Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Ramadhan bukan sekadar bulan lain dalam kalender, tetapi momen transformatif dalam kehidupan manusia! Saat tiba, kebisingan dunia mereda, dan suara batin pun meningkat. Laju kehidupan melambat, dan hati menjadi lebih reseptif untuk memahami sebelum menghakimi, dan untuk memberi sebelum meminta.
Di bulan Ramadhan, memberi tidak diukur dari apa yang diberikan, tetapi dari apa yang meringankan penderitaan: makanan yang memuaskan rasa lapar, kata-kata yang menyembuhkan luka, keheningan bijaksana yang mencegah bahaya—semua tindakan yang tidak terlihat, namun meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Di sini, rahmat menjadi praktik sehari-hari, dan ketulusan berubah dari konsep abstrak menjadi tindakan sunyi yang tidak mencari pujian.
Puasa, pada intinya, adalah purifikasi yang komprehensif; rasa lapar mengajarkan kesabaran, kesabaran menumbuhkan karakter, dan karakter mengembalikan kemanusiaan ke bentuknya yang paling indah.
Menjaga lidah adalah ibadah, menahan diri dari menyakiti orang lain adalah sedekah, dan pengampunan adalah keberanian moral yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang kuat. Di bulan ini, alasan-alasan pun sirna, dan pertanyaannya tetap: Apa yang telah kita berikan kepada kehidupan orang lain?
Ramadhan menempatkan kemanusiaan di hadapan tanggungjawab sejatinya terhadap kaum miskin, kaum yang membutuhkan, dan mereka yang berbeda dari kita, bahkan terhadap diri kita sendiri.
Ramadhan mengajarkan kita bahwa amal baik yang tertunda seringkali tidak terwujud, bahwa tindakan memberi yang kecil namun konsisten lebih tulus daripada tindakan memberi yang besar namun terputus-putus, dan bahwa keadilan dimulai dari detail-detail kecil yang kita abaikan setiap hari.
Pesan Ramadhan tidak berakhir pada malam terakhirnya. Nilai-nilai yang memudar seiring berjalannya waktu tidak pernah benar-benar otentik. Hanya mereka yang membawa rahmat dan kasih sayang serta menjaga semangat memberi tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari yang benar-benar memahami Ramadhan.
Kesimpulannya, Ramadhan membuktikan bahwa memberi tidak membutuhkan kata, publisitas, atau pembenaran. Ia adalah kehadiran manusia yang murni, dipahami oleh hati, disaksikan dampaknya, dan tetap menjadi bukti bahwa ketika kebaikan dilakukan dengan tulus, ia tidak membutuhkan penjelasan.[]
Tinggalkan Komentar