Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Di kota Bosanski Šamac, yang terletak di antara Sungai Bosna dan Sava, di sebuah rumah sederhana yang dipenuhi kenangan hidup, keluarga, penyakit, dan buku, Alija Ali Izetbegovic lahir. Masa kecilnya di sana singkat; keluarganya pindah ke Sarajevo saat ia berusia dua tahun, dan di sanalah kesadaran pertamanya akan makna iman dan keraguan, serta interaksi antara kelemahan fisik dan kekuatan spiritual, mulai bersemi.
Masa-masa awal hidupnya di Sarajevo sangat berwarna karena keberagaman agama dan etnis yang intens, masa ketika desa-desa kecil di Bosnia menyatukan umat Muslim, Kristen Ortodoks, dan Katolik dalam harmoni pedesaan yang alami, sebelum politik mengganggu kedamaian tersebut.
Di desa Azicci, tempat ia menghabiskan musim panasnya, Izetbegovic belajar bahwa pluralisme itu mungkin dan koeksistensi itu alami, sebelum kemudian menyadari bahwa sektarianisme dan nasionalisme diciptakan di kantor-kantor kekuasaan, bukan di desa dan ladang.
Sebagai bagian dari minoritas Muslim di jantung masyarakat yang beragam, bermuatan etnis, dan penuh kecurigaan, ia menyaksikan konflik sehari-hari antar kelompok, yang memperkuat rasa tanggungjawabnya terhadap komunitasnya.
Pengalaman awal ini menanamkan dalam diri Izetbegovic rasa kesadaran kolektif dan tanggungjawab moral yang kuat, sekaligus memungkinkannya memahami kompleksitas politik dan masyarakat sebelum memasuki dunia politik yang sesungguhnya.
Penyakit parah ayahnya selama Perang Dunia I meninggalkan bekas yang mendalam di jiwanya, menjadikannya, sejak usia muda, seorang saksi akan rapuhnya hidup dan dalamnya tanggungjawab manusia terhadap sesama, terutama ketika ia melihat ibunya—seorang perempuan salehah dan taat beribadah—dengan sabar dan setia merawat ayahnya yang cacat. Dari pengalaman awal ini, refleksi pertamanya tentang makna tugas dan welas asih lahir, konsep-konsep yang kemudian menjadi bagian integral dari filosofinya.
Izetbegovic bukan sekadar politisi atau pemikir yang terlepas dari masyarakatnya, melainkan sosok yang karakternya mencerminkan sejarah bangsanya, seorang laki-laki yang menjadikan pemikiran sebagai alat untuk bertindak, dan tindakan sebagai perwujudan prinsip. Ia muncul dari perang bukan sebagai pemimpin yang menang atau filsuf yang kalah, melainkan sebagai manusia yang sepenuhnya berpengalaman.
Dalam hidupnya, ia mewujudkan kesatuan langka antara pikiran dan tindakan, antara pena dan pedang, antara iman dan politik. Mungkin inilah sebabnya salah satu muridnya menulis setelah kematiannya: “Alija Izetbegovic adalah orang terakhir yang memperjuangkan sebuah ide, dan orang terakhir yang menulis sambil berdarah.”
Izetbegovic mengajarkan kita bahwa martabat tidak diraih melalui balas dendam, dan bahwa kekuasaan yang tak terkendali oleh moralitas menjadi bentuk kelemahan. Ia mengajarkan kita bahwa kemenangan terindah adalah bangkit dari pertempuran tanpa mengorbankan diri sendiri.
Dalam salah satu kunjungannya ke Sarajevo setelah perang, Presiden Prancis Jacques Chirac menggambarkan Izetbegovic sebagai “tokoh Eropa Timur yang mengingatkan kita bahwa nilai-nilai tidak mati, bahkan di tengah pembantaian… Ia bukan sekadar pemimpin, tetapi suara hati nurani di Balkan.”
Dari Masa Kanak-kanak Hingga Pemberontakan Iman Pertama
Di masa remajanya, skeptisme mulai menyusup ke dalam keyakinan awalnya. Ia terpapar buku-buku Marxis dan propaganda komunis yang melanda Yugoslavia menjelang Perang Dunia II. Ia membacanya dengan penuh semangat, merenungkan gagasan keadilan sosial dan masalah kejahatan. Ia bertanya: Apakah Tuhan benar-benar berpihak pada kaum tertindas? Ataukah—seperti yang diklaim secara keliru oleh kaum komunis—berpihak pada kaum berkuasa?
Namun, keraguannya tidak bertahan lama. Sebagaimana ia tulis kemudian, skeptisme ini menjadi pintu gerbang menuju keyakinan yang lebih dalam dan mendalam, bukan lagi warisan emosional, melainkan pengalaman intelektual eksistensial yang ia alami sendiri. Dari titik inilah, apa yang kemudian ia sebut “iman yang sadar”—iman yang mengalir melalui akal budi, bukan melawannya—mulai terbentuk.
Pada tahap itu, dunia filsafat Eropa terbuka baginya; ia membaca Kant, Bergson, dan Spengler, dan mendalami gagasan evolusi kreatif, sebuah dialog kritis dengan teori Darwin dan teori akal murni. Di tengah semua ini, ia terus mencari hubungan antara pemikiran Barat modern dan semangat Islam, antara filsafat kebebasan dan keadilan dengan konsep pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Di sinilah, benih-benih proyek intelektualnya mulai terbentuk, yang kemudian melahirkan sebuah karya sebagai esensi pemikirannya, Islam Between East and West.
Di tengah Perang Dunia II, Izetbegovic lulus SMA pada tahun 1943, ketika Yugoslavia dilanda perpecahan. Ia menolak bergabung dengan tentara Ustaše Kroasia yang pro-Nazi, mengelak wajib militer dan bersembunyi dari pihak berwenang, berpindah-pindah antara Sarajevo dan Posavina. Pengalaman ini menjadi pelajaran awal tentang makna kebebasan individu dan pemberontakan moral melawan otoritas yang menindas, yang kemudian menjadi ciri khas filsafat politiknya.
Setelah perang, dengan bangkitnya rezim komunis di bawah Presiden Tito, Izetbegovic terlibat dengan gerakan Muslim Muda, yang mewujudkan generasi baru kesadaran Islam yang berupaya menghidupkan kembali pemikiran keagamaan dari dalam era modern, bukan dari luarnya. Gerakan ini bertujuan untuk memperbarui pemikiran keagamaan dan membebaskannya dari otoritas “orang asing” tradisional, serta menampilkan Islam sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang menentang fasisme dan komunisme.
Namun, kesadaran baru ini cukup untuk membuat Izetbegovic dipenjara untuk pertama kalinya pada tahun 1946, di mana ia menghabiskan tiga tahun kerja paksa. Di penjara itulah, di balik dinding-dinding abu-abu itulah, awal mula pemikiran filosofisnya yang mendalam terbentuk. Ia keluar dari penjara bukan dengan perasaan hancur, melainkan lebih teguh, seolah-olah ia telah mulai menulis proyek intelektualnya di dalam dirinya sendiri sebelum menuliskannya di atas kertas.
Setelah bebas, Izetbegovic mencoba mempelajari teknik pertanian sebelum beralih ke hukum, karena ia terus memandang hukum sebagai kerangka kerja yang menghubungkan keadilan dengan moralitas, dan akal budi dengan iman. Secara eksistensial, ia selalu merasa hidup di dua era yang berbeda: era kepastian yang tak tergoyahkan yang diwakili oleh dunia Newton, dan era relativitas yang diresmikan oleh Einstein.
Dari Penjara Menuju Ide
Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1949, Izetbegovic, seorang pemuda berusia 24 tahun, keluar dari sel dengan iman yang baru kepada Tuhan dan kemanusiaan. Baginya, iman bukan lagi warisan keluarga, melainkan sebuah pengalaman eksistensial yang harus ia bayar mahal.
Izetbegovic bukanlah seorang pemberontak terhadap rezim komunis, melainkan seorang pemberontak terhadap gagasan tirani dalam segala bentuknya, baik dari sayap kanan maupun kiri, dari otoritas partai maupun kekakuan lembaga keagamaan.
Ia memilih untuk menjalani kehidupan yang relatif tenang, jauh dari sorotan politik. Ia mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Sarajevo, tempat ia mulai mengembangkan perangkat intelektualnya dan mendalami studi filsafat dan hukum perbandingan, khususnya filsafat negara modern dan hak asasi manusia.
Bagi Izetbegovic, hukum lebih dari sekadar profesi; hukum adalah sistem etika untuk mengatur kebebasan. Setelah lulus, ia bekerja di beberapa lembaga hukum, tetapi ia tidak pernah meninggalkan proyek intelektual batinnya. Ia terus menulis secara diam-diam, mencatat pengamatannya, dan membaca ulang tradisi Islam dan Barat melalui lensa komparatif dan inovatif.
Izetbegovic menikah dengan Khalida, seorang perempuan pendiam yang tulus berbagi kesabaran dengannya yang telah lama mendekam di balik teruji, dan mereka dikaruniai tiga orang anak: Lejla Aksamija, Sabina Berberovic, dan Bakir Izetbegovic.
Di rumah, Izetbegovic adalah seorang suami yang rendah hati dan ayah yang penyayang, duduk bersama anak-anaknya untuk berbincang dan membaca, dan sering berbagi refleksinya tentang penjara dan kehidupan. Ia tidak ingin mereka menanggung kepahitan pengalamannya, melainkan hanya kesadaran akan hal itu.
Pada tahun 1950-an dan 60-an, di masa muda Izetbegovic, Yugoslavia pluralistik yang dibangun oleh Josip Broz Tito hidup di bawah paradoks yang unik: keterbukaan yang relatif terhadap Barat sementara rezim tersebut mempertahankan cengkeraman kuat pada kebebasan berpikir.
Dalam iklim ini, Izetbegovic menulis artikel-artikel filosofis pertamanya tentang Islam sebagai perspektif peradaban yang komprehensif, menyerukan penafsiran ulang agama berdasarkan kemanusiaan modern. Hal ini kembali membawanya berkonflik dengan kalangan intelektual dan politik.
Suara Izetbegovic mulai meresahkan rezim, dan pada tahun 1983, otoritas Yugoslavia menangkapnya dalam apa yang kemudian dikenal sebagai “pengadilan intelektual Muslim”, menuduhnya dan sekelompok intelektual lainnya “berusaha membangkitkan kembali nasionalisme Islam”.
Tuduhan terhadap Izetbegovic lebih bersifat intelektual daripada politis, dan ia dijatuhi hukuman 14 tahun penjara. Di sana, di selnya di penjara Zenica, ia menulis buku terkenalnya, My Escape to Freedom, sebuah kumpulan refleksinya tentang waktu, kematian, hati nurani, eksistensi, dan keadilan dari penjara.
Selama tahun-tahun kelam itu, penjara menjadi laboratorium bagi pikiran dan jiwanya. Ia menulis dalam buku hariannya: “Penjara tidak melahirkan pahlawan, tetapi penjara mengungkapkan karakter sejati seseorang. Hanya di sanalah Anda benar-benar tahu siapa diri Anda, melampaui penampilan dan rasa takut.”
Dengan begitu, di penjara, Izetbegovic menjadi simbol intelektual taat yang menolak mengorbankan kebebasan batinnya, dan namanya bergema di kalangan mahasiswa dan pemikir di Sarajevo dan kota-kota Bosnia lainnya seperti Tuzla dan Mostar.
Penjara bukan sekadar hukuman fisik, melainkan kesempatan untuk mengasah kesadaran dan mempraktikkan gagasan. Di balik jeruji, Izetbegovic menghadapi tekanan fisik dan psikologis, tetapi ia mengubahnya menjadi kesempatan untuk membaca ulang sejarah dan pemikiran Islam, serta merenungkan posisi Bosnia dalam struktur kekuasaan global. “Dinding-dinding di sekeliling saya tidak menghalangi pikiran saya untuk membumbung tinggi, juga tidak memadamkan api kebebasan yang lahir di hati manusia,” ujarnya.
Sidang Izetbegovic yang terkenal di Sarajevo pada tahun 1983 menandai titik balik dalam hidupnya, yang menyingkap dimensi baru bagi persona intelektual dan politiknya. Sidangnya di Sarajevo bukan sekadar proses hukum, melainkan konfrontasi simbolis antara negara dan pemikiran, serta antara kekuasaan dan prinsip-prinsip moral.
Di ruang sidang, Izetbegovic menggunakan argumen hukum dan intelektual, menegaskan bahwa membela identitas agama dan budaya bukanlah kejahatan, dan bahwa berpikir kritis tidak dapat dianggap sebagai ancaman politik: “Suatu bangsa tidak dapat bertahan hidup jika kehilangan hak untuk berpikir bebas. Berpikir adalah garis pertahanan pertama melawan ketidakadilan dan perbudakan.”
Seorang komentator Barat menulis tentang persidangan tersebut: “Izetbegovic mungkin berada di ruang sidang, tetapi ia bukan sekadar terdakwa; ia adalah seorang laki-laki yang mengubah kekangan menjadi platform untuk berpikir, dan keheningan menjadi wacana moral.”
Peran Historis Izetbegovic
Dengan runtuhnya Yugoslavia di penghujung tahun 1980-an, Izetbegovic mendapati dirinya terpanggil untuk memainkan peran historis yang tak pernah ia inginkan. Pada tahun 1990, ia mendirikan Partai Aksi Demokratis (SDA), sebuah partai sekuler berhaluan Islam, yang mengusung slogan “Agama untuk individu, politik untuk masyarakat,” yang memperjuangkan negara sekuler pluralistik yang menghormati agama dan kebangsaan.
Pada Pemilu 1990, Partai Aksi Demokratis memenangkan mayoritas besar, menjadikan Izetbegovic presiden pertama Republik Bosnia dan Herzegovina yang merdeka setelah pecahnya Yugoslavia.
Namun, angin nasionalisme dan konflik tak luput dari proyek Izetbegovic. Pada April 1992, perang agresi melawan Bosnia dimulai, salah satu tragedi paling mengerikan di Eropa modern. Izetbegovic mendapati dirinya memimpin negara yang masih muda dan terkepung, tanpa tentara reguler atau dukungan internasional yang tulus.
Izetbegovic memimpin rakyatnya dengan keteguhan moral yang langka, berulang kali menyatakan, “Kita mungkin dipaksa berperang, tetapi kita tidak akan dipaksa menjadi kebencian.” Ia menolak membiarkan perlawanan berubah menjadi balas dendam, atau membiarkan Islam menjadi sekadar slogan politik.
Izetbegovic bukanlah seorang filsuf yang mengamati tragedi dari jauh; ia menjadi bagian integral dari sejarah yang sering ia renungkan. Ia memikul beban membela bangsa yang terluka dan menghadapi musuh yang lebih mahir membunuh daripada memahami. Bahkan di tengah tragedi itu, ia tetap memperjuangkan moralitas, menyatakan dalam salah satu pidatonya di tengah reruntuhan: “Kita berjuang bukan karena kita membenci mereka yang telah memilih menjadi musuh kita, tetapi karena kita ingin hidup bermartabat.” Frasa ini merangkum filosofi hidupnya: mengubah rasa sakit menjadi sarana untuk menemukan kembali makna.
Kepemimpinan Izetbegovic di Bosnia dan Herzegovina selama perang 1992-1995 merupakan ujian terberat bagi filosofi ini. Sebagai presiden pertamanya, ia mendapati dirinya memimpin sebuah negara yang masih muda, dikepung oleh pasukan yang unggul dalam perlengkapan dan jumlah, sementara komunitas internasional tampak terlibat, atau setidaknya tak berdaya.
Izetbegovic adalah pemimpin pasukan yang berlandaskan hati nurani. Ia percaya bahwa tentara Bosnia harus berbeda dari musuh-musuhnya, tidak hanya dalam perlengkapan tetapi juga dalam moralitas. Ia menolak gagasan balas dendam, percaya bahwa kemenangan yang dibangun di atas kebencian membawa benih-benih kekalahannya sendiri.
Sementara itu, kesaksian para prajurit Bosnia yang bertempur di bawah panji Izetbegovic mengungkapkan dimensi lain: mereka memandangnya lebih sebagai “bapak spiritual” daripada seorang komandan militer. Ia akan mengunjungi garis depan dan duduk bersama para pemuda di parit, menyapa mereka terkadang dengan bahasa agama, terkadang dengan bahasa kebebasan.
Izetbegovic berulang kali mengatakan kepada para prajuritnya bahwa “perang yang adil tidak membenarkan ketidakadilan, dan bahwa ketika kita berperang, kita harus menjaga kemanusiaan dalam diri kita.” Dengan demikian, pasukannya menjadi sekolah etika, alih-alih mesin perang, berjuang untuk mempertahankan eksistensi tanpa melupakan makna perang yang manusiawi.
Mungkin aspek terindah dari filosofi Izetbegovic dalam mengelola konflik adalah kemampuannya untuk mengubah luka menjadi kesadaran. Ia tidak membiarkan rasa sakit berubah menjadi kebencian, melainkan menjadikannya sumber pemikiran dan transendensi.
Izetbegovic sering mengulang pepatah terkenalnya: “Rasa sakit adalah sekolah terbesar umat manusia.” Dari rahim rasa sakit itulah lahir gagasannya tentang sebuah negara yang dibangun tidak hanya di atas kemenangan militer, tetapi juga di atas rekonsiliasi moral. Ia ingin Bosnia menjadi bangsa yang dibangun di atas moralitas, bukan bangsa yang tanpa moralitas.
Dalam negosiasi Dayton, di mana kata-kata lebih berbahaya daripada peluru, Izetbegovic membuktikan bahwa seorang filsuf bisa lebih mahir mengelola konflik daripada seorang jenderal. Ia berbicara bukan sebagai pemenang atau pecundang, melainkan sebagai manusia yang menginginkan keadilan sebelum perdamaian, dan martabat sebelum konsesi. Ia tahu bahwa beberapa pertempuran tidak dimenangkan di atas kertas, melainkan di dalam hati nurani.
Berbicara kepada lawan-lawannya di salah satu sesi, Izetbegovic berkata, “Kalian bisa membagi tanah, tetapi kalian tidak bisa membagi kebenaran”—sebuah kebenaran yang ia pegang teguh bahkan setelah perjanjian ditandatangani, karena ia memahami bahwa membangun bangsa tidak dimulai dengan peta, tetapi dengan membangun pribadi yang percaya pada keadilan.
Sikap teguh Izetbegovic dalam perang dan damai membuatnya dikritik secara luas, tidak hanya dari lawan-lawannya, tetapi bahkan dari dalam kubu Bosnia sendiri. Beberapa intelektual Bosnia meyakini bahwa Izetbegovic memberikan konsesi yang berlebihan dalam negosiasi Dayton tahun 1995, menerima pengaturan yang memecah belah negara berdasarkan garis etnis dan mengabaikan impian negara sipil yang bersatu. Penulis Bosnia, Ivo Komšić, salah satu rekan dekat Izetbegovic dalam negosiasi tersebut, mengenang Izetbegovic yang pernah berkata, “Keadilan tidak selalu mungkin, tetapi kita harus memilih yang lebih kecil dari dua kejahatan.”
Pendekatan ini mencerminkan pragmatisme Izetbegovic, tetapi juga menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang keterbatasan politik dalam menghadapi keseimbangan kekuasaan. Dengan berakhirnya perang agresi melawan Bosnia dan Herzegovina dan ditandatanganinya Perjanjian Dayton, peran Izetbegovic tidak berakhir.
Warisan politik dan intelektual Izetbegovic telah menjadi subjek perdebatan yang berkelanjutan di kalangan generasi baru, antara mereka yang memandangnya sebagai simbol kebebasan dan pluralisme, dan mereka yang meyakini bahwa ia meninggalkan warisan kompleks yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan politik.
Di Bosnia, yayasan intelektualnya, Yayasan Alija Izetbegovic, telah menjadi pusat pengajaran nilai-nilai kewarganegaraan dan demokrasi, serta menjadi sumber daya bagi para peneliti muda yang mempelajari cara menyelaraskan identitas agama dengan keterbukaan modern.
Seorang peneliti yang mempelajari tulisan-tulisan Izetbegovic berkata, “Ia mengajarkan kami bahwa kebebasan tidak hanya dilindungi oleh hukum, tetapi oleh kesadaran moral dan kapasitas untuk berdialog.”
Di Bosnia juga, Izetbegovic dianggap sebagai salah satu pendiri negara modern, seorang pria yang, dalam situasi luar biasa, berhasil menyelaraskan pelestarian identitas nasional dengan pluralisme agama. “Sebuah bangsa tidak dibangun hanya dengan besi, tetapi dengan kesadaran, nilai-nilai, dan kapasitas untuk berdialog.”
Salah satu intelektual Bosnia sezamannya berkomentar bahwa Izetbegovic “menjalani dua kehidupan dalam satu hari: kehidupan seorang pria yang duduk dengan buku-buku dan bergelut dengan filsafat, dan kehidupan seorang pemimpin yang duduk bersama para jenderal dan berpidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)”.
Dalam kontradiksi ini terletak kekuatan Izetbegovic, tetapi juga menjadi sumber kontroversi yang tak berkesudahan. Di satu sisi, ia menanamkan dimensi moral yang langka dalam politik selama masa perang dan pembersihan etnis. Di sisi lain, para penentangnya, terutama orang Serbia dan Kroasia, menuduhnya menggunakan hak asasi manusia dan wacana moral sebagai kedok belaka untuk menghidupkan kembali proyek nasionalis Bosnia-Islam, dan sebagai “seorang negarawan yang menggunakan agama untuk membenarkan kekuasaan”.
Moralitas sebagai Senjata
Izetbegovic tidak memisahkan iman dari perbuatan, pikiran dari kenyataan, mimpi dari takdir. Di era di mana slogan-slogan agung runtuh dan ideologi diwarnai oleh kepentingan pribadi, ia berdiri sebagai suara langka yang mengingatkan kita bahwa Islam bukanlah proyek politik atau sistem keyakinan yang kaku, melainkan visi universal yang merestrukturisasi hubungan antara Tuhan, umat manusia, dan dunia.
Izetbegovic adalah seorang filsuf yang unik, tidak seperti para pemikir Islam yang puas hanya dengan berteori, dan tidak seperti para politisi yang termakan pragmatisme. Ia tidak memandang Islam sebagai sistem kekuasaan, melainkan sebagai seruan untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk otoritas yang merusak martabatnya, baik itu otoritas tirani, otoritas kekayaan, maupun otoritas hawa nafsu. “Kebebasan adalah potensi moral umat manusia; artinya, kebebasan bukan sekadar hak, melainkan tanggungjawab.”
Dalam bukunya, Islam Between East and West, Izetbegovic menguraikan kontur sebuah proyek intelektual yang menghubungkan langit dan bumi tanpa melarutkan keduanya. Baginya, Timur melambangkan ruh, dan Barat melambangkan intelek, dan Islam adalah jembatan yang menyeimbangkan keduanya.
Oleh karena itu, filsafat etika Izetbegovic melampaui konflik geografis atau budaya, menjadi filsafat humanistik komprehensif yang berupaya menyelamatkan manusia modern dari keterasingannya di dunia materialistis yang telah kehilangan ruhnya.
Izetbegovic tulis dalam salah satu refleksinya: “Manusia modern kehilangan ruhnya demi materialisme, dan kemudian kehilangan materialisme karena ia kehilangan ruhnya.” Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa filsafat etika Izetbegovic merupakan sebuah revolusi diam-diam melawan pemikiran politik Islam yang dominan, yang terlalu terpaku pada bentuk dan mengabaikan substansi.
Namun, jika kita melihat melalui lensa pemikiran Islam kontemporer, kita akan menemukan Izetbegovic sebagai perpanjangan alami dari jalan yang dirintis oleh para pemikir reformis besar—dari Muhammad Abduh hingga Malik Bennabi—namun dengan formulasi baru yang bersumber dari pengalaman perang, bukan dari ruang kelas. Izetbegovic menambahkan dimensi eksistensial ke dalam pemikiran Islam yang sebelumnya tidak tampak jelas: dimensi yang memandang etika bukan sekadar kebajikan, melainkan sebagai senjata spiritual yang digunakan manusia untuk berjuang agar tetap bebas.
Izetbegovic pernah berkata, “Seorang Muslim sejati tidak boleh menjadi budak siapa pun, karena ia hanyalah budak Tuhan.” Pernyataan ini merangkum filosofi pembebasannya; yang berarti bahwa iman bukanlah suatu kendala, melainkan syarat pertama untuk kebebasan.
Izetbegovic memahami bahwa krisis umat Muslim bukan terletak pada agama itu sendiri, melainkan pada ketiadaan kesadaran moral akan agama. Oleh karena itu, ia menyerukan kebangkitan spiritual yang akan mengembalikan iman kepada logika humanistiknya dan menjadikan moralitas sebagai esensi politik, bukan hiasan lahiriahnya.
Dalam konteks ini, Izetbegovic menulis pernyataannya yang sangat penting: “Kita tidak membutuhkan lebih banyak Muslim, melainkan lebih banyak Islam di dalam diri Muslim.” Seolah-olah ia percaya bahwa jalan menuju renaisans tidak melalui slogan-slogan keagamaan, melainkan melalui transformasi agama menjadi sistem moral yang menghasilkan individu-individu yang bertanggung jawab, bebas, dan kreatif.
Izetbegovic tidak takut berdialog dengan Barat; sebaliknya, ia menyerukannya sebagai ujian moral bagi kedua peradaban. Ia tidak memandang Barat sebagai musuh, melainkan sebagai cermin yang perlu kita gunakan untuk melihat diri kita sendiri, dengan mengatakan: “Barat kuat karena mengandalkan kerja, dan kita lemah karena kita lupa bahwa kerja adalah ibadah.” Itulah kesadaran global yang muncul dari rahim tragedi Bosnia untuk menyapa masyarakat di era ini dalam bahasa moralitas.
Izetbegovic tetap menjabat sebagai Ketua Kepresidenan hingga tahun 2000, ketika ia memutuskan untuk mundur secara sukarela karena kesehatan yang menurun. Di masa tuanya, ia kembali merenung dan menulis, mencoba merebut kembali kesunyiannya setelah hiruk pikuk politik. Dalam salah satu wawancara terakhirnya sebelum wafat, ia berkata: “Saya adalah seorang pemikir yang terpaksa menjadi politisi, dan ketika pertempuran berakhir, saya kembali ke tempat alami saya: merenungkan makna kemanusiaan.”
Pengaruh Izetbegovic dalam Membentuk Balkan Modern
Izetbegovic telah menjadi tokoh penting, tidak hanya dalam sejarah Bosnia modern, tetapi juga dalam perjalanan seluruh kawasan Balkan. Ia membangun model kepemimpinan unik yang memadukan rasionalitas dan pengalaman praktis dengan nilai-nilai dan kepentingan yang realistis.
Secara politis, Izetbegovic meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam pembangunan negara Bosnia modern. Selama dan setelah perang, ia menunjukkan kemampuan langka untuk menyeimbangkan kepentingan tiga kelompok utama: Bosnia, Serbia, dan Kroasia.
Penerimaannya terhadap Perjanjian Dayton mencontohkan kebijaksanaan dan pragmatisme moral, menjaga persatuan negara yang baru lahir sambil menghormati keragaman komponennya. Hal ini mencegah disintegrasi Bosnia dan meninggalkan warisan keseimbangan kelembagaan yang terus memengaruhi struktur negara hingga saat ini.
Gagasan dan tulisan Izetbegovic memiliki dampak yang langgeng pada kesadaran sosial dan budaya masyarakat Bosnia. Proyek intelektualnya, yang memadukan modernitas Islam dengan dialog dengan Barat, menanamkan nilai-nilai saling menghormati dan komitmen etis dalam praktik politik kepada generasi-generasi berikutnya.
Dengan demikian, Izetbegovic menjadi simbol kemampuan untuk menyelaraskan identitas agama dengan keterbukaan intelektual, sebuah warisan yang terus tercermin di sekolah, universitas, dan wacana publik hingga saat ini.
Di tingkat regional dan internasional, kebijakan Izetbegovic mewujudkan visi negara merdeka dengan kekuatan pengambilan keputusan yang berdaulat, yang mampu berdialog dengan negara-negara besar tanpa tunduk pada hegemoni eksternal. Hubungannya dengan Washington, Brussel, Ankara, dan negara-negara Islam selama fase-fase tersulit perang menunjukkan bahwa Bosnia dapat menjadi negara pluralistik, yang mampu eksis dalam sistem internasional sambil mempertahankan identitasnya yang khas.
Dampak simbolis dan filosofisnya tak kalah signifikan dibandingkan dampak politiknya. Izetbegovic telah menjadi acuan bagi generasi-generasi baru di Balkan dan Eropa, tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai filsuf politik dan moral yang menarik garis tegas antara benar dan salah, serta antara kekuasaan dan ketundukan terhadap ideologi-ideologi yang menindas.
Warisan tersebut menjadi model pemikiran politik yang melampaui sekat-sekat etnis dan agama, yang menegaskan bahwa negara modern dapat dibangun di atas hukum dan institusi, bukan di atas dominasi atau represi.
Pada akhirnya, pengaruh Izetbegovic terhadap Balkan kontemporer tampak jelas dalam filsafat politik, struktur kelembagaan, dan kesadaran masyarakat sipil. Ia mewujudkan model seorang pemimpin yang tidak memisahkan pikiran dari tindakan, etika dari politik, atau individu dari warga negara.
Hal ini memunculkan pertanyaan sentral: Dapatkah dunia melihat pengalaman Izetbegovic, sang filsuf sekaligus pemimpin dan pejuang etika, di dunia di mana politik telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan berdasarkan moralitas dan perjuangan telah kehilangan kompas kebenarannya?
Beberapa orang mungkin menjawab bahwa keadaan saat ini sama sekali berbeda, dan bahwa pengalaman unik Izetbegovic tidak dapat ditiru. Namun, pengalaman ini tetap menawarkan pelajaran berharga bagi generasi mendatang, bukan untuk meniru kepribadiannya, melainkan untuk mengambil inspirasi dari nilai-nilai dan prinsip-prinsipnya.
Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada penggunaan kekuasaan untuk melayani kebenaran dan kemanusiaan, pada penegakan etika bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun, dan pada penegasan bahwa perjuangan politik dapat didasarkan pada filosofi yang jelas dan standar etika yang teguh.
Sebuah Bacaan Intelektual
Perjalanan intelektual Alija Ali Izetbegovic dimulai di lanskap multietnis dan multiagama Bosnia, tempat individu, masyarakat, dan kebutuhan akan kesadaran baru menemukan lahan subur untuk kritik dan refleksi. Karya intelektual pertamanya, The Islamic Declaration, menjadi gerbang dasar pemahamannya tentang hak-hak komunitas Muslim di Bosnia dan perannya dalam masyarakat multietnis dan multiagama.
Buku ini berfokus pada konsep kebebasan sebagai prinsip utama dan pentingnya Islam sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu menghadapi tantangan modern tanpa terjerumus pada ideologi-ideologi sempit. “Kebebasan intelektual dan beragama bukanlah kemewahan, melainkan syarat bagi kelangsungan hidup dan martabat bangsa.” Dalam buku ini, kita memahami dualitas esensial Izetbegovic: antara kesadaran moral dan filosofis dan ketajaman politik yang diperlukan untuk bertahan hidup di lingkungan yang bergejolak.
Di sinilah fondasi proyek intelektualnya di masa depan mulai muncul: menghubungkan etika dengan politik dan menganalisis masyarakat Muslim dari dalam, tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental. Karya ini memicu kontroversi yang cukup besar: di kalangan Bosnia, karya ini dirayakan sebagai landasan kesadaran nasional dan intelektual, sementara yang lain menganggapnya sebagai kedok untuk proyek nasionalis atau langkah menuju instrumentalisasi agama dalam politik.
Setelah itu, muncullah bukunya, Obstacles to Islamic Revival, yang merupakan kritik internal yang tajam terhadap masyarakat Muslim dan upaya untuk memahami penyebab fundamental keterbelakangan dan stagnasinya. Buku ini membahas beberapa topik: stagnasi intelektual, perpecahan sektarian, lemahnya kesadaran nasional, dan tantangan yang diwarisi dari kolonialisme intelektual dan historis. Ia menulis: “Bangsa ini tidak akan bangkit sampai ia menyadari bahwa kebangkitan dimulai dari dalam, dari kesadaran kita akan siapa diri kita, dan bukan dari peniruan buta atau perbudakan intelektual.”
Karya ini merupakan seruan untuk refleksi diri dan perubahan sosial, dan memicu perdebatan luas. Meskipun para pendukungnya menganggapnya sebagai upaya tulus untuk membangun kembali kesadaran Islam secara modern, yang lain melihatnya sebagai jalan potensial untuk menggunakan agama demi memajukan proyek politik tertentu. Di sinilah letak dualitas kritis dalam penerimaan pemikirannya, dualitas yang akan terus berlanjut dalam semua karya-karyanya selanjutnya.
Kemudian muncul memoarnya, My Escape to Freedom, di mana Izetbegovic mengubah penjara menjadi laboratorium bagi pemikiran dan pengalaman manusia. Memoar-memoar ini merepresentasikan dimensi filosofis dan eksistensial yang mendalam, karena ia menulis tentang pengalaman manusia dalam menghadapi kurungan dan ketidakadilan, dan tentang makna kebebasan moral, dengan menyatakan: “Kebebasan tidak diberikan, melainkan diusahakan, dan diperoleh melalui kesabaran dan kesadaran yang mendalam tentang apa artinya menjadi manusia.”
Dalam bukunya, Obstacles to Islamic Revival, Izetbegovic menempati posisi mediator antara mimpi dan tindakan, antara prinsip dan realitas. Ia tampil sebagai seseorang yang menghadapi dirinya sendiri sebelum menghadapi dunia; Ia tidak menulis teks ini untuk membangun utopia baru atau sekadar berteori, melainkan dengan semangat seseorang yang tahu bahwa kebangkitan tidak dicapai melalui retorika, melainkan melalui konfrontasi yang jujur terhadap hambatan-hambatan yang membebani bangsa.
Dalam karya ini, Izetbegovic menyajikan diagnosis yang tepat, hampir mirip dengan laporan medis, tentang sebuah peradaban yang melemah akibat kemerosotan selama berabad-abad, namun belum sepenuhnya kehilangan vitalitasnya. Ia berfokus pada sumber-sumber kelemahan: imitasi buta, interpretasi legalistik yang kaku, ketiadaan kebebasan politik, kelemahan lembaga pendidikan, dan ketidakmampuan untuk merangkul semangat zaman tanpa teralienasi. “Hambatan-hambatan” ini tidak hanya disajikan sebagai musuh eksternal, tetapi juga sebagai ranjau yang ditanam oleh umat Muslim sendiri, yang menjadi batu sandungan utama bagi setiap proyek kebangkitan.
Mungkin yang membedakan buku ini adalah Izetbegovic tidak mengadopsi narasi korban, juga tidak menggunakan teori konspirasi untuk membenarkan kegagalan. Sebaliknya, ia menyusun bukunya sebagai sebuah kritik diri yang berani, terkadang dengan bahasa yang kasar, tetapi bersumber dari kecintaan yang tulus terhadap Islam sebagai sebuah peradaban dan pesan, serta dari hasrat yang tulus untuk menghidupkannya kembali sebagai kekuatan spiritual dan moral di dunia. Di setiap halaman, kita menemukan dialog internal antara jati diri kolektif Islam dan tuntutan kebangkitan, sebuah dialog yang berosilasi antara kritik diri dan dorongan untuk kelahiran kembali.
Dalam Obstacles to Islamic Revival, Izetbegovic dengan tegas menyerukan rekonstruksi pemikiran Islam berdasarkan rasionalitas. Ia tidak memandang Renaisans hanya sebagai pengembalian formal ke masa lalu, atau sekadar asimilasi pasif ke Barat. Sebaliknya, ia berusaha memetakan jalan ketiga, yang berakar pada Islam yang autentik, sekaligus merangkul pencapaian-pencapaian kemanusiaan modern.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa buku ini merepresentasikan hubungan antara teori awalnya dalam The Islamic Declaration dan visi filosofisnya yang luas dalam Islam Between East and West. Oleh karena itu, Obstacles to Islamic Revival bukan sekadar buku kritik sosial atau yurisprudensi politik, melainkan kesaksian seorang intelektual yang terlibat dalam perjuangan untuk bertahan hidup, seorang pria yang mengalami pemenjaraan, penganiayaan, dan perang, dan muncul untuk dengan berani menyatakan bahwa Renaisans dimulai dari dalam sebelum dapat diselesaikan secara eksternal, dan bahwa tidak ada proyek politik atau peradaban yang akan berhasil kecuali jika secara jujur menghadapi hambatan-hambatan yang membelenggu kemauan dan menguras semangat.
Buku Islam Between East and West merepresentasikan kematangan intelektual yang komprehensif dan sintesis yang apik dari semua tulisan Izetbegovic sebelumnya. Di sini, ia menyajikan visi filosofis, sosial, dan politik yang komprehensif: pemahaman tentang hakikat ganda kemanusiaan, kebebasan, moralitas, agama, dan modernitas, serta bagaimana Islam dapat menjadi kekuatan konstruktif dalam masyarakat modern, multietnis, dan multiagama. Ia menulis: “Islam sejati bukanlah hambatan bagi kemajuan; melainkan, Islam adalah metodologi yang memandu kemajuan untuk melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.”
Dalam teks ini, karakteristik unik pengalaman Bosnia menjadi jelas: identitas agama yang terjalin dengan nasionalisme, multikulturalisme, dan tantangan politik di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam penerimaan publik terhadap buku tersebut. Di Bosnia, buku ini dianggap sebagai titik acuan bagi kesadaran nasional dan intelektual, sementara beberapa pemikir Serbia dan Kroasia memandangnya sebagai upaya untuk mengeksploitasi agama demi proyek politik tertentu.
Adapun para kritikus dan pengagum lainnya, pendapat mereka jelas terbagi: para pengagum dan intelektual Bosnia memandangnya sebagai jembatan antara pemikiran modern dan identitas keagamaan, serta model Islam modern yang mampu berdialog dengan Barat tanpa kehilangan identitasnya. Para penentang dan kritikusnya, baik dari Serbia maupun Kroasia, memandang filosofinya sebagai pembenaran atas proyek politik nasionalis, sementara banyak politisi internasional mengamati bahwa tulisan-tulisannya memberikan kerangka moral untuk menafsirkan perilaku negara Bosnia selama dan setelah perang.
Izetbegovic bukan sekadar pemimpin regional, melainkan cermin yang merefleksikan kontradiksi dunia pada tahun 1990-an. Bagi Clinton dan Holbrooke, ia merupakan ujian bagi nilai-nilai Amerika versus kepentingan; bagi Chirac dan Eropa, ia merupakan suara yang mengungkap kegagalan moral mereka; bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Sekretaris Jenderalnya saat itu, Kofi Annan, ia merupakan luka bagi hati nurani internasional. Bahkan di mata Gereja Katolik, ia muncul sebagai sosok yang beriman dan tangguh.
Di Timur Islam, ia menjadi bukti kemungkinan mendamaikan Islam dan modernitas, identitas dan demokrasi, perlawanan dan kemanusiaan. Kesaksian Izetbegovic kepada Erdogan, kekaguman para intelektual Arab, dan perbandingan yang dilakukan para pemimpin Asia dengan Muhammad Iqbal atau Malik Bennabi, semuanya menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak terbatas pada Balkan, tetapi mencakup ranah yang lebih luas, mencari model yang menggabungkan etika dan politik.
Izetbegovic menjadi simbol yang melampaui batas-batas Bosnia karena ia memiliki apa yang tidak dimiliki banyak pemimpin: filosofi yang jelas, keyakinan pada nilai-nilai, dan ketahanan dalam menghadapi tragedi. Barangkali kesaksian para pemimpin dunia bukan sekadar kata-kata dalam protokol eulogi, melainkan sebuah pengakuan bahwa pria ini, dari negara kecil yang terkepung, berhasil menempatkan dirinya di antara para pemimpin besar yang mengubah wajah dunia.
Dalam konteks ini, filsuf Prancis Olivier Roy mengatakan: “Izetbegovic merepresentasikan kasus langka dalam sejarah modern, di mana seorang filsuf menjadi pemimpin, dan pemimpin menjadi filsuf, tanpa kehilangan yang lain.”
Dengan demikian, perdebatan seputar kepribadian dan warisan Izetbegovic tetap terbuka untuk interpretasi dan analisis, baik di Balkan maupun di seluruh dunia. Di Bosnia, gagasan-gagasannya dikutip untuk mendorong dialog antargenerasi, sementara di Beograd dan Zagreb, citranya tetap menjadi subjek perdebatan dan kritik yang berkelanjutan. Namun, dalam kesaksian para pemimpin dunia, kita telah menyaksikan pujian dan apresiasi yang jarang diberikan kepada seorang pemimpin Muslim.
Perbedaan ini menggarisbawahi bahwa pengalaman Izetbegovic selalu kompleks, menempati ruang antara idealisme moral dan pragmatisme politik. Warisannya hanya dapat dipahami sepenuhnya dengan menelaah interaksinya dengan konteks lokal dan internasional, serta dengan tantangan praktis yang dihadapinya.
Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa Alija Ali Izetbegovic yang telah berdamai merepresentasikan sebuah pengalaman yang komprehensif, dari pemikiran hingga praktik, dari kebebasan individu hingga negara modern, dan dari etika hingga politik pragmatis.
Ia meninggalkan warisan yang tak terurai menjadi satu aspek saja; ia adalah seorang filsuf sekaligus warga negara dan politisi yang terkepung, yang berusaha menyeimbangkan idealisme moral dengan tuntutan kelangsungan hidup politik. Warisannya tetap abadi, seperti yang ia katakan sendiri: “Setiap generasi membaca saya sesuai kebutuhannya, dan setiap pengalaman membentuk kembali pemahamannya tentang saya.”[RG]
Tinggalkan Komentar