Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah
Kehadiran Israel bukanlah peristiwa spontan, juga bukan konsekuensi alami dari penderitaan bangsa Yahudi di Eropa, seperti yang diklaim propaganda Zionis. Sebaliknya, kehadiran Israel merupakan buah dari proyek kolonial sistematis yang digagas di koridor-koridor kekuatan Barat, yang bertujuan menciptakan entitas fungsional di jantung Timur Arab, melayani kepentingan strategis Barat dan memisahkan sayap Asia dan Afrika.
Sejak akhir abad ke-19, gerakan Zionis—yang secara resmi didirikan pada tahun 1897 di bawah kepemimpinan Theodor Herzl—mulai mengorganisir imigrasi massal bangsa Yahudi Eropa ke Palestina, dengan dukungan finansial dan politik dari Inggris dan Prancis, dan kemudian dari Amerika Serikat.
Ini bukanlah respons kemanusiaan terhadap penderitaan para pengungsi Yahudi, melainkan implementasi skema kolonial yang direncanakan dengan cermat yang bertujuan untuk menggantikan satu bangsa dengan bangsa lain, dan satu peradaban dengan peradaban lain.
Dengan setiap gelombang kekerasan atau penganiayaan di Eropa, lembaga-lembaga Zionis memanfaatkan tragedi ini untuk mengarahkan pengungsi Yahudi secara khusus ke Palestina, alih-alih ke negara-negara asal mereka atau ke negara-negara tetangga yang aman.
Dengan demikian, pengungsi Yahudi Eropa menjadi alat politik, yang digunakan untuk mengubah realitas demografis di Palestina dalam persiapan untuk pembentukan “negara Yahudi”.
Dari Pengungsi Menjadi Pemukim
Ketika para pengungsi Yahudi tiba di Palestina, mereka tidak datang sebagai tamu atau pencari perlindungan, melainkan sebagai bagian dari proyek terorganisir yang didukung oleh Kerajaan Inggris. Mereka mulai dengan membeli tanah melalui cara-cara curang, kemudian memperluas wilayahnya dengan membangun permukiman bersenjata yang kemudian menjadi markaz utama tentara Israel.
Antara tahun 1917 dan 1948, jumlah imigran Yahudi berlipat ganda beberapa kali lipat berkat upaya lembaga-lembaga Yahudi dan Organisasi Zionis Dunia, yang mengatur pemindahan pengungsi dari Eropa dan memberi mereka senjata, pelatihan, dan dukungan keuangan.
Ketika Israel dideklarasikan pada tahun 1948, lebih dari 750.000 warga Palestina telah diusir dari rumah mereka dalam salah satu tindakan pembantaian etnis paling mengerikan di abad ke-20.
Desa-desa dibakar, rumah-rumah dihancurkan, lahan pertanian dicuri, dan penduduk asli digusur untuk memberi jalan bagi imigran dari Eropa (pengungsi Yahudi Eropa), yang berubah dari korban menjadi instrumen neo-kolonialisme.
Masalahnya bukan hanya perang itu sendiri, melainkan fondasi moral dan politik ideologi Zionis. Israel bukanlah negara yang mencari keamanan; melainkan entitas yang tumbuh subur dengan mengingkari pihak lain. Israel tidak akan pernah menjadi “negara Yahudi” kecuali dengan menghapus keberadaan, sejarah, dan ingatan bangsa Palestina. Inilah sebabnya Israel mempraktikkan bentuk-bentuk terorisme paling keji atas nama “pertahanan diri”, sambil melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di siang bolong.
Dari Korban Nazisme Menjadi Pelaku
Ironi paling kejam adalah para pengungsi Yahudi Eropa yang melarikan diri dari penindasan Nazi di Eropa mengadopsi metode yang sama di Palestina. Alih-alih melawan rasisme, mereka justru menjadi pembawa panji-panji barunya! Mereka membangun sistem yang didasarkan pada diskriminasi rasial, wilayah tertutup, tembok pemisah, dan pembunuhan berdasarkan identitas.
Apa yang dipraktikkan Israel saat ini—pengepungan, kelaparan, dan pembunuhan anak-anak di Gaza—adalah versi modern dari genosida yang diklaim oleh gerakan Zionis sebagai upaya untuk melindungi diri. Zionis telah meniru alat-alat penindasan dari sejarah kelam Eropa dan mengarahkannya kepada bangsa Palestina, yang kejahatannya hanyalah mempertahankan tanah mereka.
Dulu, bangsa Yahudi dikurung di ghetto-ghetto di Eropa, sementara kini warga Palestina dikepung di ghetto-ghetto Gaza dan Tepi Barat; satu-satunya perbedaan adalah korban lama telah menjadi algojo baru, yang melakukan pembunuhan atas nama agama, sejarah, dan janji ilahi.
Barat dan Standar Ganda Moral
Yang membuat tragedi ini semakin mengerikan adalah kebisuan Barat, bahkan keterlibatannya yang terang-terangan. Negara-negara yang mengaku membela hak asasi manusia justru memasok senjata dan dukungan politik kepada Israel di forum internasional.
Media Barat memperindah pendudukan dan membenarkan kejahatannya dengan bahasa yang menyesatkan: mereka menyebut pembunuhan sebagai “pembelaan diri”, pembantaian sebagai “operasi militer”, dan perlawanan sebagai “terorisme”.
Palestina telah menjadi cermin yang memperlihatkan kemunafikan Barat modern. Ketika pembunuhnya adalah Israel, hati nurani Barat goyah dan menjadi penonton bisu, tetapi ketika korbannya adalah Barat, seluruh dunia meledak dalam kemarahan.
Standar ganda moral ini bukan hanya ketidakadilan bagi Palestina, tetapi juga skandal peradaban bagi Barat, yang telah mengkhianati nilai-nilai yang dibanggakannya.
Hakikat Konflik: Kemanusiaan dan Moral
Inti dari konflik ini bukanlah konflik agama antara Yahudi dan Islam, seperti yang coba digambarkan beberapa pihak. Sebaliknya, konflik ini adalah konflik antara penjajah yang datang dari Eropa dan bangsa Arab Palestina yang telah berakar di tanah mereka selama ribuan tahun. Perjuangan Palestina adalah perjuangan kebebasan dan martabat, perjuangan kemanusiaan menghadapi kolonialisme yang didukung oleh senjata dan propaganda mutakhir.
Bangsa Palestina berjuang bukan karena membenci siapa pun, melainkan karena mencintai kehidupan sebagaimana mestinya. Mereka memperjuangkan hak untuk hidup di tanah mereka, untuk mengolahnya, dan dimakamkan di sana sebagaimana leluhur mereka. Di sisi lain, Israel membunuh bukan karena takut, melainkan karena arogansi dan keyakinan patologis bahwa mereka berada di atas tanggungjawab.
Sejarah Memang Kejam
Apa yang terjadi hari ini di Palestina adalah ujian bagi nurani manusia. Dunia yang membiarkan kejahatan Nazi kini bungkam menghadapi kejahatan baru yang tak kalah kejinya. Namun sejarah memang kejam, dan kita telah menyaksikan bagaimana rezim yang lebih brutal dan opresif telah tumbang, dari Berlin hingga Pretoria.
Proyek Zionis akan runtuh, sebagaimana fasisme dan Nazisme runtuh sebelumnya, karena entitas yang dibangun di atas ketidakadilan tidak akan bertahan lama. Bangsa-bangsa mungkin ditundukkan untuk sementara, tetapi mereka tak akan pernah dikalahkan.
Mereka yang datang ke Palestina untuk melarikan diri dari penganiayaan Eropa (para pengungsi Yahudi Eropa) suatu hari nanti akan menyadari bahwa pendudukan tidak membangun tanah air, bahwa pertumpahan darah tidak menciptakan perdamaian, dan bahwa kebencian tidak menciptakan keamanan. Hanya keadilan, dengan pengakuan inherennya atas hak rakyat Palestina atas tanah mereka, yang dapat membuka pintu perdamaian sejati.
Israel bukanlah negara biasa, melainkan proyek kolonial Eropa yang tumbuh subur di atas kebencian dan ketakutan. Namun, terlepas dari segala kekuatan dan dukungan Barat, Israel tak mampu mematahkan tekad rakyat Palestina, yang berdiri teguh di hadapan mesin pembunuh! Israel mencoba menghapus identitas Palestina dengan api dan besi, tetapi gagal, karena identitas yang disiram darah takkan pernah mati.
Rakyat Palestina akan tetap menjadi saksi era di mana standar telah dijungkirbalikkan, ketika pengungsi Yahudi Eropa menjadi penindas, dan kaum tertindas memiliki keputusan akhir. Sebagaimana Nazisme runtuh di Berlin, proyek Zionis akan runtuh di Yerusalem. Insya Allah.[]

Tinggalkan Komentar