Oleh: Ust. Irvan Ahmad Fauzi, S.Sos., Guru Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Bulan suci Ramadhan adalah kesempatan luar biasa untuk menanamkan kecintaan pada shalat dan puasa dalam diri anak-anak. Sangat penting untuk melatih mereka melaksanakan kewajiban agama yang agung ini, dengan mempertimbangkan usia dan kesehatan mereka. Tugas ini tidak mudah; dibutuhkan usaha signifikan, kesadaran edukatif, motivasi, dan rasa tanggungjawab.
Berikut adalah beberapan pedoman dan nasihat penting bagi para orangtua yang ingin melatih anak-anak mereka untuk shalat dan berpuasa selama bulan suci ini.
Persiapan dan Pembiasaan
Masa kanak-kanak bukanlah fase taklif (kewajiban menjalankan kewajiban agama), melainkan fase i’dad (persiapan), tadrib (pelatihan), dan ta’wid (pembiasaan), yang mengarah pada usia taklif setelah dewasa nanti. Hal ini memudahkan anak untuk melaksanakan tugas dan kewajiban agama.
Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang sangat baik untuk mulai melatih anak-anak melaksanakan shalat dan puasa, mengingat suasana spiritualnya yang kondusif, baik di rumah maupun di tempat ibadah.
Pelatihan Bertahap
Anak-anak sebaiknya dilatih berpuasa secara bertahap dan sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. Setiap tahun selama Ramadhan, anak-anak melihat orangtua, kerabat, tetangga, dan guru mereka berpuasa, yang dapat membuat mereka merasa iri dan ingin meniru. Karena itu, orangtua harus mendukung mereka dalam hal ini dan memanfaatkan kesempatan ini dengan mendorong mereka dan mengizinkan mereka berpuasa selama, katakanlah, dua jam atau beberapa jam di bulan Ramadhan.
Kemudian, orangtua dapat meningkatkan jumlah jam sesuai dengan kemampuan anak. Jika mereka ingin makan, orangtua harus mengizinkan mereka agar mereka memahami bahwa ini adalah urusan pribadi antara mereka dan Tuhan. Orangtua juga harus menghindari memarahi atau menghukum mereka jika mereka makan saat berpuasa.
Anak-anak dapat berpuasa selama beberapa hari dalam sebulan hingga tengah hari, kemudian hingga shalat Ashar, dan seterusnya hingga matahari terbenam. Pelatihan bertahap ini baik untuk anak-anak karena sesuai dengan usia dan daya tahan mereka.
Disarankan juga untuk membiasakan anak-anak dengan sahur (makan sebelum subuh) agar mereka memiliki energi yang cukup untuk menyelesaikan puasa. Di sini, merupakan tanggungjawab orangtua untuk memperhatikan makanan iftar (berbuka puasa) anaknya supaya tetap sehat.
Bimbingan dan Motivasi
Tidak boleh menggunakan paksaan atau kekerasan terhadap anak-anak kecil. Metode paling efektif dan bermanfaat untuk membiasakan anak-anak berpuasa dan mendorong mereka untuk melaksanakannya adalah melalui bimbingan dan pengajaran yang lembut, mengajarkan mereka bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam, dan bahwa Allah Swt. telah menetapkannya untuk manfaat duniawi dan ukhrawi. Kemudian, mereka harus didorong untuk mengambil inisiatif berpuasa selama bulan Ramadhan.
Ada baiknya juga memberikan insentif kepada anak-anak untuk mendorong mereka sesuai dengan aspirasi masing-masing, dengan mengingat bahwa anak-anak umumnya menyukai imbalan langsung. Ini memotivasi mereka dan membuat mereka terus melakukan ibadah hingga mereka memasuki usia taklif saat baligh nanti.
Kesempatan untuk Berpartisipasi
Anak-anak juga harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam memilih makanan yang akan disiapkan untuk berbuka puasa. Ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan partisipasi dalam hidangan Ramadhan, mendorong mereka untuk menerima puasa sebagai pahala atas partisipasi mereka.
Mereka juga dapat berkontribusi dalam mendekorasi rumah dengan barang-barang rumah tangga sederhana yang menonjolkan keindahan Ramadhan, baik di meja makan maupun di berbagai sudut rumah.
Membacakan Cerita
Para orangtua juga harus menceritakan kisah tentang Ramadhan dan puasa kepada anak-anak mereka sebelum tidur. Ini membantu anak-anak memahami konsepnya dengan lebih baik dan memperkuat gagasan puasa dalam diri mereka.
Kesabaran dan Kesederhanaan
Anak-anak harus diajarkan bahwa puasa mengajarkan kesabaran dan mengurangi amarah, serta pentingnya menghindari kata-kata kasar. Mereka juga harus diajarkan bahwa puasa membuat kita berempati dengan kelaparan yang dialami oleh kaum miskin yang kekurangan uang dan makanan. Anak-anak harus diajarkan untuk tidak menyiapkan terlalu banyak hidangan di meja dan menghindari pemborosan makanan, serta berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan.
Seorang anak dapat dididik untuk merasakan nilai dan pentingnya Ramadhan dengan mendorongnya untuk menyumbangkan sebagian pakaiannya atau sebagian uang sakunya kepada kaum miskin, sehingga ia merasakan pentingnya berbuat baik kepada kaum miskin dan diajarkan bahwa ini adalah kewajiban bagi setiap individu yang mampu membantu mereka yang membutuhkan.
Fase Belajar Shalat
Sangat penting bagi orangtua melaksanakan shalat berjamaah dan shalat Tarawih di rumah, selain mengajarkan anak-anak untuk mendengarkan dengan saksama ketika mendengar adzan dan suara kanon yang menandakan berbuka puasa, dan untuk memulai dengan mengucapkan “Bismillah” dan doa.
Orangtua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Bagaimana anak-anak diharapkan untuk shalat ketika mereka melihat kedua orangtua mereka, atau salah satu dari mereka, mengabaikan shalat untuk menonton televisi atau berbaring untuk beristirahat?
Orangtua juga harus menceritakan kepada anak-anak mereka tentang kehidupan para nabi dan orang-orang saleh, dan bagaimana mereka beribadah dan berperilaku. Namun, orangtua harus berhati-hati agar tidak mengancam atau menghukum anak-anak tanpa terlebih dahulu mendengar alasan di balik pengabaian shalat mereka.
Ketika seorang anak pertama kali menyadari lingkungan sekitarnya, orangtua harus memintanya untuk berdiri di samping mereka selama shalat. Ketika anak melihat orangtuanya shalat, ia akan menirunya.
Fase sebelum usia tujuh tahun adalah persiapan shalat, di mana anak-anak mempelajari hukum dasar thaharah (bersuci) dan menghafal beberapa surat pendek al-Qur’an. Anak-anak tidak boleh diwajibkan untuk melaksanakan shalat lima waktu sebelum usia tujuh tahun.
Fase terakhir adalah antara usia tujuh dan sepuluh tahun. Selama periode ini, anak-anak mempelajari hukum-hukum thaharah, beberapa doa yang berkaitan dengan shalat, dan mempelajari tawadhu‘ (kerendahan hati), hudhur al-qalb (kehadiran hati), dan gerakan minimal selama shalat, dengan syarat orangtua memperkenalkannya secara bertahap tanpa paksaan karena usia mereka yang masih kecil.[]
Tinggalkan Komentar