Peringatan Maulid Nabi dan Revitalisasi Nilai Kenabian
Oleh: Dr. K.H. Aang Asy’ari., Lc., M.S.I., Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar tradisi seremonial tahunan, tetapi momentum spiritual untuk memperdalam cinta dan pemahaman terhadap sosok yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Tujuan utama Maulid adalah menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi dalam kehidupan nyata: kasih sayang, kejujuran, kesederhanaan, dan semangat membangun peradaban. Dalam konteks ini, Maulid bukan hanya “peringatan kelahiran”, melainkan refleksi atas kelahiran cahaya yang menerangi kegelapan moral dan sosial umat manusia. Sebagian pihak mungkin mempertanyakan dasar perayaan Maulid karena tidak dilakukan secara eksplisit di masa sahabat. Namun, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah diberbagai belahan dunia, memahami Maulid sebagai bentuk ekspresi cinta (mahabbah) yang memiliki dasar syar‘i. Pertama, peristiwa aqiqah Nabi—sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diutus menjadi Nabi—menjadi dalil bolehnya menampakkan rasa syukur atas nikmat kelahiran. Jika Nabi saja bersyukur atas kelahirannya, apalagi umat yang memperoleh cahaya hidayah dari beliau. Kedua, puasa Nabi setiap hari Senin sebagaimana sabdanya, “Itu adalah hari aku dilahirkan,” [H.R. Muslim]. Ini menunjukkan bahwa mengenang hari kelahiran sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur adalah perbuatan terpuji. Ketiga, kisah Abu Lahab yang mendapat keringanan siksa setiap hari Senin karena bergembira menyambut … Lanjutkan membaca Peringatan Maulid Nabi dan Revitalisasi Nilai Kenabian
Salin dan tempelkan URL ini ke dalam WordPress Anda untuk sematkan
Salin dan tempelkan kode ini ke dalam situs Anda untuk disematkan