Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Islam adalah agama yang telah dipilih Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertauhid. Ia adalah agama fitrah yang menjadi dasar penciptaan manusia oleh Allah, yang dibawa oleh para rasul untuk disampaikan kepada umat manusia.
Para rasul menyeru kepada Islam dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Islam adalah dasar pesan mereka, yang menyatukan mereka, dan dari situlah mereka memulai. Islam adalah agama mereka semua, sebagaimana dalam firman Allah Swt., “Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah ialah Islam,” [Q.S. Ali Imran: 19].
Dan Dia berfirman, “Dan siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali [agamanya] tidak akan diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi,” [Q.S. Ali Imran: 85].
Oleh karena itu, Islam adalah agama semua nabi dan rasul. Meskipun syariat dan peraturan mereka berbeda-beda, mereka semua sepakat pada prinsip dasar, yaitu tauhid dan penyerahan diri kepada Allah Swt.. Semua nabi dan rasul mengakuinya: Nuh as. (Q.S. Yunus: 72); Ibrahim as. (Q.S. al-Baqarah: 131); Musa as. (Q.S. Yunus: 84); Isa al-Masih as. (Q.S. al-Ma`idah: 111); Sulaiman as. (Q.S. al-Naml: 44); Semua nabi (Q.S. al-Ma`idah: 44).
Asal mula agama adalah satu, yang dengannya Allah mengutus semua nabi dan rasul. Seruan mereka kepada agama itu seragam, dan jalan mereka menuju agama itu pun seragam. Perbedaannya hanya terletak pada hukum-hukum syariat mereka yang bercabang-cabang.
Allah Swt. menjadikan para nabi dan rasul sebagai perantara antara Diri-Nya dan hamba-hamba-Nya untuk memberi tahu mereka tentang agama itu dan membimbing mereka ke sana, agar mereka mengetahui apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang merugikan mereka, dan untuk menyempurnakan apa yang baik bagi mereka dalam kehidupan mereka dan akhirat mereka.
Semua nabi dan rasul diutus dengan agama yang menyeluruh, yaitu penyembahan kepada Allah semata, tanpa sekutu, dengan menyeru kepada keesaan Allah dan berpegang teguh pada tali-Nya yang kokoh. Mereka diutus untuk memberi tahu tentang jalan menuju ke sana, dan mereka diutus untuk menjelaskan keadaan mereka setelah mencapainya. Dengan demikian, seruan mereka disatukan dengan tiga prinsip ini:
1 – Menyeru kepada Allah Swt. dengan menegakkan dan menetapkan monoteisme (tauhid), menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya, dan tidak beribadah selain Dia. Monoteisme adalah agama seluruh dunia, dari Adam hingga nafas terakhir umat ini.
2 – Menjelaskan jalan menuju kepada-Nya, dengan menggariskan kenabian dan syariat yang menyertainya, seperti shalat, zakat (sedekah wajib), puasa, jihad (perjuangan di jalan Allah), dan lain-lain, baik dalam bentuk perintah maupun larangan, dalam kerangka lima kewajiban agama (perintah wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah), menegakkan keadilan dan kebajikan, serta nasihat dan peringatan.
3 – Menjelaskan keadaan makhluk setelah mencapai Allah: dengan memastikan adanya kematian dan apa yang mengikutinya, kubur, nikmat dan siksanya, hari akhir, kebangkitan setelah kematian, pahala dan hukuman, serta surga dan neraka.Dan di atas ketiga prinsip ini terletak dasar penciptaan dan perintah Ilahi, dan dengan prinsip-prinsip inilah semua nabi dan rasul diutus. Inilah kesatuan agung antara para rasul, pesan-pesan mereka, dan umat mereka. Dan inilah yang dimaksud dengan pernyataan Nabi Saw., “Kami, para nabi, adalah saudara dari ibu yang berbeda, tetapi agama kami adalah satu.” Dan ini pulalah yang dimaksud dalam firman Allah Swt., “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan [juga] kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik [untuk mengikuti] agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada [agama]-Nya dan memberi petunjuk pada [agama]-Nya bagi orang yang kembali [kepada-Nya],” [Q.S. al-Syura: 13].
Prinsip-prinsip dasar inilah yang terdapat dalam sebagian besar surah al-Qur’an. Dan jika kita merenungkan rahasia di balik penciptaan Allah atas makhluk-Nya, yaitu ibadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman Allah, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” [Q.S. al-Dzariyat: 56].
Kita menyadari pentingnya kesatuan agama, serta kesatuan jalan. Inilah sebabnya mengapa surah pembuka al-Qur’an, Ummul Qur`an, al-Fatihah, menyatakan: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, [yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan [jalan] mereka yang dimurkai dan bukan [pula jalan] orang-orang yang sesat,” [Q.S. al-Fatihah: 6-7].
Kita menyadari hikmah agung dari apa yang telah Allah Swt. sampaikan kepada umat manusia melalui al-Qur`an, yaitu kisah para nabi dan kabar tentang mereka kepada umat mereka, untuk mengambil pelajaran, merenungkan, menguatkan hati para nabi, membuktikan kenabian dan risalah yang mereka bawa, menjadikannya pelajaran bagi orang-orang beriman, serta kabar tentang orang-orang yang mengingkari para rasul dan nasib mereka di hari akhir, dan bahwa itu semua adalah aturan-Nya bagi orang-orang yang berpaling dari jalan-Nya.
Islam, dalam arti umumnya, adalah: tunduk kepada Allah, menaati-Nya, menyembah-Nya semata, menolak kemusyrikan, mengimani kenabian, serta meyakini awal dan akhir. Seluruh nabi dan rasul datang membawa hal ini. Dan karena kesatuan agama dalam hal ini, sebagaimana disampaikan dalam seruan seluruh nabi dan rasul, Allah Swt. telah menjelaskan “jalan” (al-shirâth) dan “cara” (al-sabîl) dalam semua ayat al-Qur`an.
Dalam hal kesatuan umumnya dan kesatuan jalan dan cara ajarannya, Islam adalah agama yang disebutkan Allah dalam ayat-ayat Kitab-Nya mengenai para nabi-Nya: Nuh as., Ibrahim as. dan putra-putranya, Yusuf as., Musa as., Sulaiman as., jawaban Bilqis, Ratu Saba, para penyihir Fir’aun, dan Fir’aun ketika ia hampir tenggelam.
Dalam hal ini, Islam adalah agama dan keyakinan semua nabi dan rasul. Sesungguh, keislaman setiap nabi dan rasul mendahului umatnya, dan monoteisme adalah lokus utama misi mereka kepada umat manusia, sebagaimana firman Allah Swt., “Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat [untuk menyerukan], ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut!,” [Q.S. al-Nahl: 36].
Dia juga berfirman, “Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku,” [Q.S. al-Anbiya`: 25].
Allah Swt. mengkhususkan Nabi Ibrahim as., dengan menyatakan bahwa, Islam, dalam makna yang universal, adalah agamanya, sebagaimana dalam firman-Nya, “Maka, ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan ia tidaklah termasuk orang-orang musyrik,” [Q.S. Ali Imran: 95], karena beberapa alasan:
1 – Ibrahim as., menghadapi tantangan besar dalam menegakkan monoteisme (tauhid) dan memberantas politeisme (syirik), dan Allah menganugerahkan kemenangan kepadanya, sebagaimana telah dikisahkan di dalam al-Qur`an.
2 – Allah Swt. mewariskan kenabian dan kitab suci kepada keturunan Ibrahim as., dan karena itulah ia disebut Abu al-Anbiya` (Bapak Para Nabi). Allah Swt. berfirman, “[Ikutilah] agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim,” [Q.S. al-Hajj: 78]. Ibrahim as. melengkapi delapan belas nabi yang disebutkan Allah di dalam al-Qur`an dari keturunannya. Mereka adalah: putranya, Ismail as., dan dari keturunannya: Muhammad bin Abdullah Saw.; putranya, Ishaq as., dan dari keturunannya: Ya’qub as., Yusuf as., Ayub as., Dzulkifli, Musa as., Harun as., Ilyas as., Alyasa as., Yunus as., Dawud as., Sulaiman as., Zakariya as., Yahya as., dan Isa as..
3 – Untuk mematahkan klaim orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka mengikuti agama Ibrahim. Allah Swt. telah membantah mereka dalam firman-Nya, “Apakah kamu juga berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan keturunannya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah? Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?’ Allah sama sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan,” [Q.S. al-Baqarah: 140].
Allah menjawab perdebatan mereka dalam hal ini dengan firman-Nya, “Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berbantah-bantahan (berdebat) tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil diturunkan setelah ia (Ibrahim)? Apakah kamu tidak mengerti? Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus,1 muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik,” [Q.S. Ali Imran: 65-67].
Kemudian Allah Swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dekat dengan Ibrahim as. adalah orang-orang yang mengikuti agamanya dan jalannya, “Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), dan orang-orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin,” [Q.S. Ali Imran: 68].
Allah Swt. juga menjelaskan betapa besarnya kesalahan klaim Ahli Kitab, dan betapa berlebihan dan sesatnya mereka. Dia berfirman: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam [urusan] agamamu tanpa hak. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang benar-benar tersesat sebelum kamu dan telah menyesatkan banyak [manusia] serta mereka sendiri pun tersesat dari jalan yang lurus,” [Q.S. al-Ma`idah: 77].
Allah Swt. menjelaskan bahwa upaya orang-orang musyrik untuk menyesatkan umat Muslim dari agama mereka dan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. “Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘[Tidak!] Tetapi [kami mengikuti] agama Ibrahim yang lurus dan ia termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.’ Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.’ Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan [denganmu], maka Allah mencukupkan engkau [Muhammad] terhadap mereka [dengan pertolongan-Nya]. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” [Q.S. al-Baqarah: 135-137].
Dengan demikian, orang yang merenungkan al-Qur`an akan menemukan di ayat-ayatnya indikasi bahwa al-Qur`an itu diturunkan hanya untuk menghidupkan kembali agama Ibrahim as., bahkan menyebutnya dengan nama yang tidak disukai oleh orang Yahudi dan Nasrani: “Millatu Ibrâhîm” (agama Ibrahim). “Berjuanglah kamu pada [jalan] Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. [Ikutilah] agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu dan [begitu pula] dalam [kitab] ini (al-Qur`an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,” [Q.S. al-Hajj: 78].
Kesimpulannya, kata “Islam” memiliki dua makna: makna umum, yang mencakup keislaman setiap umat yang mengikuti seorang nabi yang diutus Allah kepada mereka. Mereka adalah Muslim, Muslim yang saleh, mengikuti agama Ibrahim dengan menyembah Allah semata dan berpegang teguh pada syariat nabi yang diutus Allah kepada mereka.
Umat Taurat, sebelum terjadi perubahan, adalah Muslim, Muslim yang saleh, dan mereka mengikuti agama Ibrahim; mereka berdiri tegak bersama Islam. Kemudian, ketika Allah mengutus Nabi Isa as., ia juga membawa Islam bersamanya. Kemudian, ketika Allah mengutus Muhammad Saw., yang merupakan nabi terakhir, syariatnya adalah syariat terakhir, risalahnya adalah risalah terakhir, yang bersifat universal bagi seluruh penduduk bumi, maka seluruh umat manusia wajib mengikutinya dan menerima risalah yang beliau sampaikan.
Siapa pun yang tidak menerima dan mengikutinya adalah orang kafir, dan tidak dapat disebut sebagai Muslim, atau orang yang hanîf (lurus), atau mengikuti agama Ibrahim. Apa pun yang mereka pegang teguh dari ajaran Yahudi dan Nasrani tidak akan bermanfaat bagi mereka, dan Allah tidak akan menerimanya.
Dengan demikian, nama “Islam”—sejak diutusnya Nabi Muhammad Saw. sampai hari Kiamat—eksklusif hanya bagi mereka yang mengikutinya dan bukan yang lain. Inilah makna khususnya yang tidak dapat diterapkan pada agama lain, terutama karena segala sesuatu yang lain tunduk pada perubahan.
Jika Ahli Kitab berkata kepada umat Muslim: Allah telah memerintahkan umat Muslim untuk berkata kepada mereka: “Jadilah orang Yahudi atau Nasrani agar kalian mendapat petunjuk,” Allah telah memerintahkan umat Muslim untuk berkata kepada mereka: “Katakanlah: ‘[Tidak!], tetapi [kami mengikuti] agama Ibrahim yang lurus.”
Tidak seorang pun saat ini disebut sebagai Muslim, atau sebagai orang yang berpegang teguh kepada agama Ibrahim yang lurus, atau sebagai hamba-hamba Allah yang lurus, kecuali jika ia mengikuti apa yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul terakhir-Nya, Muhammad Saw.. Adapun mengenai keberagaman dan banyaknya syariat, Allah Swt. berfirman: “Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan syir’ah (aturan) dan minhaj (jalan yang terang),” [Q.S. al-Ma’idah: 48].
Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud syir’ah pada ayat di atas adalah syariat. Syariat adalah aturan, diibaratkan seperti sumber air, di mana siapa pun yang masuk ke dalamnya dengan cara yang benar dan tepat akan dipuaskan dari dahaga dan disucikan dari kotoran.
Sedangkan minhaj berarti jalan terang dan metode jelas menuju kebenaran, yang harus diikuti dalam hukum, perintah, dan larangan, agar Allah mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka kepada-Nya. “Bagi setiap umat telah Kami tetapkan mansak (cara beribadah) tertentu yang [harus] mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (mansak) itu dan serulah [mereka] kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus,” [Q.S. al-Hajj: 67].
“Mansak” di sini berarti cara beribadah, dan “yang [harus] mereka amalkan” berarti mereka harus beribadah dengan cara itu. Dan Allah Swt. berfirman tentang Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad Saw., “Kemudian, Kami jadikan engkau (Nabi Muhammad) mengikuti syariat dari urusan (agama) itu. Maka, ikutilah ia (syariat itu),” [Q.S. al-Jatsiyah: 18].
Kita telah mempelajari prinsip-prinsip dasar yang mempertemukan seluruh nabi dan rasul dan menjadi dasar mereka dalam berdakwah: satu agama, satu akidah, dalam menegakkan penyembahan hanya kepada Allah semata, tanpa sekutu, dan keesaan-Nya, dan dalam menegakkan dan memastikan hari Kiamat, serta kesatuan hukum dari Allah Swt. Prinsip-prinsip ini tidak berubah atau dimodifikasi, dan tidak dapat dibatalkan. Prinsip-prinsip ini bersifat tetap, tidak dapat dicabut. Adapun syariat, yang banyak, beragam, dan berbeda-beda, bisa berubah atau bahkan bisa dicabut. Syariat setiap rasul berbeda satu sama lain secara keseluruhan atau sebagiannya, sesuai dengan kebutuhan umat manusia di setiap zaman, dan Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya di muka bumi.[]
Tinggalkan Komentar