Info Sekolah
Minggu, 22 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
17 Desember 2025

Kunjungan Reses Anggota DPR RI H. Rokhmat Ardiyan, M.M. di Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan

Rab, 17 Desember 2025 Dibaca 62x Berita

KUNINGAN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI, H. Rokhmat Ardiyan, M.M., melakukan kunjungan reses di Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan. Momentum ini dimanfaatkannya untuk bersilaturahim dan berdialog dengan masyarakat guna menampung aspirasi yang nantinya akan dijadikan pokok pikiran anggota DPR dan disampaikan ke pemerintah pusat.

Kunjungan reses sendiri adalah kegiatan rutin anggota dewan (DPR/DPRD) di luar masa sidang untuk mengunjungi Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing guna menyerap, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi serta pengaduan masyarakat secara langsung, sebagai wujud perwakilan rakyat dan pertanggungjawaban moral-politis kepada konstituennya. Ini adalah masa kerja di luar gedung parlemen untuk mendengarkan keluhan, usulan, dan masukan rakyat.

Hadir dalam acara ini Dr. K.H. Aang Asy’ari, Lc., M.S.I., Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Kiai Dadan Rohmatun Ramdan, Lc., Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab. Kuningan, Dr. K.H. Aminuddin S.H.I., M.A., Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab. Kuningan, AKBP Muhammad Ali Akbar, S.I.K., S.Si., M.Si., Kapolres Kuningan, para kiai, alim ulama, dan tokoh masyarakat.

Kiai Dadan Rohmatun Ramdan, Lc. dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada H. Rokhmat Ardyan, M.M., “Terima kasih kepada H. Rokhmat Ardyan, M.M., yang selama ini selalu intens berkomunikasi dengan seluruh elemen masyarakat. Ini harus kita dukung, untuk menyusun program-program yang pro rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, memang sudah seharusnya pemerintah sebagai ulil amri turun ke bawah untuk melihat kondisi rakyatnya. Ia menegaskan, “Ulil amri itu ada dua, ulama dan umara. Kalau keduanya ini bersatu, Insya Allah negara akan aman dan damai.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Dr. K.H. Aminuddin S.H.I., “Terima kasih atas kehadiran Bapak Rokhmat di tengah-tengah kita. Mari kita support gerakan Pak Ardyan. Reses ini sebagai muhasabah. Jadi Pak Ardyan hadir di tengah-tengah kita ini dalam rangka untuk muhasabah, melihat sejauh mana program-program yang dicanangkan memberikan manfaat yang semaksimal mungkin bagi masyarakat,” tuturnya.

Pada kesempatan ini Dr. K.H. Aang Asy’ari, Lc., M.S.I. hadir sebagai pemateri. Dalam paparannya ia menyampaikan hubungan agama dan negara, bahwa di Indonesia, perdebatan mengenai hubungan agama dan negara sudah selesai. Para pendiri bangsa, yang terdiri dari para ulama dan kiai, sudah menerima dan mengakui PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945).

“Di Indonesia, NU dan Muhammadiyah selalu kompak. NU dan Muhammadiyah tidak pernah mempertanyakan hubungan agama dan negara. Kedua ormas besar ini mengakui Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI sebagai bentuk negara,” paparnya.

Kiai Aang mengatakan, bahwa Muhammadiyah mengakui Pancasila sebagai Darul Ahdi wa al-Syahadah (Negara Kesepakatan dan Persaksian) yang berarti Indonesia adalah negara yang lahir dari kesepakatan dan komitmen seluruh komponen bangsa, termasuk umat Islam, untuk membuktikan kesetiaan dan keterlibatannya dalam membangun negara melalui aksi nyata, bukan sekadar retorika, demi terwujudnya kemaslahatan bersama dan peradaban unggul.

Sedangkan NU, lanjutnya, adalah ormas Islam pertama yang mendeklarasikan diri menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi pada tahun 1983/1984 melalui Muktamar Situbondo, dengan pemahaman bahwa Pancasila adalah kesepakatan kebangsaan (mu’ahadah wathaniyah) yang sesuai dengan nilai Islam.

“Hal ini membuktikan bahwa Pancasila merupakan titik temu antara komitmen keislaman dan kebangsaan, yang diwujudkan dengan partisipasi aktif membangun bangsa. Indonesia bukan negara sekuler (tidak memisahkan total) dan bukan pula negara agama (tidak berdasar satu agama), melainkan ‘negara berketuhanan’ yang menyediakan ruang bagi semua agama untuk berkembang dalam harmoni,” imbuhnya.

Ia menegaskan, di Indonesia, hubungan agama dan negara bersifat simbiosis mutualisme dan harmonis, di mana agama menjadi sumber moral serta nilai kehidupan berbangsa, sementara negara menjamin kebebasan beribadah dan memberikan ruang bagi praktik keagamaan. Artinya, agama dan negara adalah dua kekuatan besar yang saling membutuhkan dan melengkapi untuk mewujudkan kehidupan berbangsa yang beradab, bermoral, dan sejahtera.

“Di dalam Islam tidak ada perintah untuk mendirikan negara Islam. Yang ada hanya perintah menjalankan syariat Islam. Oleh karena itu, kita jangan lagi mempertentangkan antara agama dan negara. Bayangkan, energi kita habis hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak subtansial seperti hubungan agama dan negara. Sementara negara-negara Barat dan Eropa sudah sampai di bulan, bahkan sudah berencana membuat tempat tinggal di bulan,” tuturnya.

Sementara itu, H. Rokhmat Ardiyan, M.M. menyebutkan bahwa sinergi antara pemerintah dan ulama merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Keterlibatan seluruh elemen bangsa, terutama para ulama, dalam membangun negeri ini, akan mempermudah bagi program-program pemerintah mencapai tujuannya.

“Berkat dukungan para kiai, ulama, dan tokoh masyarakat, banyak sudah program pemerintah yang sudah terealisasikan dengan baik dan tepat sasaran. Baru-baru ini kami melakukan pemasangan listrik gratis, di Kuningan ini masih ada 3000 keluarga yang belum terjangkau listrik. Doakan juga kami sedang mencanang program RLH (Rumah Layak Huni), karena masyarakat kita masih banyak yang tinggal di rumah-rumah yang tidak layak huni (Rutilahu),” katanya.

Selain itu, lanjutnya, jalan pedesaan, puskesmas, dan rumah sakit, sekolah rakyat, akan menjadi prioritas pembangunan di daerah agar masyarakat terbebas dari kemiskinan.

“Musuh terbesar bangsa ini adalah kemiskinan. Kenapa miskin? Karena banyak korupsi, sehingga pembangunan tidak merata, kesenjangan antara kaya dan miskin semakin melebar. Makanya kita perlu mengadakan istighatsah, berdoa bersama, taubatan nasuha, agar bangsa ini diberkahi dan dirahmati oleh Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, saya menyampaikan terima kasih kepada ulama dan kiai karena telah banyak membantu pemerintah (1) membentuk karakter umat, (2) menjaga Pancasila, (3) menjaga NKRI, dan (4) menjaga keragaman sehingga masyarakat bisa hidup rukun dan pembangunan berjalan sesuai dengan harapan kita semua,” jelasnya.

Legislator Partai Gerindra ini meminta doa dari semua pihak agar senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk bekerja melayani rakyat. Melalui reses ia berharap dapat menyerap aspirasi warga untuk selanjutnya diusulkan pada sidang paripurna. “Saya ingin menjadi pejabat yang jujur seperti para pahlwan dan pemimpin bangsa ini yang selalu tulus mengabdi untuk negeri tanpa pamrih,” tandasnya.[RG]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar