aljazeera.net – Saudara-saudara kita di Palestina menjalani kenyataan pahit berupa pembunuhan, kelaparan, sakitnya kehilangan dan pengungsian, beratnya pengkhianatan, dan ketidakadilan. Kita hidup bersama mereka—meskipun tak ada ruang untuk perbandingan—dengan perasaan tak berdaya, kekecewaan, dan kepedihan yang mendalam. Kita mungkin bertanya: Bagaimana mungkin?
Kehidupan sebelum perang genosida di Palestina sama sekali tidak mirip dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita mengikuti berita dengan hati yang hanya berharap secercah harapan di tengah berita utama. Seolah-olah satu-satunya harapan kita adalah menjalani hari tanpa rasa sesal karena kita menemukan sesuatu untuk dimakan bersama seluruh keluarga, atau memuaskan dahaga dengan air bersih tanpa kesulitan sedikit pun, atau berjalan di jalan tanpa dikejutkan oleh suara ledakan di dekatnya, atau menikmati secangkir kopi di luar ruangan tanpa langit biru yang tertutup asap yang menandakan kematian, atau bersukacita atas suatu peristiwa tanpa diredam oleh berita gugurnya orang terkasih.
Kehidupan sebelum perang genosida di Palestina sama sekali tidak mirip dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Kita merasa berkewajiban untuk melakukan sesuatu demi menegakkan keadilan, meskipun itu hanya sekadar meninggalkan komentar di media sosial yang membantah narasi penjajah, atau membuat konten yang mengungkap kejahatannya, atau berpartisipasi dalam protes terhadap apa yang terjadi di sana, atau menyumbangkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan kecil mereka yang hidup di tengah cobaan ini.
Namun, keraguan seringkali menyusup ke dalam benak kita tentang efektivitas tindakan kita ketika kita membandingkannya dengan besarnya tragedi yang dialami oleh mereka yang tertimpa reruntuhan dan api. Kita bergulat dengan kata-kata, sementara mereka bergulat dengan hidup dan mati. Kita memikul beban situasi, sementara mereka memikul beban bertahan hidup itu sendiri.
Kehidupan sebelum perang genosida di Palestina berbeda dengan kehidupan yang kita jalani sekarang. Jauh di lubuk hati, kita menyimpan perasaan yang terus-menerus bahwa dunia tidak lagi seperti dulu, atau mungkin kita telah kehilangan kepolosan kita dalam mempercayainya. Baik konvensi internasional tidak dapat melindungi mereka yang tidak bersalah—karena pada akhirnya berada di tangan mereka yang menciptakan kepentingan, perbatasan, dan perjanjian—maupun peringatan dan seruan tidak dapat menghalangi arogansi sang tiran. Kata-kata—sekeras apa pun—juga tidak dapat menghentikan rudal kematian atau memulihkan mereka yang kehilangan rumah dan nyawa.
Kehidupan sebelum perang genosida berbeda dengan kehidupan yang kita jalani sekarang, karena topeng-topengnya telah koyak, atau—lebih tepatnya—dijatuhkan oleh para pemilik tanah dan hak. Para pemuja uang dan orang-orang yang mementingkan diri sendiri di antara massa, yang dulu membanggakan prinsip-prinsip kemanusiaan, kini rela menjual diri demi uang receh. Standar ganda yang berlapis-lapis dari mereka yang menguasai seni berbicara di depan umum, sambil diam-diam merestui ketidakadilan dan tetap bungkam tentang kebenaran, telah terbongkar.
Kehidupan sebelum perang genosida sama sekali tidak mirip dengan kehidupan yang kita jalani sekarang. Bahkan pandangan kita terhadap dunia telah berubah. Barat, yang prestisenya pernah kita junjung tinggi meskipun sering kali menipu, masih memandang kita sebagai koloni yang harus dikuras, pasar yang harus dikonsumsi, dan arena untuk penyelesaian krisisnya. Mereka meneriakkan slogan-slogan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan, tetapi mengucilkan kita dan mengabaikan segala hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan ketika menyangkut kita.
Perang pembantaian di Palestina telah merampas rasa aman yang takkan pernah kembali. Kini, kita dihantui kecemasan dan rasa keterasingan yang terus-menerus di dunia ini, yang tetap bungkam di hadapan kejahatan.
Kita malu membandingkan penderitaan kita dengan penderitaan mereka yang sedang diserang, tetapi kita berbagi luka yang sama dengan mereka, hati nurani yang tertusuk, dan harapan kepada Tuhan semata yang tak akan mengecewakan.[]
Tinggalkan Komentar