Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
20 Januari 2026

Jadi Santri Sekaligus Siswa: Pagi Seragam, Malam Sarungan

Sel, 20 Januari 2026 Dibaca 30x Edukasi

Oleh: Ust. Nizar Zulmi Rauf, S.H., Guru Bahasa Arab SDIT Al-Fattah Kuningan



Pernah terbayang tidak, bagaimana rasanya punya “dua nyawa” dalam sehari? Itulah yang dirasakan anak-anak yang memilih sekolah sambil nyantri. Hidup kami itu seperti punya dua dunia yang berbeda, tapi harus dijalani di waktu yang sama.


1 – Perubahan Karakter yang Cepat

Bayangkan, jam 6 pagi kita harus rapih memakai seragam sekolah, dan bicara soal rumus Matematika atau Sains. Di sini, kita dilatih untuk berpikir kritis dan bertanya “kenapa?”.

Tapi begitu jam sekolah selesai dan kita balik ke asrama, dunianya langsung berubah 180 derajat. Kita ganti celana dengan sarung, duduk lesehan di lantai, dan menunduk takzim di depan Kiai saat mengaji Kitab Kuning. Di sini, yang diutamakan bukan lagi sekadar nilai di rapor, tapi adab dan keberkahan ilmu.


2 – Tantangan: Dianggap “Kurang Gaul” vs “Kurang Alim”

Jujur saja, menjadi “dua identitas” ini sering bikin serba salah. Di sekolah, kadang ada teman yang menganggap santri itu kurang update soal tren film atau musik terbaru karena jarang pegang HP. Sementara di lingkungan pesantren, kalau kita terlalu fokus ambisi mengejar nilai sekolah, kadang dianggap kurang serius mendalami ilmu agama.


3 – Kekuatan Super di Balik Sarung

Tapi tahu tidak? Dualisme ini sebenarnya adalah latihan mental yang hebat. Menurut Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya Menggerakkan Tradisi, pesantren itu adalah “subkultur” yang unik. Santri itu spesial karena punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Kita belajar dua hal sekaligus:

  • Sains dan logika dari sekolah formal.
  • Mentalitas dan akhlak dari kehidupan pesantren.

Seperti kata A. Fuadi dalam novel Negeri 5 Menara, prinsip “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil) itu berlaku di mana saja. Mau kamu sedang mengerjakan soal Matematika yang rumit atau sedang menghafal bait-bait Jurumiyah, kuncinya adalah kesungguhan.


Kesimpulan

Menjadi santri yang bersekolah itu memang capek, tapi seru! Kita belajar bahwa menjadi pintar saja tidak cukup kalau tidak punya etika. Sebaliknya, punya niat baik saja juga tidak cukup kalau tidak punya ilmu untuk membangun dunia. Kita adalah jembatan yang menghubungkan doa dan kerja keras.[]



Referensi:

  1. Gus Dur (Abdurrahman Wahid), “Menggerakkan Tradisi”
  2. A. Fuadi, “Negeri 5 Menara”
  3. Zamakhsyari Dhofier, “Tradisi Pesantren”
  4. Konsep “Adab Sebelum Ilmu”: Merujuk pada kitab Ta’lim al-Muta’allim.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar