Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
22 November 2025

Hidayah Bersyarat

Sab, 22 November 2025 Dibaca 31x Hikmah

Oleh: Ust. Irvan Ahmad Fauzi, S.Sos., Guru Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah



Hidayah bagi umat manusia telah ditakdirkan, dan itu atas kehendak Allah Swt.. Orang yang Allah kehendaki untuk diberi hidayah, Dia akan memberinya hidayah. Sebaliknya, orang yang Dia kehendaki untuk disesatkan, Dia akan menyesatkannya.

Hidayah akan menerangi hati seorang hamba, jika ia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk itu. Ia dituntut bersabar, teguh, dan menempuh jalan istiqamah. Allah Swt. telah memberinya akal yang tercerahkan (‘aql munir) dan kehendak yang bebas (iradah hurrah), yang dengannya ia dapat memilih kebaikan daripada kejahatan.

Jika seorang hamba mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan bertekad agar Allah memberinya hidayah yang sempurna (hidayah tammah), niscaya pertolongan datang kepadanya dari Allah Swt..

Salah satu sebab terpenting datangnya hidayah, berdasarkan sunnatullah, adalah al-ittiba’ (mengikuti), yaitu bertindak sesuai dengan syariat dan ketentuan-ketentuannya, menjauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt. dan menaati-Nya dalam menaati Rasulullah Saw., karena beliau adalah pembawa risalah dari-Nya.

Dengan demikian, al-ittiba’ mencakup kepatuhan terhadap apa yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, baik dalam hal keyakinan, hukum, perintah, larangan, adab, akhlak, dan segala sesuatu yang dituntun oleh Kitab Allah Swt. dan Sunnah Rasul-Nya. Al-ittiba’ bukan sekadar slogan, melainkan realisasi maknanya dalam hati, anggota tubuh, dan pikiran.

Kita menemukan bahwa Al-Qur’an dan sunnah menekankan pentingnya mengikuti teladan Nabi Saw., menganggapnya sebagai fondasi hidayah, jalan menuju kebahagiaan, kesuksesan, serta kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Salah satu bukti terbesar Allah Swt. menunjukkan pentingnya mengikuti teladan Nabi Saw. dan perannya dalam meraih hidayah dan menghindari kesesatan adalah ketika Dia menciptakan Adam dan menurunkannya ke bumi, sebelum mengutus para nabi dan rasul-Nya. Hal ini menjadi bukti nyata akan peran krusial dan pentingnya mengikuti teladan Nabi Saw. dalam meraih hidayah dan keselamatan. Allah Swt. berfirman,


قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari surga! Lalu, jika benar-benar datang hidayah-Ku kepadamu, siapa saja yang mengikuti hidayah-Ku tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati,” [Q.S. Al-Baqarah: 38].


Allah Swt. mengaitkan “menaati-Nya” (tha’atullah) dan “mengikuti Nabi-Nya” (ittiba’ nabiyyihi) dengan hidayah, sehingga “menaati” dan “mengikuti” merupakan sebab bagi hidayah dan kebenaran. Dia berfirman,


قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, sesungguhnya kewajiban Rasul (Nabi Muhammad) hanyalah apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat hidayah. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan [amanat Allah] dengan jelas,” [Q.S. Al-Nur: 54].


Allah Swt. memberi tahu kita bahwa hidayah menuju jalan lurus dan keselamatan terletak pada ketaatan kepada Rasulullah Saw., bukan yang lain. Ketaatan itu bersyarat. Tidak ada hidayah ketika syarat itu tidak terpenuhi. Tugas Rasulullah Saw. hanyalah menyampaikan risalah dan menjelaskannya. Allah Swt. berfirman,


قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ. يَهْدِي بِهِ اللّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan, Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus,” [Q.S. Al-Ma’idah: 15-16].


Di dalam ayat ini, Allah Swt. menjelaskan bahwa orang yang mengikuti Al-Qur’an, yaitu apa yang telah Dia ridhai untuk hamba-hamba-Nya, maka Dia akan memberinya pahala atas perbuatannya itu dengan tiga cara:


Pertama, Allah Swt. membimbing seorang yang mengikuti Al-Qur’an ke jalan keselamatan yang dengannya ia diselamatkan di dunia dan akhirat dari semua yang membahayakan dan membuatnya sengsara. Mengikuti Al-Qur’an berarti mengundang kedamaian ke dalam hidup seluruhnya: kedamaian individu, kedamaian sosial, kedamaian dunia, kedamaian hati nurani, kedamaian pikiran, kedamaian anggota tubuh, kedamaian rumah tangga, kedamaian keluarga, kedamaian masyarakat, kedamaian umat manusia dan kemanusiaan, kedamaian dengan kehidupan dan dengan alam semesta, serta kedamaian dengan Allah, Tuhan alam semesta dan kehidupan. Sungguh, Allah membimbing dengan agama ini yang telah Dia ridhai semua jalan kedamaian.

Kedua, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan (zhulumat) menuju cahaya (nur) kebenaran; Dia mengeluarkan mereka dari kekufuran menuju cahaya keimanan dengan karunia dan hidayah-Nya. Semua kebodohan adalah kegelapan; kegelapan keraguan, takhayul, kebingungan, terputus dari hidayah, dan kekacauan nilai-nilai.

Ketiga, hidayah ke jalan lurus, yaitu jalan yang mengantarkan kepada tujuan akhir agama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya; jalan ini tak berliku, tak menyimpang, sehingga orang-orang yang menempuhnya tak menjadi lamban dan tersesat. Dan Allah Swt. menjadikan “mengikuti Rasul-Nya” termasuk dalam risalah yang dibawanya. Allah Swt. berfirman,


قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah [Nabi Muhammad], ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, serta yang menghidupkan dan mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, [yaitu] nabi ummi (tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat hidayah,” [Q.S. Al-A’raf: 158].


Rasulullah Saw. mengabarkan bahwa berpegang teguh pada sunnah beliau merupakan benteng dari penyimpangan, kesesatan, dan kekacauan. Beliau bersabda,


فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan juga sunnah para Khulafa’ Rasyidin yang datang setelahku. Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku tersebut dan gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diadakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan,” [H.R. Al-Tirmidzi].


Dan Allah, melalui Al-Qur’an, menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah mengikuti keinginan orang-orang musyrik, karena hal itu merupakan menyimpang dari jalan yang lurus dan jalan menuju kesesatan.


قُل لاَّ أَتَّبِعُ أَهْوَاءكُمْ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Katakanlah, ‘Aku tidak akan mengikuti keinginanmu. Jika berbuat demikian, sungguh tersesatlah aku, dan aku tidak termasuk orang yang mendapat hidayah,” [Q.S. Al-An’am: 56].


Maksudnya, “Aku tidak akan pernah mengikuti kalian dalam apa yang kalian serukan kepadaku, baik dalam ibadah maupun amal lainnya, karena hal itu hanya berdasarkan hawa nafsu dan tidak berdasarkan kebenaran dan hidayah Allah. Jika aku melakukan itu, maka aku telah meninggalkan jalan kebenaran dan telah menyimpang, dan aku menjadi tersesat seperti kalian dan telah keluar dari golongan orang-orang yang mendapat hidayah.”


Allah Swt. berfirman,


وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا

Siapa yang menentang Rasul (Nabi Muhammad Saw.) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam [neraka] Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali,” [Q.S. Al-Nisa’: 115].


Maksudnya, “Orang yang menempuh jalan yang bukan jalan syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw., kemudian ia berada di satu pihak dan syariat di pihak yang lain, dan ia melakukannya dengan sengaja setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka hal itu tidak dapat dipisahkan dari ciri yang pertama.”

Sebagai akibatnya, “Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam [neraka] Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.” Maksudnya, “Jika ia mengikuti jalan ini, Kami akan menghukumnya dengan menjadikan jalan itu menarik dan menggodanya, sehingga menyesatkannya, dan menjadikan neraka sebagai tempatnya di akhirat. Orang yang menyimpang dari hidayah, tidak ada jalan baginya selain neraka Jahanam.”

Dari teks-teks ini dan lainnya, menjadi jelas bahwa mengikuti dan menaati Allah dan Rasul-Nya adalah fondasi hidayah dan kebenaran, sementara tidak mengikutinya akan membawa kepada penyimpangan, kesesatan, dan kehancuran.[]

Artikel Lainnya

Oleh : Roland Gunawan

AI dalam Kompas Etika Al-Qur’an

Oleh : Roland Gunawan

Akhir Mitos Israel

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar