khalifah terakhir Abbasiyah. Perpustakaan itu kemudian hilang, bersama dengan harta karun lainnya, dan bangunan-bangunan bersejarahnya pun lenyap.” 

Al-Qalqasyandi juga menyebutkan bahwa perpustakaan Fatimiyah di Kairo dan perpustakaan Umayyah di Cordoba, Andalusia, termasuk di antara tiga perpustakaan besar tersebut. 

Wajar jika para sultan dan raja mengikuti teladan para khalifah dalam persaingan sengit untuk membangun perpustakaan yang melimpah. 

Pada tahun 662 H, tiga puluh tahun setelah pembangunan Sekolah Mustanshiriyah di Baghdad dan perpustakaannya yang lengkap, Sultan Dinasti Mamluk, al-Zhahir Baibars, membangun Sekolah al-Zhahiriyah di Kairo, yang ditujukan untuk mengajarkan dan menyebarkan fikih Syafi’i, qira’at sab’ah, dan hadits. Ia membangun di dalamnya “sebuah perpustakaan dan di sebelahnya terdapat sebuah kantor untuk mengajar anak-anak yatim dan menyediakan roti setiap hari, pakaian untuk dua musim, dan tempat air untuk bersuci (al-thaharah)”.

Tabib dan filsuf tersohor Ibnu Sina menceritakan, mengenai perpustakaan raja-raja Samanid di Bukhara sekitar seperempat terakhir abad ke-4 Hijriah (abad ke-10 Masehi), bahwa Sultan Samanid, Nuh ibn Manshur, pernah jatuh sakit. Para punggawanya menyebut Ibnu Sina dan keahliannya dalam bidang kedokteran, sehingga ia datang untuk merawatnya. Ibnu Sina berkata, “Aku meminta izinnya untuk memasuki perpustakaan, menelusuri buku-bukunya, membacanya, dan menyalinnya. Ia memberiku izin, dan aku masuk. Ada banyak sekali buku dengan berbagai judul. Aku melihat buku-buku yang judulnya tidak dikenal oleh banyak orang. Aku membaca buku-buku itu, memperoleh banyak manfaat dari isinya, dan mempelajari kedudukan setiap ulama di bidangnya.”

Menteri Dinasti Seljuk yang paling masyhur, Nizham al-Mulk al-Thusi, terkenal karena kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan para ulama. Ia mendirikan sejumlah sekolah (atau perguruan tinggi) Nizhamiyyah di beberapa kota di dunia Islam bagian timur, seperti Merv dan Nishapur, serta ibu kota Abbasiyah, Baghdad. Tidak hanya itu, kita juga menemukan kontribusi keilmuannya meluas hingga kota-kota lain di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk selama abad ke-5 Hijriah. 

Demikian pula, Menteri Dinasti Khwarazm, yang bernama Nizham al-Mulk Mas’ud ibn Ali, dibunuh oleh para Assassin dalam sebuah tragedi yang mirip dengan tragedi yang menimpa tokoh yang namanya sama, Nizham al-Mulk al-Thusi. Menteri Dinasti Khwarazm ini, yang terbunuh pada tahun 596 Hijriah, membangun “sekolah dan masjid yang megah di Khwarazm, termasuk perpustakaan, dan meninggalkan karya-karya berharga di Khorasan yang masih ada hingga saat ini”.

Banyak pangeran mengikuti para sultan dan khalifah dalam kecintaan mereka terhadap buku dan mengoleksinya, terutama selama periode kekuasaan Islam, seperti pemerintahan Sultan Muhammad ibn Qalawun (w. 741 Hijriah/1341 M). Telah diketahui bahwa Pangeran Baktash al-Manshuri “terobsesi untuk memperoleh al-Qur’an dan buku-buku berharga yang mahal”.

Menariknya, pada abad ke-3 Hijriah, kita menemukan bahwa di antara barang-barang yang disita Dinasti Abbasiyah dari seorang pemberontak adalah “perpustakaan yang berisi lima belas ribu jilid buku, belum termasuk bagian-bagian dan buku-buku yang belum dijilid”.


Perpustakaan Para Cendekiawan

Perpustakaan-perpustakaan yang kaya telah menghasilkan para cendekiawan brilian di semua bidang seni dalam peradaban Islam, karena keberadaannya yang luas. Al-Ma’arri, penulis dan filsuf terkemuka, yang tidak puas dengan zamannya karena orang-orang tidak memperhatikan buku-bukunya, kebijaksanaannya, dan kejeniusannya, melakukan perjalanan pertamanya “ke Tripoli yang memiliki banyak perpustakaan buku, dan ia mengambil banyak sekali ilmu pengetahuan dari sana”.

Ibrahim ibn Ubaidillah, yang dikenal sebagai al-Nawala, ia digambarkan sebagai “samudra sastra yang tak terbatas, cakrawala kepemimpinan yang dihiasi oleh Tuhan dengan bintang-bintang kebajikan dan kebaikan yang mulia”. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang darinya orang dapat mengambil kekayaan dan pengetahuan sastra, dan ia mengandalkan perpustakaannya yang luas untuk menulis mahakaryanya, al-Musahhab.

Betapa banyak dan megahnya perpustakaan para cendekiawan dan ulama dalam peradaban Islam! Kita dapat melihat dedikasi mereka yang tak kenal lelah untuk membangun perpustakaan pribadi dan umum, terlepas dari jumlah uang yang dihabiskan. Misalnya, Abu Sa’d al-Nishapuri, seorang pendakwah dan salah satu tokoh terkemuka Nishapur pada abad ke-4 Hijriah, membuat dan menjual pakaian, dan ia hidup dari penghasilannya tersebut. Ia membangun sebuah sekolah dan rumah sakit di lingkungannya dengan mewakafkan dana besar sebagai amal untuk itu. Ia juga memiliki perpustakaan besar yang berisi banyak sekali buku berharga.

Adapun perpustakaan pribadi para ulama, jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung. Mereka mengandalkan perpustakaan-perpustakaan ini untuk penelitian dan penulisan karya-karya mereka. Misalnya, ulama al-Hafizh al-Abyurdi Zainuddin Abu al-Fath Muhammad ibn Muhammad al-Shufi al-Syafi’i (w. 667 Hijriah/1268 M), menyusun kamus biografi guru-gurunya yang telah mengajarinya, dan ia juga mewakafkan buku-bukunya.

Syaikh Yahya ibn Abdil Wahhab ibn Abdirrahim al-Damanhuri al-Nahwi (w. 721 H/1321 M), ia memiliki sebuah perpustakaan yang ia wakafkan kepada Masjid al-Zahiri di Kairo. 

Imam al-Thufi al-Hanbali Sulaiman ibn Abdil Qawi (w. 716 H/1316 M), ia mempelajari segala sesuatu yang ia temukan di perpustakaan-perpustakaan Qus di Mesir, dan terdapat perpustakaan lengkap untuk karya-karyanya di sana.

Al-Qadhi Burhanuddin ibn Jama’ah (w. 790 H/1388 M), gairah dan kecintaannya terhadap buku sangat besar, dan ia mempunyai perpustakaan pribadi. Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Ia memperoleh buku-buku berharga dengan tulisan tangan penulisnya secara langsung dan buku-buku lainnya, yang tidak tersedia bagi orang lain.”

Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Sibt ibn Abdizh Zhahir Syafi’ ibn Ali (w. 730 H/1330 M), salah satu ulama dan pejabat senior di Diwan al-Insya’ (Kementerian Luar Negeri) Dinasti Mamluk. “Karena kecintaannya yang mendalam terhadap buku, jika ia menyentuh sebuah buku, ia akan berkata: ‘Buku ini adalah milikku saat ini.’ Dan jika ia diminta untuk mengambil buku apa pun, ia akan pergi ke sebuah rak dan mengambil sebuah buku seolah-olah ia sendiri yang menaruhnya di sana.”

Sayangnya, minat terhadap buku dan perpustakaan umum menurun pada periode selanjutnya sebelum dunia Islam jatuh ke dalam cengkeraman imperialisme Eropa. Hal ini dicatat oleh sejarawan Mesir terkemuka Abdurrahman al-Jabarti pada abad ke-12 dan awal abad ke-13 Hijriah (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 Masehi). 

Abdurrahman al-Jabarti meratapi perpustakaan-perpustakaan besar yang kosong pada zamannya dengan penuh penyesalan dan kesedihan. Judul-judul buku yang ia kenal dan ia cari, sebagian besar sudah tidak ia temukan pada zamannya. Sebagian hilang, sebagian dicuri, dan sebagian rusak. Bahkan agresi Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte di Mesir (1798-1801 Masehi) turut berkontribusi dalam peristiwa ini melalui pencurian. 

Ia berkata, “Judul-judul menjadi tidak berarti, karena kami tidak melihat apa pun kecuali beberapa fragmen yang tersisa di beberapa perpustakaan wakaf sekolah, yang diedarkan oleh jurnalis, dijual oleh para penjual, dan diangkut ke Afrika Utara dan Sudan. Kemudian sisa-sisa dari sisa-sisa itu hilang dalam kekacauan dan perang, dan Prancis mengambil apa yang mereka temukan ke negara mereka.”

Dengan demikian, apa yang telah kita lihat hanyalah contoh sekilas dari ketertarikan peradaban Islam dalam membangun perpustakaan. Perpustakaan merupakan elemen penting dalam struktur kebudayaan, sedemikian pentingnya sehingga seorang peneliti yang mempelajari subjek menarik dan indah ini akan menemukan perpustakaan yang didirikan oleh banyak cendekiawan Muslim di lorong-lorong sempit dan gang-gang kota dan ibu kota di seluruh dunia Islam![]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar