Info Sekolah
Minggu, 22 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
31 Januari 2026

Nabi yang Ummiy: Islam untuk Semesta

Sab, 31 Januari 2026 Dibaca 52x Kajian

Oleh: Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan



Allah Swt. berfirman, 


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan!” [Q.S. Al-Alaq: 1].


Ayat ini bercerita tentang perjalanan Muhammad Saw. dari manusia biasa menjadi sosok yang diutus oleh Allah Swt. sebagai nabi (pembawa kabar kebenaran) dan rasul (pembawa risalah ilahi) kepada umat manusia dan alam semesta.

Muhammad Iqbal, yang dikenal sebagai salah satu filsuf terbesar abad 20, membuat sebuah hipotesa bahwa alam ini, mengikuti sunnatullah, membutuhkan perubahan. Untuk menciptakan perubahan itu, maka harus ada harmoni supaya alam semesta ini kembali kepada fitrahnya yang sempurna. Di sini, yang dimaksud fitrah adalah adanya altsaqafah al-jadidah (kebudayaan baru) dan al-hadharah al-jadidah (peradaban baru) yang berlandaskan pada tauhid (penyatuan), yaitu kesatuan alam secara menyeluruh dan luruh.

Islam hadir sebagai dustur asasiy (undang-undang dasar) bagi hubungan harmonis antara manusia (makhluk mikro) dengan alam (makhluk makro). Islam adalah perangkat yang mampu menguatkan relasi keduanya sebagai makhluk yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta, yaitu Allah Swt..

Iqra` bismi Rabbika al-ladziy khalaq,” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan [makhluk]). Saat mendapat perintah ini, Nabi Saw. menjawab, “Ma ana bi qari`,” (Aku tidak bisa membaca). 

Dalam tradisi tafsir, “Ma ana bi qari`,” bukan hanya diartikan “tidak bisa membaca”, tetapi juga “tidak bisa menulis”. Sebab, orang yang tidak bisa membaca pasti tidak bisa menulis. Dari sini kemudian lahir istilah “ummiy” sebagai label bagi sosok Nabi Saw.. 

Namun di dalam surat lain, misalnya di surat al-Najm, disebut “syadid al-quwa“, bahwa Nabi Saw. mempunyai karakter yang kuat dan nalar yang kokoh. Pertanyaannya, apakah hal ini mengafirmasikan atau justru menegasikan bahwa Nabi Saw. tidak bisa membaca dan menulis? 

Beberapa mufassir mengatakan bahwa klaim Nabi Saw. “tidak bisa membaca dan menulis” bertentangan atau tidak sesuai dengan logika dan fakta sejarah. Secara logika, apakah mungkin Nabi Saw., tokoh terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah manusia, “tidak bisa membaca dan menulis”?

Baik di dalam al-Qur’an mau pun hadits tidak ada keterangan yang secara eksplisit menyatakan demikian. Justru, di antara empat sifat Nabi Saw. yang terkenal adalah fathanah (pintar dan cerdas). Artinya, mengatakan bahwa Nabi Saw. “tidak bisa membaca dan menulis” sama saja dengan menyebut beliau bodoh. Orang bodoh tidak layak menjadi nabi dan rasul.

Dihadapkan pada fakta sejarah, klaim tersebut juga langsung terbantahkan. Sepanjang menjalankan tugas sebagai rasul, terutama di Madinah, Nabi Saw. kerap mengutus sahabat-sahabat beliau untuk menyampaikan surat dari beliau kepada para raja dan pemimpin berbagai negeri di luar jazirah Arab.

Sebagai pemimpin, wajar jika Nabi Saw. tidak menulis sendiri surat-surat itu, melainkan beliau menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membantu menuliskannya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa beliau “tidak bisa membaca dan menulis”. Sebab, setelah ditulis, Nabi Saw. melihat surat itu untuk memeriksa dan mengoreksinya, sebelum akhirnya dikirimkan.

Penduduk Makkah pada waktu itu dikenal sebagai ahlul madan atau orang-orang yang berperadaban, suku yang sangat dihormati dan disegani di seluruh jazirah Arab, karena mereka adalah tujjar, kaum pedagang. Dan Nabi Saw. sendiri di masa mudanya pernah berprofesi sebagai pedagang dan menjadi orang kepercayaan Siti Khadijah karena kejujurannya.

Tidak mungkin beliau menjadi pedagang kalau “tidak bisa membaca dan menulis”. Sebab, kalau begitu, beliau akan mudah dibodohi dan ditipu, dan Siti Khadijah tidak mungkin mempercayakan bisnisnya kepada orang bodoh.

Jika demikian, apakah yang dimaksud dengan “al-Nabiy al-Ummiy” (Nabi yang Ummi) seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’an? Apakah yang dimaksud dengan “ummiy” adalah “buta huruf” alias “tidak bisa membaca dan menulis”? Ini perlu kita renungkan.

 “Ma ana bi qari`” (Aku tidak bisa membaca) yang diucapkan Nabi Saw., sebagai respon terhadap perintah “Iqra’” (Bacalah), bisa ditafsirkan dalam dua makna. Pertama, ucapan tersebut menandakan bahwa beliau memang benar-benar tidak bisa membaca. Kedua, ucapan tersebut menunjukkan bahwa beliau sebenarnya tidak tahu apa yang harus dibaca karena materi bacaannya tidak ada atau tidak terlihat.

Kita lihat proses turunnya wahyu pertama, Q.S. al-Alaq: 1 – 5. Pada suatu malam, ketika Nabi Saw. sedang bertahannuts di Gua Hira, tiba-tiba Malaikat Jibril as. datang dan mendekati beliau seraya memberi perintah, “Bacalah!” “Aku tidak bisa membaca!,” jawab Nabi.

Kemudian Malaikat Jibril merengkuhnya dengan kuat hingga beliau merasa lemah, lalu melepaskannya sambil berkata, “Bacalah!” Nabi tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Hal ini terulang hingga tiga kali. Hingga akhirnya, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama (Q.S. al-Alaq: 1 – 5) dari Allah Swt..

Cerita ini memperlihatkan bahwa Nabi Saw. bukan benar-benar tidak bisa membaca alias bodoh, tetapi karena beliau tidak tahu apa yang harus dibacanya. Makanya, Malaikat Jibril as. merengkuh beliau dengan kuat hingga tiga kali untuk memberitahu bahwa materi bacaannya tidak bisa dilihat dengan mata fisik (‘ayn al-jasad), tetapi dengan mata batin (‘ayn al-bashirah).

Terkadang, ketika menerima wahyu, Nabi Saw. sampai linglung bahkan pingsan. Wahyu Allah Swt. sangat berat, jasad manusia tidak akan mampu menampungnya. Hanya dengan batin Nabi Saw. bisa menerimanya dan kemudian bersemayam di hatinya.

Menurut Ibnu Katsir, di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Nabi Saw. disebut ummiy bukan karena beliau “buta huruf”, tetapi semata-mata karena beliau tidak pernah membaca kitab-kitab sebelum al-Qur’an dan tidak pernah menulisnya, yang menjadi bukti keaslian dan kebenaran risalah yang beliau bawa dari Allah Swt..

Kita harus bangga bahwa wahyu pertama dan perintah pertama Allah Swt. kepada Nabi Saw. adalah “Iqra’” (Bacalah), yang menunjukkan bahwa Islam dibangun bukan hanya dengan keimanan, melainkan juga dengan keilmuan. Allah Swt. berfirman, “Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat,” [Q.S. al-Mujadalah: 11].

Membaca adalah proses pencarian yang terus-menerus untuk menciptakan kebudayaan dan peradaban baru dalam rangka memastikan harmoni dan kesesuaian antara manusia dan alam semesta.[]



*) Disampaikan dalam program “Tadarus dan Doa Pagi” yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, Jumat, 16 Januari 2026.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar