Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
6 Desember 2025

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Sab, 6 Desember 2025 Dibaca 44x Edukasi

Oleh: Usth. Nia Kurniawaty, S.Pd.I., Guru SDIT Al-Fattah Kuningan



Syariat Islam mengatur agar para orangtua mengasuh dan mendidik anak-anak mereka dengan baik, melarang mereka menelantarkan dan melanggar hak anak-anak mereka, serta menetapkan berbagai aturan untuk melindungi anak-anak.

Allah Swt. telah mewajibkan orangtua untuk melindungi keluarga mereka dari api neraka, dan ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang saleh.

Mendidik anak bukan hanya tugas ibu semata, melainkan juga ayah. Dalam hal ini, peran terpenting seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya adalah dengan iman, berdasarkan al-Qur`an dan Sunnah, untuk melindungi mereka dari penyimpangan dan kesesatan, dan untuk memastikan mereka meraih ridha Allah di akhirat, serta untuk menjauhkan mereka dari murka dan siksa-Nya.


Teladan Para Nabi

Pentingnya peran ayah dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya berawal dari fakta bahwa hal ini merupakan praktik para nabi Allah, yang memberikan teladan terbaik dalam upaya mereka yang berkelanjutan untuk mendidik anak-anak mereka. Mereka tahu bahwa mereka adalah teladan bagi anak-anak mereka dan bagi seluruh umat manusia.

Para nabi agung dalam keteladan mereka, membangun kejayaan mereka melalui usaha mereka sendiri, dan mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak membanggakan garis keturunan atau etnis, melainkan bahwa ukuran sejati kebanggaan terletak pada upaya dalam meraih ridha Allah.

Allah Swt. berfirman,


وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

[Ingatlah] ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘[Aku mohon juga] dari sebagian keturunanku.’ Allah berfirman, ‘[Doamu Aku kabulkan, tetapi] janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim,” [Q.S. al-Baqarah: 124].


Nabi Ibrahim as. sangat ingin mendidik putra-putranya berdasarkan prinsip agung, yaitu tauhid, sebagaimana dibuktikan dalam doa-doanya,


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala,” [Q.S. Ibrahim: 35].


Dalam ayat lain,


رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, [jadikanlah] dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik [rangkaian ibadah] haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang,” [Q.S. al-Baqarah: 128].


Inilah metode Ibrahim as. dalam mendidik anak-anaknya. Prioritas utamanya adalah keluarga dan anak-anaknya, sehingga ia mengabdikan dirinya untuk memperbaiki dan membimbing mereka. Metode dan ajaran-ajaran yang penuh berkah ini diwariskan kepada keturunannya. Setiap putranya adalah seorang monoteis yang beribadah hanya kepada Allah dan membesarkan anak-anaknya sesuai aturan-Nya dan memperingatkan mereka agar tidak menyekutukan-Nya.

Allah Swt. berfirman,


وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

[Ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] itu benar-benar kezhaliman yang besar,” [Q.S. Luqman: 13].


Ayat ini mengungkapkan kepada kita cita-cita luhur Luqman as. dan bagaimana ia menanamkannya kepada putranya, mencurahkan upaya maksimal dalam mendidiknya dengan pendekatan yang lembut. Ia memulai dengan menasihatinya untuk beriman kepada Keesaan Allah melalui serangkaian perintah agama, dimulai dengan shalat, rukun Islam pertama yang diperintahkan untuk diajarkan kepada anak-anak kita.


Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Peran ayah dalam mendidik anak-anaknya berakar pada beberapa aspek pendidikan berikut ini:


Pertama, aspek akidah. Ini adalah salah satu aspek terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang ayah, karena ia bertanggungjawab untuk membentuk keyakinan, nilai, dan pikiran. Nabi Saw. bersabda,


كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” [H.R. al-Bukhari].


Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi seorang ayah untuk berusaha menanamkan akidah Islam yang benar kepada anak-anaknya sejak dini, mengasuh mereka dengan iman sebagaimana seorang ibu mengasuh anaknya dengan air susu. Pendidikan Islam yang benar memainkan peran penting dalam membesarkan anak-anak Muslim dan membekali mereka dengan kekebalan yang diperlukan terhadap pikiran dan keyakinan yang menyimpang.


Kedua, aspek ibadah. Penting untuk mendidik anak-anak dengan ibadah wajib sejak usia dini, seperti shalat, puasa, dan zakat. Hal ini disebutkan dalam nasihat Luqman as. kepada putranya ketika ia berkata kepadanya,


يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Wahai anakku, tegakkanlah shalat dan suruhlah [manusia] berbuat yang makruf dan cegahlah [mereka] dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan,” [Q.S. Luqman 17].


Hal ini menuntut para ayah, khususnya, untuk mendidik, mengajar dan melatih anak-anaknya dalam shalat dan puasa, mengajak mereka ke masjid, dan menetapkan program praktis bagi mereka dalam hal ini.


Ketiga, aspek akhlak. Perhatian Islam terhadap akhlak sangat besar, menganggapnya sebagai fondasi yang mendasari semua interaksi manusia. Allah Swt. memuji Nabi Muhammad Saw. dengan firman-Nya,


وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung (luhur),” [Q.S. al-Qalam: 4].


Nabi Saw. memberi bimbingan kepada para orangtua untuk memenuhi peran moral-edukatif mereka terhadap anak-anak mereka. Dan beliau sendiri diperintahkan untuk menanamkan perilaku etis kepada putra-putri beliau dan memperbaiki perilaku yang bertentangan dengan akhlak Islam melalui praktik dan aturan berikut ini:


1 – Menanamkan nilai amanah pada anak: karena hanya manusia yang layak mengemban amanah. Tanggungjawab yang berat ini merupakan dasar dari kehormatan yang telah Allah tetapkan untuk manusia, dan seseorang harus menjunjung tinggi amanah ini untuk mencapai kedudukan yang mulia. Allah Swt. berfirman,


إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zhalim lagi sangat bodoh,” [Q.S. al-Ahzab: 72].


2 – Menanamkan nilai kesabaran pada diri sendiri: meneladani Nabi Muhammad Saw., yang dianiaya di Makkah, dipaksa meninggalkan rumah dan tanah airnya. Allh Swt. menjelaskan pahala orang yang sabar dalam firman-Nya,


 اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan,” [Q.S. al-Zumar: 10].


3 – Mengajarkan nilai kejujuran kepada anak: orang Muslim adalah orang yang jujur lahir dan batin, dalam perkataan dan perbuatan, karena kejujuran merupakan prinsip dasar akhlak dan batu ujian untuk menentukan derajat keimanan.


Keempat, aspek sosial. Peran ayah dalam ranah ini dapat diringkas sebagai berikut:





1 – Mengajarkan anak-anak untuk membalas salam, karena hal ini menumbuhkan rasa sayang dan keharmonisan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

2 – Mendorong anak-anak untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang terlarang, karena hidup menuntut batasan bagi setiap individu. Islam bertujuan untuk membangun masyarakat yang suci di mana hawa nafsu tidak kehilangan kendali.

3 – Menghubungkan anak-anak dengan teman-teman yang baik, karena pertemanan memiliki dampak mendalam pada perkembangan psikologis dan sosial anak.

4 – Membiasakan anak-anak dengan kebiasaan meminta izin sebelum memasuki rumah, baik sebelum maupun setelah pubertas.


Kelima, aspek psikologis dan emosional. Peran ayah dalam hal ini dapat diringkas sebagai berikut:





1 – Menumbuhkan kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Nabi Saw. bersabda,


إن الله إذا أراد بأهل بيت خيرًا، أدخل عليهم الرفق

Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah rumah tangga, Dia menganugerahkan kelembutan kepada mereka.”


2 – Menanamkan dalam diri mereka pandangan positif kepada Allah, kepasrahan kepada-Nya, rasa percaya diri, dan rasa tanggungjawab.

3 – Memperingatkan ibu kepada anak-anaknya agar tidak bersikap arogan dan sombong.

4 – Memenuhi kebutuhan anak-anak akan kasih sayang dan interaksi yang menyenangkan. Dari Anas, ia berkata,


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمًا وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ فَرُبَّمَا حَضَرَ الصَّلَاةَ وَهُوَ فِي بَيْتِنَا فَيَأْمُرُ بِالْبِسَاطِ الَّذِي تَحْتَهُ فَيُكْنَسُ وَيُنْضَحُ ثُمَّ يَقُومُ وَنَقُومُ خَلْفَهُ فَيُصَلِّي بِنَا

Nabi Saw. adalah sosok yang paling mulia akhlaknya, aku memiliki saudara yang bernama Abu Umair—perawi mengatakan: “Aku mengira Anas juga berkata: ‘Kala itu ia habis disapih.”—Dan apabila beliau datang, maka beliau akan bertanya: ‘Hai Abu Umar, bagaimana kabar si nughair (burung pipitnya)?’ Abu Umair memang senang bermain dengannya, dan ketika waktu shalat telah tiba, sedangkan beliau masih berada di rumah kami, maka beliau meminta dihamparkan tikar dengan menyapu bawahnya dan memercikinya, lalu kami berdiri di belakang beliau, dan beliau pun shalat mengimami kami,‘” [H.R. al-Bukhari].


Keenam, melatih anak-anak dalam urusan kehidupan dan mewariskan pengalaman kepada mereka. Banyak hal yang tidak ditemukan dalam buku atau referensi lainnya, tetapi diwariskan langsung dari generasi ke generasi. Hal ini membutuhkan keterlibatan anak-anak dalam musyawarah pengambilan keputusan dan memperoleh nasihat-nasihat dari para pendidik.

Di antara anjuran para pendidik dan pendakwah Islam adalah melatih anak-anak dalam urusan rumah tangga dan melibatkan mereka dalam memecahkan masalah-masalah kontemporer untuk mendapatkan pengalaman dan belajar dari orang lain.


Ketujuh, melatih anak-anak dalam metode-metode berdakwah kepada Allah Swt. dengan hikmah dan nasihat yang baik. Hal ini dapat dicapai dengan mengajak mereka mengikuti seminar, ceramah, perjalanan, dan acara-acara serupa, agar mereka tumbuh dengan pemahaman Islam yang benar dan menjadi orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, amar ma’ruf, dan nahi munkar.


Kedelapan, mendidik anak-anak agar bebas di mana orangtua bisa bersikap bersabar terhadap mereka, melindungi perasaan dan martabat mereka, serta menghindari memukul, mempermalukan, atau mengintimidasi mereka. Meneror anak-anak melahirkan sifat pengecut dan ketakutan, meruntuhkan tekad mereka, dan melemahkan karakter mereka.


Ayah dan Tahapan-Tahapan Pendidikan Anak

Dalam mendidik anak, peran ayah terbagi dalam tiga tahap, sebagaimana dijelaskan syariat, untuk menjadi kerangka kerja yang jelas bagi setiap orang yang akan menikah dan ingin membangun keluarga yang sejahtera. Tahap-tahap tersebut adalah:





Pertama, pendidikan pra-pelahiran: Islam menganjurkan para ayah untuk memberikan perhatian yang cermat dan teliti dalam memilih lingkungan pengasuhan bagi anak mereka yang belum lahir. Ini melibatkan persiapan dan peletakan dasar bagi pengasuhan yang sehat dalam lingkungan keluarga yang hangat, sebisa mungkin bebas dari gangguan jasmani dan rohani.





Kedua, pendidikan setelah kelahiran selama ayah hidup: Pada tahap ini, ayah memikul tanggungjawab atas pendidikan dan pengasuhan anak dalam segala aspek kehidupan. Anak paling bergantung pada ayahnya pada tahap ini, dan pengasuhan merupakan proses kompleks yang diatur oleh berbagai aturan dan prinsip. Sangat penting untuk mengasuh anak secara religius, psikologis, spiritual, dan sosial.





Ketiga, pendidikan berkelanjutan setelah kematian ayah: Ini adalah tahap terakhir dalam proses pengasuhan, yang dibangun di atas dua tahap pertama dengan meninggalkan jejaknya di masa depan. Intinya, ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan ayah, tindak lanjut dari jalannya, dan penyempurnaan warisannya. Bukan hal aneh dalam hukum Islam dan nilai-nilainya bahwa amal saleh tetap berlanjut bahkan setelah kematian. Nabi Saw. bersabda,


إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له

Ketika seseorang meninggal dunia, semua amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, atau anak saleh yang mendoakannya,” [H.R. Muslim].


Dalam mengasuh dan mendidik anak, peran ayah sangat penting untuk menciptakan generasi yang sehat secara psikologis dan sosial. Sangat penting untuk mengubah anggapan umum yang mengidentikkan pendidikan anak semata-mata dengan peran ibu, yang mengabaikan kontribusi dan pentingnya ayah dalam membentuk karakter anak-anak.

Peran ayah dalam kehidupan anak-anak pada dasarnya adalah tentang perlindungan, pendidikan, teladan, otoritas, dan keutuhan keluarga. Anak-anak perlu merasa bahwa ayah mereka memberi mereka tingkat perlindungan, pendidikan, dan bimbingan yang sedikit berbeda dari apa yang mereka terima dari ibu mereka, dan bahwa ia adalah pencari nafkah utama bagi keluarga, yang bertanggungjawab atas kesejahteraan mereka. Kehadirannya sebagai guru sangat penting dalam membesarkan anak-anak dan membantu keluarga mengatasi tantangan hidup serta meraih surga di akhirat.[]

Artikel Lainnya

Oleh : Roland Gunawan

Menggapai Cita

Oleh : Roland Gunawan

Santri Sejati

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar