Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Dari hari ke hari perkembangan AI (artificial intelligence) semakin pesat. Dan dari sini kemudian muncul jenis model bahasa besar (LLM) seperti GPT dan Claude yang memukau kita dengan kemampuannya memahami dan menghasilkan teks seperti manusia, dan teknologi pembuat gambar seperti DALL-E dan Midjourney yang memukau kita dengan karya seninya yang kompleks.
Dalam hal ini, kita perlu kembali kepada Kitab Suci, Al-Qur’an, untuk mencari kompas moral dan spiritual guna mengarahkan perkembangan ini menuju kebaikan dan kebahagiaan umat manusia.
Umat manusia sedang menyaksikan revolusi teknologi dahsyat yang memunculkan pertanyaan mendalam tentang hakikat dan batas pengetahuan manusia, hubungan antara manusia dan mesin, serta masa depan eksistensi manusia di muka bumi di mana teknologi cerdas menjadi semakin kompleks dan otonom.
Di tengah lanskap yang terus berkembang pesat ini, Al-Qur’an berdiri sebagai mercusuar petunjuk dan kitab suci abadi, yang berisi bimbingan ilahi yang melampaui batas-batas ruang dan waktu.
Keistimewaan Manusia di Era Mesin Pintar
Kita merenungkan fenomena AI yang meniru kreativitas manusia, dan kita mendapati di dalamnya perwujudan hidup dari firman Allah Swt., “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda [kebesaran] Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa [Al-Qur’an] itu adalah benar,” [Q.S. Fushshilat: 53].
Kemampuan manusia mengembangkan sistem cerdas yang meniru beberapa aspek kecerdasan manusia merupakan salah satu tanda yang mendorong kita untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta yang telah menganugerahi manusia akal kreatif. Namun, apa yang membuat manusia menjadi manusia di dunia di mana mesin mahir meniru kreativitas manusia?
Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar hasil persamaan biologi dan kimia, melainkan makhluk yang telah ditiupkan roh Tuhan di dalamnya. “Dan telah Aku tiupkan roh [ciptaan]-Ku ke dalamnya,” [Q.S. Al-Hijr: 29]. Dimensi spiritual ini tetap menjadi rahasia Ilahi yang melampaui pemahaman manusia. “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit,” [Q.S. Al-Isra’: 85].
Keistimewaan manusia ini membentuk landasan pemahaman kita tentang hubungan antara manusia dan mesin; tidak peduli seberapa canggih algoritma dan seberapa rumit jaringan saraf, kesadaran manusia tetap unik dan melampaui simulasi mesin apa pun.
Suksesi dan Penggunaan Teknologi: Sebuah Tanggungjawab Moral
Al-Qur’an menyajikan visi unik tentang kedudukan manusia di alam semesta, yang memadukan penghormatan Ilahi (al-takrim al-ilahiy) dan tanggungjawab moral (al-mas’uliyyah al-akhlaqiyyah). Umat manusia dipercayakan untuk mengelola bumi, bertanggungjawab atas pengembangan dan perlindungannya. “[Ingatlah] ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi,” [Q.S. Al-Baqarah: 30].
Dualitas antara “penghormatan Ilahi” (al-takrim al-ilahiy) dan suksesi (al-istikhlaf, penunjukan manusia sebagai khalifah) ini mengarahkan manusia untuk mengembangkan teknologi dan menginvestasikannya dalam upaya memakmurkan bumi, sembari tetap berpegang pada prinsip-prinsip etika yang melindungi martabat manusia. Oleh karena itu, teknologi AI memperoleh nilainya sebagai alat pengelolaan positif, asalkan digunakan untuk melayani manusia dan meringankan penderitaannya, bukan untuk melanggar martabatnya atau menghapuskan perannya.
Seorang ilmuan kontemporer pernah berkata, “Suksesi di Bumi bukan sekadar kendali mutlak atas sumber dayanya, melainkan sebuah amanah dan tanggungjawab yang menuntut pemeliharaan keseimbangannya dan peningkatannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta, Yang Mahakuasa.” Dari sudut pandang ini, pengembangan AI harus diatur berdasarkan konsep suksesi dalam makna Al-Qur’an yang mendalam.
Kerendahan Hati Intelektual di Era Ledakan Informasi
Di era revolusi informasi yang masif ini, Al-Qur’an hadir untuk mengingatkan kita akan keterbatasan pengetahuan manusia: “Dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit,” [Q.S. Al-Isra’: 85].
Pengingat ini bukanlah ajakan kepada kebodohan atau hambatan bagi kemajuan sains, melainkan seruan untuk kerendahan hati intelektual yang melindungi umat manusia dari kesombongan dan tirani ilmiah.
Sungguh aneh melihat beberapa orang yang terpikat oleh teknologi AI berbicara tentang singularitas teknologi (technological singularity) seolah-olah itu adalah pembebasan final bagi umat manusia dari keterbatasan biologisnya! Seolah-olah teknologi akan menyelamatkan umat manusia dari kematian dan pemusnahan yang telah ditetapkan Tuhan bagi setiap jiwa! “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati,” [Q.S. Ali Imran: 185].
Al-Qur’an memperingatkan kita akan kesombongan manusia ketika ia menganggap dirinya mampu melakukan segalanya dengan pengetahuannya. “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba berkecukupan,” [Q.S. ‘Al-Alaq: 6 – 7]. Peringatan Allah ini seolah-olah berlaku untuk era kita saat ini, di mana sebagian orang beranggapan bahwa kemajuan teknologi telah membuat manusia tidak lagi bergantung pada iman, atau memiliki kendali penuh atas takdirnya.
Kompas Etika Al-Qur’an
Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, semakin meningkat pula kebutuhan akan kompas etika permanen untuk mengarahkan perkembangan tersebut. Al-Qur’an, dengan sistem nilai terpadunya, menyediakan kerangka etika sangat kokoh yang dapat mengarahkan pengembangan teknologi AI dan penerapannya.
Keadilan dan Kesetaraan; Algoritma yang Tidak Bias
Al-Qur’an menekankan prinsip keadilan yang komprehensif, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan,” [Q.S. Al-Nahl: 90]. Prinsip ini memandu manusia dalam merancang algoritma dan sistem AI untuk memastikannya tidak bias terhadap kelompok orang tertentu.
Kini diketahui bahwa banyak sistem AI yang bias rasial, gender, atau kelas, akibat bias yang terdapat dalam data pelatihannya. Bias-bias ini bertentangan dengan prinsip keadilan Al-Qur’an dan menuntut upaya sungguh-sungguh dari para pengembang untuk mengatasinya.
Kejujuran dan Perlindungan Privasi di Era Big Data
Al-Qur’an menyoroti nilai amanah sebagai tanggungjawab besar yang membedakan umat manusia, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanah itu oleh manusia,” [Q.S. Al-Ahzab: 72]. Di era big data, nilai ini sangat penting dalam melindungi privasi pengguna.
Bukankah sangat disayangkan melihat beberapa perusahaan teknologi raksasa mengumpulkan data para pengguna dan mengeksploitasinya untuk meraup keuntungan besar tanpa persetujuan mereka yang sah? Bukankah ini bentuk pelanggaran kepercayaan yang telah diperingatkan Al-Qur’an?
Kasih Sayang dan Kebajikan: Teknik untuk Melayani Kemanusiaan
Kasih sayang merupakan hakikat risalah Islam. “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,” [Q.S. Al-Anbiya’: 107]. Nilai inilah yang membimbing kita mengembangkan teknologi untuk meringankan penderitaan manusia dan meningkatkan kualitas hidup mereka, alih-alih menciptakan teknologi yang memicu konflik atau memperparah ketimpangan.
Sungguh menakjubkan melihat penerapan AI di bidang medis membantu mendiagnosis penyakit yang sulit diobati dan mengembangkan pengobatan baru! Dan betapa tragisnya, sebaliknya, melihat teknologi yang sama ini digunakan untuk mengembangkan senjata otonom yang mematikan, atau dalam sistem pengawasan massal yang melanggar privasi manusia!
Tantangan Etika di Era AI
Hal ini menunjukkan pentingnya berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an seperti kejujuran dan dapat dipercaya. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!,” [Q.S. Al-Taubah: 119]. Kejujuran bukan hanya nilai moral individu, tetapi landasan untuk membangun masyarakat yang sehat dan teknologi yang dapat diandalkan.
Tanggungjawab manusia adalah mengelola bumi yang nyata, bukan membenamkan diri dalam dunia maya yang mengalihkan mereka dari tugas sejati mereka terhadap diri sendiri, komunitas, dan lingkungan mereka.
Kita sedih melihat anak-anak muda menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam dalam dunia maya, terputus dari hubungan sejati dengan keluarga dan komunitas mereka! Bukankah ini bentuk pengabaian tanggungjawab yang telah Tuhan percayakan kepada umat manusia?
Menempatkan teknologi dalam konteks yang tepat sebagai alat untuk membantu umat manusia, bukan sebagai berhala baru yang darinya keselamatan diharapkan, merupakan hakikat dari bimbingan Al-Qur’an yang menempatkan keilahian pada tempat yang semestinya. “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” [Q.S. Al-Dzariyat: 56].
Kesimpulannya, sudah saatnya mengembangkan visi Islam yang komprehensif tentang AI—sebuah visi yang tidak hanya mengonsumsi teknologi Barat secara pasif, melainkan berupaya menghasilkan teknologi dan aplikasi yang berakar pada nilai-nilai Islam dan melayani tujuan-tujuan kemanusiaan.
Visi ini membutuhkan upaya di berbagai tingkatan. Saat ini, sebagai umat yang membawa pesan ilahi kepada seluruh manusia, umat Muslim berkewajiban untuk berpartisipasi aktif dalam membentuk masa depan teknologi, bukan hanya menjadi konsumen pasifnya.
Di era kemajuan teknologi yang pesat dan meningkatnya kompleksitas ini, Al-Qur’an tetap menjadi rujukan yang tak berubah dan tak tergoyahkan. Kita dibimbing oleh cahaya dan ajarannya, agar kita dapat membangun masa depan di mana sains dan iman, teknologi dan nilai-nilai, serta akal dan spiritualitas terintegrasi ke dalam sistem yang seimbang untuk mewujudkan kesejahteraan manusia, menjaga martabat manusia, dan mengangkat jiwa manusia.[]
Tinggalkan Komentar