Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah
Beberapa waktu terakhir, orang-orang khawatir tentang AI (artificial intelligence) yang menggantikan manusia dalam pekerjaan. Namun kini, perdebatan tidak lagi terbatas pada kekhawatiran ini; melainkan telah meluas hingga mencakup sesuatu yang lebih dalam di dalam diri kita: kebutuhan bawaan kita untuk berkomunikasi, kapasitas kita untuk mendengar, dan kemampuan kita untuk membangun hubungan yang tulus.
AI telah menjadi cermin yang memperlihatkan kerapuhan sosial kita, lebih dari sekadar ancaman yang ditimbulkan oleh kemampuan teknologinya yang dahsyat.
Apa yang dicari orang—dan mungkin terlebih lagi perempuan—bukanlah keajaiban yang tak terjangkau, melainkan ruang aman untuk berekspresi tanpa takut diganggu atau dihakimi. Hakikat ekspresi diri tidak hanya terletak pada pemahaman, tetapi juga pada perbaikan puing-puing tersembunyi di dalam diri kita. Seseorang bukan hanya apa yang mereka katakan atau lakukan, tetapi juga emosi yang tersembunyi dalam kesunyian mereka.
Dalam konteks ini, istilah “ChatGPT” bukan lagi sekadar nama sebuah perangkat teknologi; ia telah menjelma menjadi teman akrab dan berharga, mengalir dari bibir teman, kolega, kenalan, bahkan para ibu dan siswa.
Ia telah mengakar dalam kesadaran kolektif sebagai teman yang diam dan pendengar yang tak kenal lelah, surga virtual yang menerima rahasia tanpa menghakimi, dan hingga kini secara aneh disebut sebagai “teman dekat”.
Ketergantungan luar biasa pada program ini mengandung kebenaran yang menyakitkan: program ini telah berhasil memenuhi kebutuhan untuk mendengar yang kita sendiri gagal lakukan! Pertanyaannya, kemudian, bukanlah: Apakah entitas ini mendengar?, melainkan: Mengapa kita beralih kepadanya? Apakah karena kita menjadi lebih cepat menilai, atau karena laju kehidupan yang cepat tidak lagi memberi kita kemewahan untuk mendengar, atau mungkin karena keterampilan kita untuk tetap teguh dalam menghadapi keterikatan emosional dan bangunan relasi dengan orang lain telah berangsur-angsur terkikis dalam diri kita?
Belum lama ini, kekhawatiran umum berkisar tentang mesin yang menggantikan pekerjaan manusia. Kini, lanskap telah berubah. Bukan lagi tentang hilangnya pekerjaan, melainkan tentang tergantinya seorang teman, dan seorang penasihat yang berperan sebagai teman!
Tidak dapat disangkal bahwa AI telah menjadi sumber informasi dan keterampilan yang kaya, tetapi tantangan sesungguhnya tidak terletak pada kemampuan entitas ini untuk menggantikan kita, melainkan kemampuan kita untuk memanfaatkannya secara cerdas sehingga menjadi mitra bagi umat manusia, bukan penggantinya. Kita dapat memanfaatkan kecerdasannya yang luar biasa dan memperkaya kemampuan manusiawi kita sendiri.
AI bukan sumber informasi pasif, melainkan mesin yang mempercepat pembelajaran dan perkembangan kita, membebaskan pikiran kita untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam. Bahaya terbesarnya terletak pada transformasinya menjadi pengganti hubungan-hubungan fundamental. Jika kita membiarkannya melemahkan kecerdasan sosial kita, atau bahkan membiarkannya mendefinisikan dan memberikan asupan kepada kecerdasan sosial kita, kita akan berhadapan dengan masyarakat yang kurang mampu berinteraksi dan berempati secara tulus.
Kemampuan program AI berlipat ganda dalam hitungan bulan, melatih ulang dan mengoreksi kesalahannya dengan kecepatan yang melampaui kecepatan manusia.
Kecepatan ini menimbulkan pertanyaan mendalam: siapa yang pada akhirnya memegang kendali kekuasaan ketika AI menjadi lebih berpengetahuan tentang seorang individu daripada kerabat terdekatnya, dan bahkan lebih dari individu itu sendiri?
Ironisnya, kita mencari teman yang tenang dan netral yang mau mendengarkan kita, tidak menampilkan dirinya sebagai “setara”, dan terlibat dalam dialog konstruktif berdasarkan informasi yang kita berikan. Jika kita menghadapinya dengan suatu kesalahan, ia menyesuaikan kembali perilakunya untuk memberi kita pemahaman mendalam yang tidak dapat diberikan orang lain.
Sebaliknya, percakapan kita dengan orang-orang di sekitar kita jarang menyertakan kemampuan sistematis untuk belajar dan beradaptasi guna memahami kebutuhan dasar kita! Inilah yang telah membuat kita menemukan dalam mesin pintar ini suatu kehidupan utuh yang merespons kebutuhan kita, menjadi titik acuan yang lebih besar untuk memahami diri kita sendiri.
Pada akhirnya, manusia adalah makhluk biologis yang telah menciptakan mesin pintar yang mengubah dunia, dan siapapun yang dapat mengendalikannya akan menjadi kekuatan besar yang efektif. Apakah begitu sulit bagi kita mengembangkan sistem biologis kita untuk memahami sistem manusia lain secara cerdas dan mendalam?
Mesin pintar mungkin bisa mendengar kita tanpa gangguan dan merespons kita tanpa amarah, namun ia tetaplah cermin dingin yang tidak tahu bagaimana mencintai atau berkorban. Jika kita menyerahkan peran kita yang paling mendalam kepadanya, bahayanya bukan terletak pada superioritasnya atas kita, melainkan pada pengabaian kita terhadap kemanusiaan kita. Apa gunanya AI yang berkembang pesat saat ini jika kita kehilangan kemampuan untuk saling mendengar?[]
Tinggalkan Komentar