Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah
Dalam sebuah diskusi dengan beberapa teman, saya melihat nasionalisme sangat beresonansi dengan mereka. Kebanyakan dari mereka mengakui bahwa era ideologi telah berakhir. Secara pribadi, karena cukup fleksibel dalam afiliasi intelektual dengan suatu sistem atau golongan, saya tidak yakin bahwa budaya mengharuskan suatu sikap yang berakar dari ide tertentu yang merangkum pandangan hidup.
Mungkin inilah mengapa saya akrab dengan generasi TikTok—saya menyebutnya sebagai singkatan dari periode kesadaran di mana TikTok muncul dengan kuat dan mendominasi kehidupan anak-anak muda—dan mungkin itulah mengapa saya tidak merasa kehilangan jika ideologi telah mati. Namun saya bertanya pada diri sendiri: Mungkinkah itu? Apakah TikTok sebuah ideologi kontemporer?
Tulisan ini tidak berusaha memberikan jawaban pasti dan jelas, karena saya tidak memilikinya. Sebaliknya, ini adalah pendekatan personal dan pembacaan pribadi atas situasi tersebut, di mana saya meninjau secara singkat tesis tentang berakhirnya ideologi dan dampaknya terhadap individu dan kelompok.
Apakah Ideologi Telah Mati?
Sudah menjadi hal umum di kalangan akademisi bahwa ideologi-ideologi besar telah punah, atau setidaknya kehilangan daya mobilisasi yang dimilikinya di abad ke-20. Namun, apa artinya ini? Dan apakah realitas kontemporer, di era TikTok, mendukung atau menolak klaim ini?
Pada tahun 1960-an, pemikir Daniel Bell, dalam bukunya “The End of Ideology“, berpendapat bahwa gerakan-gerakan besar seperti komunisme, nasionalisme, dan sosialisme revolusioner telah kehabisan energi intelektual mereka, dan bahwa masyarakat modern kini didorong oleh kebijakan-kebijakan pragmatis dan reformasi-reformasi kecil, bukan proyek-proyek besar.
Selanjutnya, muncul tanggapan yang menyatakan bahwa ideologi tidak mati, melainkan telah bertransformasi: dari sistem terpadu menjadi ideologi-ideologi parsial atau kultural yang dipraktikkan dalam budaya populer, media, dan teknologi.
Dalam dua dekade terakhir, beberapa peneliti telah memperbarui minat mereka terhadap ideologi dari perspektif psikologi politik. Mereka menyatakan bahwa individu tertarik pada tema dan praktik ideologis meskipun mereka tidak menyadarinya. Mungkin karena ideologi “adalah kesadaran diri kolektif”, dalam arti bahwa ideologi membela kepentingannya sendiri. Mungkinkah citranya telah berubah, sebagaimana citra banyak orang telah berubah di zaman kita?
Generasi TikTok dan Ideologi Digital
Dengan munculnya generasi baru yang hidup di ruang digital yang tenggelam dalam gambar-gambar cepat dan video-video pendek, pertanyaan ini tampak sepele, dan jawabannya jelas. Namun, seiring kita mengikuti generasi ini, kita berhak untuk berhenti sejenak dan mengkaji beberapa praktiknya, dan bertanya: Apakah generasi TikTok benar-benar hidup di luar ideologi? Atau apakah mereka sedang mengalami transformasi baru yang tidak biasa kita baca? Dalam konteks ini, kita dapat menelusuri empat ciri utama untuk menyoroti bagaimana generasi ini berinteraksi dengan ide dan nilai:
– Ideologi di Era Kecepatan
Ideologi, dalam definisi klasiknya, adalah sistem gagasan komprehensif yang menjelaskan dunia dan memandu tindakan politik dan sosial. Dengan kata lain, ideologi “adalah sistem gagasan, kesadaran suatu kelompok akan dirinya sendiri dan kepentingannya. Oleh karena itu, ideologi tidak berakhir selama konflik sosial masih ada”.
Selama hal ini terjadi, kita berada dalam realitas ideologis yang berbeda. Dengan generasi TikTok, kita tidak menemukan pidato panjang atau buku-buku filsafat yang beredar, melainkan video-video pendek berdurasi tak lebih dari beberapa detik, yang sarat dengan simbol dan isyarat satir, atau adegan-adegan solidaritas, perlawanan, dan penolakan.
Bukankah ini termasuk dalam proses ideologi sebagai ekspresi eksistensial berbagai kelompok dan keseluruhan umat manusia, serta interaksi dan konflik mereka? Slogan-slogan besar dan pidato-pidato heroik mungkin telah menghilang, tetapi tagar telah muncul.
– Dari Doktrin ke Suasana Hati
Generasi TikTok peduli dengan isu-isu identitas, lingkungan, keadilan sosial, dan kebebasan, dan mengekspresikan afiliasinya kepada isu-isu ini melalui apa yang kita sebut “fluiditas digital” (digital fluidity), yang tidak terbentuk dalam wacana yang tetap, tetapi mungkin mampu mengalami transformasi dan pembentukan seketika tanpa batasan, syarat, atau rasa perlunya afiliasi ideologis.
Sebaliknya, ia mungkin mencoba menghindari atau menolak model dan kerangka kerja, dan cukup focus pada dinamika isu dan relevansinya dengan situasi saat ini. Di sini menjadi jelas bahwa ideologi tradisional telah bertransformasi menjadi jaringan momen-momen sesaat, yang ditangkap oleh algoritma dan didaur ulang dalam format visual yang berdampak.
– Kekuatan Gambar dan Kelemahan Struktur
Di masa lalu, ideologi dibangun berdasarkan proyek jangka panjang, tetapi generasi TikTok merasakan dampaknya secara langsung. Bagaimana? Sebuah video pendek lebih mampu menggerakkan opini publik daripada sebuah buku teoretis.
Meskipun hal ini mungkin mengungkapkan—dibandingkan dengan kekakuan masa lalu—kelemahan struktur yang mendalam, namun hal ini juga menonjolkan kekuatan mobilisasi instan. Di sinilah letak ironinya: ideologi bertransformasi dari proyek historis menjadi gelombang digital, dan dari wacana komprehensif menjadi luapan emosi yang membentuk kembali kesadaran dari waktu ke waktu.
– Semangat Muda atau Menurunnya Nilai?
Anak muda masa kini lebih menyukai video pendek dan konten instan. Di TikTok, mereka mengunggah video berdurasi 30 hingga 60 detik yang mengekspresikan sikap politik, kritik sosial, atau tagar, alih-alih menulis artikel panjang. Anak muda masa kini menggunakan simbol-simbol seperti meme, melontarkan lelucon, dan mengejek hampir segala hal dengan kekejaman dan keterampilan luar biasa: mulai dari adat istiadat orangtua, politisi, dan kisah cinta selebritas.
Tantangan terkadang tampak menjadi alat untuk ekspresi politik dan budaya serta ruang ideologis “dari bawah”, yang kurang formal dan lebih muda. Sikap dibingkai dalam solidaritas sementara, seperti mendukung tujuan kemanusiaan, menolak hak-hak tertentu, atau mengkritik situasi politik. Kemudian roda pencarian dan “like” berputar, dan kemudian pandangan-pandangan baru diadopsi. Patut dicatat bahwa generasi ini menolak perang dan memutuskan hubungan dengan pihak kanan maupun kiri; identitasnya membebaskan dan tidak dapat dibatasi pada suatu sistem.
Dampak Transformasi Ini terhadap Individu dan Kelompok
Identitas saat ini adalah identitas isu: di sini saya mendukung kebebasan. Hal ini mungkin dapat meningkatkan kondisi distraksi dan tekanan psikologis individu, karena banyaknya pilihan dan konsep yang berubah. Bahayanya mungkin terletak pada dampaknya terhadap semua orang, seperti munculnya gerakan-gerakan sementara yang dipimpin oleh kaum muda dan terdesentralisasi yang beroperasi secara daring terlebih dahulu dan kemudian bergerak ke jalanan.
Dampak kolektif juga terletak pada transformasi konflik menjadi konflik isu-isu yang saling beririsan seperti identitas, lingkungan dan kesetaraan, menargetkan dan memengaruhi kaum muda dengan potongan video yang memupuk rasa kebebasan untuk mengkritik politik, tanpa menawarkan visi pembangunan, program yang terarah, atau solusi bagi isu-isu kontemporer yang krusial. Hal ini mungkin termasuk dalam kategori “manipulasi kesadaran”.
Kerangka ideologi tradisional telah hancur, tetapi esensinya—esensi kebutuhan manusia untuk menafsirkan dunia dan membentuk kembali hubungan sosial—tetap ada. Perbedaannya adalah generasi TikTok tidak memegang ideologi sebagai sistem tertutup, melainkan sebagai ruang yang terbuka, cepat, dan terfragmentasi, yang melemah kedalamannya tetapi berlipat ganda dalam penyebaran dan pengaruh instan.
Ideologi tidak mati, melainkan telah menjadi titik acuan parsial yang dipraktikkan dalam budaya digital. Di era TikTok, sikap/pendirian mungkin lebih diutamakan daripada proyek, dan tagar mungkin lebih kuat daripada slogan besar.
Generasi masa kini, yang mampu mengungkapkan nilai-nilainya dengan fasih, cerdas, dan dengan kemampuan teknologi yang mudah dan tersedia, membutuhkan konsolidasi nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari: kebebasan, keadilan, dan martabat—praktik yang mencerminkan antitesis dari citra stereotip masa lalu ideologi yang kaku, yang menciptakan kerangka kerja intelektual yang, ketika runtuh, mematahkan tulang generasi yang mempercayainya.[]
Tinggalkan Komentar