Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
“Kalian telah menyelamatkan Masjid Al-Aqsa—kiblat pertama dari dua kiblat, masjid kedua yang dibangun di muka bumi, dan tempat suci ketiga yang disucikan agama ini. Segala puji bagi kalian, wahai pasukan yang melalui tangan kalian terwujud mukjizat kenabian! Di dalam diri kalian terpancar keteguhan Abu Bakr di masa sukar, keberhasilan penaklukan Umar, keluhuran sifat pasukan Utsman, dan keagungan keberanian Ali! Kalian telah menghidupkan kembali bagi Islam kemenangan Qadisiyah, kebesaran kisah Yarmouk, keberanian di medan Khaibar, dan ketangkasan pasukan di bawah pimpinan Khalid. Semoga Allah—atas nama Nabi-Nya Saw.—membalas kalian dengan pahala yang paling baik, dan menerima pengorbanan nyawa yang kalian persembahkan demi membela kebenaran!”
Demikianlah sepintas kalimat yang terangkum dalam “Pidato Kemenangan”, yang disampaikan oleh Ketua Mahkamah Agung Muhyiddin ibn al-Zaki al-Syafi’i (w. 598 H/1105 M) di hadapan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (w. 589 H/1193 M), tepat pada shalat Jumat pertama yang dilaksanakan di halaman Masjid Al-Aqsa setelah pembebasannya dari cengkeraman Tentara Salib pada tahun 583 H/1187 M. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Syihabuddin Abu Syamah al-Maqdisi (w. 665 H/1267 M) dalam karyanya, Kitâb al-Rawdhatayn fî Akhbâr al-Dawlatayn al-Nûrîyyah wa al-Shalâhîyyah.
Namun, bagaimanakah kisah penaklukan agung ini berawal, serta sederet kemenangan yang menyusul sesudahnya? Bagaimanakah rentang perjuangan pembebasan yang berlangsung tak kurang dari dua abad penuh, dengan panji-panji kebenaran yang senantiasa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? Faktor-faktor apa saja—baik dari segi politik, militer, maupun kerohanian—yang mewarnai corak perlawanan sebuah peradaban yang begitu gagah berani tegak menghadapi penjajahan?
Kisah perjuangan pembebasan ini bukanlah milik seorang raja semata, pula bukan kisah satu bangsa saja. Sebaliknya, ia adalah sebuah epos agung yang benang-benang ceritanya terjalin perlahan namun kokoh menjadi satu kesatuan. Awal mula terwujudnya tekad itu tampak dari pijaran-pijaran perlawanan yang menyala di sejumlah wilayah tatkala serangan pertama datang—sebuah tanda bahwa bangsa ini bulat tekadnya untuk tak pernah rela tunduk dan menyerah!
Guna menjawab tantangan serangan Tentara Salib, disusunlah sebuah rancangan jangka panjang bagi sebuah bangsa yang terlebih dahulu harus meraih kemenangan di ranah kesadaran, sebelum kemenangan di medan laga. Hal ini menuntut pemahaman yang mendalam akan hakikat pembebasan—yang tingginya bersumber dari persatuan, dan buah manisnya adalah kemerdekaan seutuhnya. Di barisan paling depan berdiri para pemuka yang bertekad memimpin, bermula dari para pemimpin Seljuk di Mosul dan segenap penjuru Irak, lalu berlanjut melalui dinasti Zengid di tanah Levant, yang merancang segenap langkah demi langkah menuju pembebasan. Rencana itu dimulai dengan menyatukan segenap kekuatan Islam di Levant dan Mesir, terlebih dahulu menutup segala celah kelemahan politik, lalu diperkokoh dengan semangat pembaharuan akidah, kesadaran yang lurus, serta pembangunan menyeluruh yang bersumber dari keteguhan para ulama pembaharu dan para pemuka yang tulus ikhlas.
Kemudian cahaya perjuangan itu semakin meluas seiring tegaknya dinasti Ayyubiyah, yang mendasarkan dan menumbuhkan tunas-tunas perjuangan tersebut di tanah Mesir pada masa-masa penuh perubahan sejarah. Di bawah pemerintahan mereka, Masjid Al-Aqsa kembali ditegakkan sebagai tempat suci ketiga yang dimuliakan agama, sehingga semakin mengukuhkan kedudukannya di hati segenap umat Muslim melalui kesetiaan dan kerinduan beribadah yang tak terputus.
Meski berkali-kali dihadapkan pada rintangan dan kemunduran, tekad pembebasan itu tak pernah surut, dan terus berjalan dengan kekuatan yang tak kunjung padam hingga Kesultanan Mamluk tampil memegang kendali. Para pemimpinnya kemudian menyusun langkah demi langkah yang runtut dan menyeluruh, yang pada akhirnya membuahkan kemenangan yang menentukan arah sejarah.
Melalui perlawanan yang tak putus-putusnya dari generasi ke generasi, dan dalam pelbagai bentuk pengorbanan yang tiada henti, segenap tanah Arab dan Islam—meliputi Levant hingga Mesir—akhirnya bersih sepenuhnya dari pendudukan Tentara Salib. Keadaan itu bertahan selama hampir lima abad lamanya, hingga kemudian Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte (w. 1236 H/1821 M) berusaha membangkitkan kembali ambisi lamanya, seraya melancarkan kembali kampanye peperangan yang menyerupai Perang Salib melalui ekspedisinya ke tanah Mesir dan pesisir Levant pada tahun 1212 H/1797 M.
Hal itu sejatinya bukan hal yang asing bagi Prancis, sebab Perang Salib yang pertama kala itu sebagian besar memang digerakkan oleh bangsa Prancis, demikianlah yang dikemukakan oleh sejarawan besar Will Durant (w. 1981) dalam karyanya yang masyhur, The Story of Civilization. Demikian pula halnya dengan pendudukan yang kini masih menindas tanah Palestina, serta segala agresi yang tiada henti menimpa rakyat Gaza, Yerusalem, dan penjuru lainnya—hal itu tak lain adalah kelanjutan dari serangkaian ambisi Barat. Di mana tipu daya kaum Zionis kini menggantikan pengkhianatan yang pernah dilakukan Tentara Salib dahulu, meniru segenap cara perluasan wilayah dan pola pengepungan yang mereka jalankan!
Maka, perjuangan pembebasan yang agung ini tetaplah menjadi teladan yang senantiasa menginspirasi. Ia membuktikan betapa jalan kemenangan dapat diraih, betapa rintangan yang tampak mustahil pun dapat diatasi, serta membuktikan pula bahwa segala upaya membangkitkan kemuliaan bangsa boleh jadi berbeda dalam bentuk dan jalannya, namun semuanya bersepakat pada satu hakikat yang menjadi jiwanya: “bersatu demi persatuan, berjuang demi pembebasan!”
Suasana Kacau Balau Menjelang Datangnya Tentara Salib
Selama setengah abad sebelum invasi besar Tentara Salib melanda wilayah Levant Islam (440–490 H/1049–1099 M), peta politik di kawasan itu senantiasa diliputi kekacauan, perselisihan dalam negeri, serta perpecahan yang tak kunjung usai. Pada awal kurun waktu tersebut, Dinasti Buyid yang berkuasa di Irak runtuh dan lenyap, digantikan oleh kekuasaan bangsa Seljuk yang tumbuh pesat menjadi imperium luas, membentang dari Asia Tengah hingga pesisir Laut Tengah.
Sementara itu, Mesir berada di bawah kekuasaan Khalifah Fatimiyah. Akan tetapi, nasib mereka serupa dengan para Khalifah Abbasiyah saat itu—kedudukannya semakin lemah dan sekadar menjadi lambang di bawah kendali para pejabat tinggi yang kemudian dikenal dengan sebutan “Wazir Agung”. Kondisi ini mendorong bangsa Seljuk untuk bergerak menguasai wilayah Levant lebih dulu, tepat sebelum Wazir Agung Fatimiyah yang berkuasa, al-Afdhal al-Jamali al-Armani (w. 515 H/1121 M), berhasil merebut kembali Palestina dan Yerusalem pada tahun 491 H/1098 M—setahun sebelum kedatangan pasukan Perang Salib I.
Keberhasilan bangsa Seljuk dalam membangkitkan kembali kekuatan umat Muslim serta memperluas pengaruhnya hingga ke wilayah kekuasaan Bizantium—terlebih setelah menghancurkan pasukan mereka dalam Pertempuran Manzikert pada tahun 463 H/1071 M—memicu kekhawatiran besar di segenap penjuru Eropa. Hal inilah yang kemudian memicu dicanangkannya Perang Salib melawan dunia Islam, di mana pihak musuh memanfaatkan sepenuhnya perpecahan dan kelemahan yang melanda kawasan strategis umat Muslim di Irak, Suriah, hingga Mesir.
Perlu dicatat pula bahwa serangan dari arah barat ini berlangsung berbarengan dengan berlangsungnya gerakan Rekonkuista di Semenanjung Iberia. Tanda pertamanya tampak dari jatuhnya kota Toledo pada tahun 478 H/1085 M, serta penaklukan pulau Sisilia oleh bangsa Normandia pada tahun 484 H/1091 M—berawal dari ekspedisi awal mereka atas pulau tersebut pada tahun 444 H/1053 M.
Mencermati kesamaan rentetan peristiwa tersebut, Imam Abu al-Hasan al-Sulami al-Dimasyqi (w. 500 H/1106 M) mencatat hal yang sungguh patut direnungkan dalam karyanya yang berjudul Kitâb al-Jihâd. Buku ini ia susun tak lama setelah jatuhnya Yerusalem ke tangan musuh, guna membangkitkan semangat bangsa agar bangkit membela tanah air dan tempat-tempat suci mereka. Ia menyampaikan: “Sekelompok pasukan asing telah merebut pulau Sisilia tatkala penduduknya sedang terpecah-belah dan saling berselisih. Demikian pula mereka merebut kota demi kota di segenap penjuru Andalusia. Kemudian, tatkala berita tentang perselisihan para penguasa di kawasan ini (Levant) sampai kepada mereka, mereka pun memutuskan untuk melancarkan serangan. Dan Yerusalem—itulah tujuan akhir ambisi besar mereka di segenap negeri itu!”
Di tengah situasi dalam negeri maupun kawasan yang serba gawat tersebut, pada tanggal 27 November 1095 M (bertepatan dengan akhir bulan Dzulqa’dah tahun 488 H), Paus Urbanus II (w. 492 H/1099 M) menyampaikan khutbah bersejarah di Biara Clermont, Prancis selatan. Khutbah yang ia sampaikan dalam bahasa Latin itu bergema jauh hingga sepanjang masa, bahkan sejarawan Will Durant dalam karyanya yang masyhur, The Story of Civilization, menyebutnya sebagai “pidato yang paling dahsyat pengaruhnya dalam seluruh rentengan sejarah Abad Pertengahan!”
Seruan Perang Salib: Motif Tersembunyi dan Pembentukan Negara-Negara Salib
Dalam pidatonya tersebut, Paus menyerukan kepada seluruh rakyat Eropa untuk melancarkan kampanye bersenjata di bawah panji “Salib”, guna membantu saudara-saudara seiman mereka di Bizantium dalam menghadapi bangsa Turki, sekaligus untuk “membebaskan” Tanah Suci dari cengkeraman umat Muslim yang disebutnya “kafir”. Sejarawan sekaligus rohaniwan yang turut serta dalam Perang Salib Pertama, Fuchs dari Chartres (w. 521 H/1127 M), mencatat isi khotbah Paus Urbanus dalam karyanya, yang antara lain berbunyi:
“Segeralah menolong saudara-saudara kalian di Timur … bangsa Turki telah menyerang mereka, sebagaimana yang telah banyak kalian ketahui. Mereka telah meneruskan kemajuan hingga memasuki wilayah Kekaisaran Romawi Timur di Anatolia, bahkan hingga mencapai pesisir Laut Tengah … Secara bertahap mereka merebut wilayah-wilayah umat Kristen dan telah mengalahkan mereka dalam tujuh pertempuran yang telah berlalu. Oleh karenanya—dengan didasari doa yang tulus—sesungguhnya bukan aku, melainkan Tuhan sendiri, yang mendesak kalian, wahai para pejuang Kristus, untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat, baik ksatria maupun prajurit, kaya maupun miskin, agar segera memusnahkan bangsa yang tercela ini dari tanah air kita!”
Sementara itu, sejarawan Durant merangkum motif utama pecahnya Perang Salib menjadi tiga alasan yang mendasar: Pertama, kemajuan pesat bangsa Turki Seljuk; kedua, kelemahan yang sangat parah dan membahayakan kelangsungan Kekaisaran Bizantium; ketiga, keinginan kuat kota-kota dagang Italia seperti Pisa, Genoa, Venesia, dan Amalfi untuk memperluas wilayah pengaruh dan jaringan perdagangan mereka yang terus berkembang. Atas dasar hal-hal tersebut, Durant berkesimpulan bahwa “Perang Salib, pada hakikatnya, merupakan peperangan yang bersifat kolonial, yang bertujuan utama untuk melakukan penaklukan sekaligus meraih keuntungan ekonomi”.
Mengingat adanya motif politik dan ekonomi yang mendalam tersebut, yang kemudian diperkuat dengan emosi yang meluap-luap serta seruan keagamaan yang membara, ajakan Paus Urbanus pun bergema ke segenap penjuru Eropa Tengah dan Barat. Hal ini melahirkan pasukan besar Perang Salib Pertama yang kemudian bergerak menuju wilayah dunia Islam. Gelombang ini, beserta kampanye-kampanye berikutnya yang beragam tingkat keberhasilannya, berhasil mengokohkan kekuasaan mereka di wilayah Syam dan pesisirnya selama kurang lebih dua abad. Selama masa pendudukan tersebut, mereka mendirikan empat negara bagian Salib: Kabupaten Edessa yang terletak di bagian utara Mesopotamia, di antara kota Aleppo dan Mosul (berdiri tahun 491 H/1098 M); Kabupaten Antiokhia (491 H/1098 M); serta Kabupaten Tripoli (503 H/1109 M). Seluruh wilayah ini kemudian diletakkan di bawah satu kekuasaan tertinggi yang dikenal sebagai Kerajaan Yerusalem, yang diproklamasikan berdirinya pada tanggal 2 Ramadan tahun 492 H, bertepatan dengan tanggal 22 Juli tahun 1099 M.
Demikianlah bermulanya masa pendudukan bangsa Eropa di wilayah tersebut. Uraian selengkapnya mengenai perjalanan sejarah masa itu tidak akan dibahas lebih lanjut di sini. Sebaliknya, pembahasan akan lebih difokuskan pada hal-hal yang melandasi lahirnya gerakan perlawanan yang besar dan mampu bertahan secara turun-temurun dalam menghadapi kekuasaan tersebut, serta bagaimana kepemimpinan perjuangan—yang menyatukan para penguasa, para ulama, dan segenap lapisan masyarakat—berpindah dari kota Mosul di Irak, menuju Aleppo dan Damaskus di wilayah Syam, hingga akhirnya berpusat di Kairo, Mesir—tempat di mana kekuatan militer dan kemauan politik bersatu padu untuk mewujudkan kemerdekaan dan mengakhiri masa pendudukan.
Gelombang Perlawanan dan Jejak Sejarah di Masa Awal Kedatangan Tentara Salib
Proyek perlawanan umat Muslim terhadap pendudukan Tentara Salib Eropa sesungguhnya merupakan suatu gerakan yang meluas dan menyeluruh. Seluruh masyarakat di wilayah Anatolia, Irak, Levant, hingga Mesir turut mendukung dan memikulnya—kawasan-kawasan yang sepanjang masa dan pergantian kekuasaan senantiasa berada dalam konfrontasi langsung dan terus-menerus dengan Tentara Salib, yang dalam catatan sejarah dikenal dengan sebutan kaum Frank.
Memang benar bahwa gerakan perlawanan ini belum berjalan seirama maupun terkoordinasi secara rapi hingga munculnya para penguasa Mosul yang tangguh, yaitu Maudud ibn Altuntakin (w. 507 H/1113 M) yang memimpin sejak tahun 503 H/1109 M, disusul penerusnya Aqsunqur al-Bursuqi (w. 520 H/1126 M) sejak tahun 507 H/1113 M, dan kemudian Imaduddin Zanki (w. 541 H/1146 M). Namun demikian, benih-benih perlawanan sesungguhnya telah tumbuh sejak langkah pertama kedatangan Tentara Salib ke tanah Levant, tepatnya sejak tahun 493 H/1100 M, sebagaimana akan dikupas selanjutnya.
Sulaiman ibn Quthlumusy al-Saljuk—pendiri Kesultanan Seljuk Anatolia—gugur pada tahun 479 H/1087 M akibat pengkhianatan sepupunya, Tutush ibn Sultan Alp Arslan (w. 487 H/1094 M), dalam peperangan saudara di dekat kota Aleppo. Kematiannya menjerumuskan wilayah Anatolia ke dalam kekacauan dan konflik internal. Peluang ini pun dimanfaatkan sepenuhnya oleh Tentara Salib yang kemudian masuk dan menaklukkan kekuasaan Seljuk dalam pertempuran dahsyat di Dorylaeum (dekat Eskişehir), Nikaia, dan kawasan lainnya pada tahun 490–491 H/1097–1098 M. Pasukan mereka pun terus bergerak menuju pesisir Levant, menguasai wilayah tersebut, hingga akhirnya tiba di kota Yerusalem pada tahun 492 H/1099 M.
Di balik beratnya peristiwa-peristiwa tersebut, tersulutlah benih berdirinya kekuasaan bangsa Turki yang bermula dari penguasaan wilayah Anatolia oleh bangsa Seljuk di bawah kepemimpinan Sultan Alp Arslan (w. 465 H/1073 M), pasca kemenangan dalam Pertempuran Malazgirt pada tahun 463 H/1071 M.
Tokoh sentral yang mengukuhkan kekuasaan ini adalah Pangeran Kumusytekin ibn Danishmend Tailu (w. 499 H/1106 M), seorang tokoh kepercayaan dekat Sultan Sulaiman ibn Quthlumusy. Ia dijuluki “Ibnu Danishmend” karena ayahnya merupakan seorang guru bagi masyarakat setempat, dan kedudukannya terus berkembang hingga akhirnya memerintah wilayah Anatolia bagian timur dan tengah. Demikianlah uraian yang dikemukakan sejarawan Ibnu al-Atsir (w. 630 H/1233 M) dalam karyanya, al-Kâmil fî al-Târîkh.
Di antara kekuasaan Tentara Salib yang paling mengancam wilayah kekuasaan Ibnu Danishmend adalah Kepangeranan Antiokhia yang dipimpin oleh Bohemond I (w. 505 H/1111 M)—yang dalam sumber-sumber Islam dikenal dengan sebutan “Bimund”. Ia bercita-cita memperluas kekuasaannya hingga ke utara Suriah, termasuk kota Aleppo dan Azaz. Ambisi tersebut mulai diwujudkannya pada tahun 493 H/1100 M. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu al-Qalanisi (w. 555 H/1160 M) dalam kitabnya, Târîkh Dimasyq: “Pada tahun itu, Bimund—Raja kaum Frank dan penguasa Antiokhia—berangkat menuju benteng Apamea dan mengepungnya.”
Kumushtekin ibn Danishmend menyadari sepenuhnya bahaya besar apabila Tentara Salib berhasil menguasai Aleppo dan wilayah sekitarnya, karena hal itu pasti akan membuka jalan bagi mereka untuk menguasai wilayah umat Muslim di Irak bagian utara maupun wilayah Anatolia. Atas dasar itulah, Kumushtekin menyusun suatu siasat perang yang cerdik: ia bergerak mengepung kota Malatya di wilayah Anatolia selatan. Kota tersebut saat itu diperintah oleh kaum Armenia di bawah pimpinan Gabriel dari Armenia (w. pasca 493 H/1100 M), yang bersekutu erat dengan Bohemond, Pangeran Antiokhia. Kumushtekin memperhitungkan bahwa Gabriel pasti akan memohon bantuan kepada Bohemond—sebagaimana ditegaskan pula oleh Ibnu al-Atsir dalam uraiannya: “Penguasa kota Malatya pun segera mengirim surat kepadanya meminta pertolongan. Maka berangkatlah Bohemond mendatanginya membawa pasukan berjumlah sekitar lima ribu prajurit.”
Kemenangan di Tanah Anatolia: Penangkapan Bohemond dan Kekalahan Pasukan Salib Tahun 1101 M
Komushtekin bersiap menyambut kedatangan musuhnya—Bohemond I, Pangeran Antiokhia—beserta segenap pasukannya. Namun takdir berkata lain. Sejarawan Perang Salib, William dari Tyre, mencatat dalam karyanya bahwa Bohemond justru jatuh ke dalam tawanan musuh dan dibelenggu, sebuah kemenangan gemilang bagi bangsa Danishmend.
Penangkapan Bohemond I—salah satu pemimpin terbesar Perang Salib I—bagaikan gempa yang mengguncang Eropa. Kabar tersebut tersebar dengan sangat cepat. Paus Paschal II pun menyerukan langkah penyelamatan. Kerumunan orang berkumpul dan pasukan dikerahkan dari Italia, Prancis, hingga Jerman, dengan dua tujuan: membebaskan sang pangeran dan membalas penghinaan yang dianggap timbul dari bangsa Turki. Padahal, baru satu tahun sebelumnya Yerusalem dan berbagai kota pesisir Levant jatuh ke tangan mereka.
Mengenai pergerakan pasukan penyelamat ini serta pertempuran yang terjadi dengan bangsa Danishmend, Ibnu al-Atsir menceritakan dalam kitabnya, al-Kâmil fî al-Târîkh, bahwa pada bulan Dzulqa’dah tahun 493 H/1100 M, tujuh orang pangeran bangsa Frank tiba melalui jalur laut. Mereka berniat membebaskan Bohemond. Pasukan tersebut bergerak hingga mencapai benteng Angkara, merebutnya, dan membunuh kaum Muslimin yang berada di dalamnya. Mengetahui hal itu, Ibnu Danishmend mengerahkan pasukan besar dan berhadapan dengan bangsa Frank di wilayah Merzifun. Dalam pertempuran itu, hampir tidak ada yang selamat dari pihak musuh. Jumlah pasukan mereka dikabarkan mencapai tiga ratus ribu orang.
Angka-angka tersebut turut dibenarkan oleh sejarawan bangsa Latin. Sebagian ahli sejarah bahkan menganggap kekalahan di Merzifun, Anatolia Utara, sebagai Perang Salib “Kedua” yang sesungguhnya—peristiwa yang sangat penting, namun sering terabaikan dalam catatan sejarah yang keliru meremehkan kekuatan bangsa Turki Danishmend.
Ibnu al-Atsir menambahkan bahwa Komushtekin memanfaatkan kemenangan tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju Malatya. Ia berhasil menaklukkan kota itu dan menawan penguasanya, Gabriel dari bangsa Armenia. Tak lama kemudian, pasukan Frank bergerak dari Antiokhia untuk membalas, namun Komushtekin kembali menyambut dan mengalahkan mereka. Seluruh peristiwa besar itu terjadi hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja.
Komushtekin menyadari bahaya yang mengancam. Pasukan Salib berdatangan dalam jumlah puluhan ribu dengan tujuan menaklukkan seluruh Anatolia. Ia pun memahami bahwa perselisihan antar-saudara seiman—antara bangsa Danishmend dan Kesultanan Seljuk Rum—harus diakhiri demi menghadapi ancaman bersama. Maka ia pun mengirim pesan kepada Sultan Kilij Arslan I, mengajak untuk bersatu dan bekerja sama melawan musuh. Sang Sultan menerima tawaran itu.
Ketika pasukan Salib akhirnya mencapai Konya, ibu kota Seljuk, mereka tidak menemukan perlawanan yang terpecah belah. Sebaliknya, pasukan gabungan kaum Muslimin telah menanti mereka di wilayah Heraklia, sebelah timur Konya. Pada awal September tahun 1101 M, pasukan gabungan Turki melancarkan serangan dan menghancurkan kekuatan musuh. Sejarawan Said Asyur mencatat dalam karyanya bahwa nyaris tidak ada yang selamat, kecuali sejumlah kecil yang berhasil meloloskan diri dengan penuh kesulitan.
Kemenangan gemilang pasukan Danishmend dan Seljuk Rum atas pasukan Salib tersebut berhasil menghentikan kemajuan mereka di jalur darat selama setengah abad. Kemenangan ini pula membangkitkan kembali semangat perlawanan umat Muslim di Irak dan Levant pada masa-masa awal pendudukan. Wilayah utara Anatolia kini menjadi benteng yang kokoh, yang mampu menghambat segala upaya pergerakan pasukan Salib menuju ke selatan melalui jalur darat. Akibatnya, Eropa terpaksa mengandalkan jalur laut sepenuhnya untuk mengirimkan bantuan dan perbekalan kepada pasukan mereka yang tertahan di Levant.
Pemerintahan yang Terpecah dan Awal Perlawanan di Levant Pasca-Kedatangan Tentara Salib
Setelah Tentara Salib menguasai sebagian besar wilayah pesisir—dari Antiokhia di utara hingga Askalon di Selatan—serta kawasan Palestina, wilayah pedalaman Levant tetap berada di bawah kekuasaan Kesultanan Seljuk Suriah (471–511 H/1078–1117 M). Pada masa itu, Ridhwan bin Tutusy bin Alp Arslan (w. 507 H/ 1113 M) memerintah Aleppo dan wilayah sekitarnya, sedangkan saudaranya, Duqaq bin Tutusy (w. 497 H/1104 M), memegang kekuasaan di Damaskus dan daerah sekitarnya. Persaingan yang terus berlanjut antara keduanya demi pengaruh dan dominasi atas Suriah utara dan selatan secara efektif melumpuhkan kemampuan kawasan Levant untuk melancarkan perlawanan yang bersatu selama hampir dua puluh tahun.
Ridhwan dikenal luas sebagai penguasa yang kebijakannya lemah, penuh ketidakpastian, dan cenderung mencari keuntungan sendiri. Sejarawan Ibnu Al-Atsir menuliskan beberapa ciri kepemimpinannya, dengan menyebutkan: “Tindakan-tindakan Ridhwan tidak patut dicontoh … dalam banyak hal ia bersandar pada golongan Ismailiyah, karena lemahnya keteguhan agamanya.” Ridhwan juga dikenal memiliki hubungan yang tampak tunduk kepada Tentara Salib; ia kerap mengirim surat kepada Tancred (w. 506 H/1112 M), penguasa Antiokhia, guna memohon dukungan dalam perselisihannya dengan para penguasa Turki tetangga.
Sementara itu, saudaranya, Duqaq, memerintah dengan kedudukan yang lemah sejak awal hingga akhir masa jabatannya. Ia menderita penyakit yang berkepanjangan hingga berakhir dengan wafatnya. Saat itulah, Zhahiruddin Tughtekin al-Buri (w. 522 H/1128 M), panglima angkatan perang, mengambil alih kendali pemerintahan Damaskus, menjadikannya kekuasaan yang diwariskan kepada keturunannya—demikian sebagaimana dicatat oleh Ibnu Asakir (w. 571 H/1175 M) dalam karyanya, Târîkh Dimasyq.
Demikianlah bermula kekuasaan Dinasti Buri di Damaskus, yang berlangsung hingga tahun 549 H/1154 M. Pendiri dinasti ini, Tughtekin, tampil lebih tegas dalam menghadapi kehadiran Tentara Salib yang berkedudukan di kawasan Palestina dan pesisir Levant. Pada tahun 501 H/1117 M, sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M) dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ`, Tughtekin memimpin pasukan Damaskus dan berhasil mengalahkan bangsa Frank, sekaligus menewaskan Jirmas, penguasa Tiberias. Pada tahun berikutnya, ia kembali memimpin pasukan berjumlah dua ribu orang dan berhadapan dengan pasukan Frank. Meskipun musuh sempat menekan barisan pasukannya, Tughtekin tetap teguh berdiri. Akhirnya musuh mundur, dan pasukannya berhasil meraih kemenangan serta merebut kemah-kemah Tentara Salib.
Jika para penguasa Seljuk di Anatolia dan Levant telah berperan dalam menahan laju kemajuan Tentara Salib serta memukul mundur serangan-serangan mereka terhadap desa-desa, kota-kota, serta rombongan dagang dan jamaah ziarah, maka Sultan Seljuk Irak dan para panglima besar mereka turut memberikan sumbangan yang besar pula dalam perjuangan ini. Bahkan para sejarawan sepakat bahwa pemerintahan Atabeg di Mosul menjadi titik balik utama dalam perjuangan membebaskan Levant dari cengkeraman pendudukan. Berkat fondasi yang mereka bangun di Levant, tahapan-tahapan pembebasan selanjutnya pun tersusun, yang kemudian disusul dengan turut serta Mesir dalam perjuangan—rangkaian yang akhirnya berujung pada lenyapnya kehadiran Tentara Salib dari tanah tersebut.
Perpecahan yang Melemahkan: Konflik Internal Seljuk dan Dampaknya Terhadap Perjuangan Melawan Tentara Salib
Pasca wafatnya Sultan Malik Syah ibn Alp Arslan pada tahun 485 H/1092 M, hingga masa berakhirnya kekuasaan putranya, Sultan Barkiyaruq, pada tahun 497 H/1104 M, wilayah kekuasaan Seljuk dilanda perang saudara yang berkepanjangan. Para putra Malik Syah saling berselisih dan mengangkat senjata demi memperebutkan takhta kekuasaan. Perpecahan ini dimanfaatkan sepenuhnya oleh Tentara Salib untuk melancarkan invasi, menduduki wilayah Syam dan Yerusalem, serta melakukan berbagai kekejaman di atas tanah Islam.
Sejarawan Ibnu al-Atsir dalam karyanya yang termasyhur, al-Kâmîl fî al-Târîkh, dengan gamblang menguraikan hubungan erat antara keberhasilan serangan Tentara Salib dan perpecahan di kalangan penguasa Muslim. Ia menuliskan: “Para sultan saling berselisih … dan kaum Frank pun dengan leluasa menguasai wilayah-wilayah tersebut!” Ibnu al-Atsir juga mencatat dampak mendalam dari perpecahan ini terhadap kondisi umat Muslim saat itu, dengan menyatakan: “Ketika kaum Frank memperluas kekuasaannya di negeri Islam, sementara para penguasa dan pasukan Muslim sibuk saling berperang, hati umat pun terbelah, tujuan menjadi beragam, dan harta benda pun habis terbuang sia-sia!”
Setelah bertahun-tahun terjerat konflik internal, para pihak yang berselisih akhirnya mencapai kesepakatan pada tahun 496 H/1103 M untuk membagi wilayah kekuasaan kesultanan. Hal ini diceritakan oleh Shadruddin al-Husaini (w. 622 H/1225 M) dalam karyanya, Akhbâr al-Dawlah al-Saljûqîyyah, di mana ia menyebutkan bahwa dalam kesepakatan tersebut, Sultan Muhammad ibn Malikshah (w. 511 H/1117 M) memperoleh wilayah Transoksiana beserta Mosul dan wilayah Syam.
Di bawah pemerintahan Sultan Ghiyatsuddin Muhammad ibn Malik Syah—dan kemudian dilanjutkan oleh kedua putranya yang saling bersaing, Mahmud (w. 525 H/1131 M) dan Mas’ud (w. 547 H/1152 M)—upaya dilakukan untuk memperkuat kedudukan penguasa-penguasa bawahan di wilayah tersebut, terutama wilayah pemerintahan Atabeg di Mosul. Di bawah kepemimpinan Qawam al-Daulah Karabugha (w. 495 H/1102 M), Atabegate Mosul menjadi garda terdepan perlawanan terhadap Tentara Salib, yang dimulai dengan serangan besar-besaran guna membebaskan Antiokhia pada tahun 491 H/1098 M.
Ibnu al-Adim (w. 660 H/1262 M) dalam karyanya, Zubdah al-Halab fî Târîkh Halab, menuliskan: “Ketika kaum Frank mengepung Antiokhia, mereka menggali parit guna memutus jalannya bantuan dan menahan pasukan kota agar tidak keluar menyerang … Maka Karabugha, penguasa Mosul, mengerahkan pasukan yang sangat besar dan menyeberangi Sungai Eufrat” untuk memukul mundur pasukan musuh. Dengan demikian, jelaslah bahwa Karabugha, penguasa Seljuk di Mosul, adalah salah satu panglima yang memimpin langsung barisan pembela Antiokhia sebelum kota itu jatuh ke tangan musuh.
Setelah Karabugha wafat, kekuasaan di Mosul diteruskan oleh Pangeran Jekermish (w. 500 H/1106 M). Meskipun Jekermish terlibat perselisihan yang berdarah dengan dinasti Turkmen Artuqid yang berkuasa di Diyarbakir dan wilayah utara Mesopotamia di bawah pimpinan Suqman ibn Artuq (w. 497 H/1104 M), kepentingan bersama melawan musuh tetap mendahului perselisihan pribadi. Kedua panglima itu akhirnya bersatu menghadapi pasukan Salib di Edessa dan Antiokhia. Ketika pasukan mereka bergerak membebaskan Harran, masing-masing menyampaikan pesan kepada yang lain, menyatakan kepasrahan mereka kepada Allah dan mengharap pahala-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu al-Atsir.
Dalam pertempuran yang meletus, pasukan Muslim berhasil meraih kemenangan gemilang. Pasukan Salib dipukuli dan banyak yang tewas, sementara para pejuang dari kaum Turkmen kembali dengan penuh kemenangan membawa banyak rampasan perang. Bahkan Baldwin I (w. 512 H/1118 M), penguasa wilayah Edessa buatan kaum Salib, pun tertawan dalam kekalahan yang menimpa pasukannya.
Pergeseran Besar: Kemenangan Harran dan Kembalinya Inisiatif Perlawanan Islam
Kota Harran berhasil diselamatkan dari pendudukan Tentara Salib berkat kerja sama dan persekutuan yang terjalin antara Atabeg Mosul dan Keamiran Artuqid dari Diyarbakir—dua kekuatan yang sama-sama berada di bawah naungan kekuasaan Sultan Seljuk. Peristiwa ini sekaligus menandai pergeseran arah perjuangan: titik tumpu perlawanan kini berpindah dari wilayah perbatasan di Anatolia, berpusat ke kawasan Syam dan Pulau Eufrat.
Sejarawan asal Inggris, William Baron Stevenson (w. 1954 M), dalam karyanya, al-Hurûb al-Shalîbîyyah fî al-Syarq, menilai bahwa Pertempuran Harran memiliki dampak yang sangat besar. Ia menuliskan: “Pertempuran ini menghentikan laju kemajuan Tentara Salib ke arah timur, menggagalkan harapan mereka untuk menembus hingga ke Irak dan menguasai sepenuhnya wilayah Pulau Eufrat, serta mematahkan ambisi Bohemond untuk merebut Aleppo dan menjadikan Kepangeranan Antiokhia sebagai kekuatan yang berkuasa di kawasan ini.” Kemenangan ini juga mendorong Ridhwan ibn Tutusy, penguasa Aleppo, untuk melancarkan serangan-serangan balasan. Dengan dukungan segenap penduduk Muslim kota Aleppo yang bangkit melawan tekanan asing, Ridhwan berhasil memukul mundur kekuasaan musuh di wilayah-wilayah sekitarnya.
Setelah masa Jekermish, para Atabeg Mosul terus memimpin perlawanan menghadapi Tentara Salib di sepanjang wilayah Syam, baik ke arah utara maupun selatan. Di antara para pemimpin tersebut adalah Jauli Saqawa (w. 502 H/1108 M) dan Maudud ibn Altuntakin—yang kemudian dikenal sebagai salah satu panglima pejuang jalan Allah yang paling gagah berani. Mawdud menyadari betapa berbahayanya keberadaan benteng Edessa yang diduduki musuh di wilayah utara Suriah. Baginya, benteng itu adalah penghalang terbesar dalam upaya pembebasan tanah Islam, sehingga ia berulang kali memimpin pasukan untuk mengepungnya.
Pada tahun 503 H/1109 M, Sultan Muhammad ibn Malik Syah memerintahkan Maudud—penguasa Mosul—, Suqman al-Quthbi—Pangeran Armenia (w. 504 H/1110 M)—, serta Ilghazi ibn Artuq—penguasa Diyarbakir (w. 516 H / 1122 M)—untuk mengerahkan pasukan guna melaksanakan jihad menghadapi kaum Salib dan membela wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu al-Qalanisi dalam Târîkh Dimasyq, para panglima diperintahkan untuk: “Bergeraklah dengan pasukanmu semua, guna melaksanakan jihad di jalan Allah, dan pertahankanlah tanah Mosul…” Pasukan Muslim berkumpul dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada gabungan seluruh kekuatan musuh. Sepakatlah mereka untuk memulai peperangan dengan menyerang dan mengepung kota Edessa, hingga Allah melunakkan hati penduduknya dan memudahkan penaklukan, mengingat kekokohan benteng dan pertahanannya.
Meskipun aliansi Tentara Salib dari utara dan selatan Suriah akhirnya mampu mematahkan kepungan tersebut—dengan dukungan sebagian besar penduduk kota yang beragama Kristen, sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabi dalam Târîkh al-Islâm—upaya menyatukan kekuatan pasukan Islam untuk melancarkan serangan yang bertujuan merebut kembali Edessa itu sendiri merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Hal ini menjadi tanda nyata bahwa pihak Islam telah merebut kembali inisiatif dalam peperangan, dan menandai perubahan besar: perlawanan yang semula bertahan dan membela diri, kini berubah menjadi serangan yang maju dan berani menuju kemenangan.
Bintang Baru di Langit Perjuangan: Imaduddin Zanki dan Kebangkitan Kekuatan Islam
Para penguasa Atabeg di Mosul—mulai dari Karbugha, kemudian Jekermish, dan penerusnya—memainkan peran yang sangat berharga dalam membesarkan dan mendidik Imaduddin Zanki. Hal ini karena Zanki adalah putra satu-satunya dari sahabat mereka, Qasim al-Daulah Aqsunqur al-Turkmani (w. 487 H/1094 M). Sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabi dalam karyanya, Târîkh al-Islâm, ketika ayahnya gugur dalam peperangan, Zanki baru berusia sepuluh tahun.
Mengenai kasih sayang dan perhatian sahabat-sahabat ayahnya yang kemudian memikul tanggung jawab pengasuhannya, Ibnu al-Atsir menceritakan dalam al-Kâmil fî al-Târîkh, bahwa ketika Karbugha berkuasa di Mosul, ia memanggil para bekas pengawal Qasim al-Daulah Aqsunqur dan memerintahkan agar putra sahabatnya itu dibawa ke hadapannya. Ia berkata: “Ia adalah keponakanku, dan akulah yang paling berhak membesarkannya!” Sejak saat itu, Zanki tumbuh di bawah asuhannya. Setelah Karbugha, tatkala Shams al-Daulah Jekermish memegang kekuasaan di Mosul, ia pun memeluk Zanki dengan penuh kasih sayang, memperlakukannya layaknya putra kandung, karena menghormati kedudukan dan jasa-jasa ayahnya. Kemudian setelah Jekermish, kekuasaan dipegang oleh Jauli Saqawa, dan di bawah naungan inilah tanda-tanda kebesaran, kecerdasan, dan masa depan yang cemerlang mulai tampak jelas pada diri Imaduddin Zanki.
Pendidikan moral dan kemiliteran yang mendalam yang diterima Zanki sejak kecil kelak menjadi bekal berharga yang melahirkan titik balik besar dalam sejarah perlawanan umat Muslim terhadap Tentara Salib. Langkah bersejarah itu dimulai pada tahun 522 H/1128 M, ketika Sultan Seljuk Mahmud ibn Muhammad ibn Malik Syah mengukuhkan kedudukannya sebagai penguasa Mosul, meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulu yang telah mendahuluinya, dan membuka lembaran baru perjuangan yang berlangsung lebih dari dua puluh tahun.
Pengangkatan Zanki menjadi penguasa Mosul berlandaskan kepercayaan yang tumbuh dari keberhasilannya memimpin urusan pemerintahan dan pasukan keamanan Baghdad sejak tahun 521 H/1127 M, serta dukungan yang luas dari para ulama, hakim, dan tokoh masyarakat Mosul, termasuk pula dari Wazir Anusyirwan ibn Khalid al-Qasyani (w. 532 H/1138 M). Sebagaimana dikemukakan al-Dzahabi, dukungan itu diberikan karena masyarakat mendambakan seorang pemimpin yang berani membendung laju kaum Salib.
Ibnu al-Atsir melukiskan dengan gamblang betapa luasnya kekuasaan dan pengaruh Tentara Salib pada saat Zanki mengambil alih pemerintahan di Mosul. Kekuasaan kaum Salib saat itu membentang dari wilayah Mardin dan Shebkhtan di tenggara Anatolia hingga wilayah Al-Arish di perbatasan Mesir. Hanya Aleppo, Homs, Hama, dan Damaskus yang tetap berdiri sebagai benteng kekuasaan Islam. Pasukan musuh bergerak bebas dari Diyarbakir hingga Amid, dan dari Diyarbakir hingga Nusaybin dan Ras al-Ain. Jalan menuju Damaskus pun terputus, kecuali melalui jalur terpencil di Al-Rahba dan gurun pasir. Keadaan semakin memburuk hingga penguasa-penguasa Muslim terpaksa membayar upeti kepada kaum Salib demi menjaga keamanan wilayah mereka.
Zanki menyadari sepenuhnya bahaya yang mengancam akibat ekspansi terus-menerus tersebut. Ia memahami bahwa kelemahan umat Muslim lahir dari perpecahan dan persaingan antar-wilayah—antara penguasa Mosul, dinasti Artuqid di Pulau Eufrat, penguasa Seljuk di Aleppo, dan dinasti Burid di Damaskus—yang kerap saling berselisih alih-alih bersatu menghadapi musuh bersama. Oleh karena itu, Zanki menetapkan tekad untuk menyatukan kekuatan yang terpecah itu menjadi satu kekuatan padu, guna menghadapi musuh dengan kekuatan yang seimbang. Tugas menyatukan barisan dan membebaskan tanah Islam itu ternyata sangat berat, namun Zanki tak surut langkah.
Dalam waktu beberapa tahun, wilayah kekuasaan Zanki meluas ke segala penjuru. Kota-kota besar yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri satu per satu kembali bersatu di bawah panji yang sama. Untuk pertama kalinya sejak lama, kabar kemenangan menyebar luas, membangkitkan semangat dan harapan umat, serta meletakkan fondasi bagi gerakan pembebasan yang kelak diteruskan dan dimuliakan oleh generasi-generasi berikutnya. Langkah paling bersejarah dalam penyatuan itu adalah penyatuan wilayah Mosul dan Aleppo pada tahun 522 H/1128 M. Ibnu al-Atsir mencatat bahwa penduduk Aleppo menyambut kedatangannya dengan sukacita dan penuh harapan, lalu Zanki masuk ke kota itu, menata pemerintahan, dan mengokohkan keamanannya.
Al-Dzahabi merangkum dampak besar yang dibawa Zanki dalam semangat perjuangan dan pembebasan. Ia menuliskan bahwa kekuasaan Zanki semakin meluas, keadaan pun berangsur membaik, hingga ia memerintah Mosul, Aleppo, Hama, Homs, Baalbek, serta sejumlah kota lain yang tak terhitung jumlahnya. Dari tangan kaum Salib, ia merebut kembali benteng-benteng penting seperti Kafr Tab, Ma’arra, dan kota Edessa. Wilayah-wilayah yang sempat hancur akibat penindasan dan perampasan musuh pun dipulihkan kembali. Bahkan tak ada satu tahun pun berlalu tanpa kemenangan yang diraih atas musuh! Ibnu al-Atsir pun menegaskan: “Seandainya bukan karena pertolongan Allah yang diberikan kepada umat Muslim melalui pemerintahan Atabeg Zanki di wilayah Syam, niscaya kaum Salib telah menguasainya sepenuhnya … Sungguh Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada umat Muslim melalui Imaduddin, yang telah menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kaum Salib!”
Imaduddin Zanki: Penaklukan Edessa dan Akhir Hayat Sang Pembangun Kekuatan
Setelah hampir dua puluh tahun mengonsolidasikan kekuasaannya atas wilayah Irak bagian utara, kawasan Pulau Eufrat, dan Suriah utara, Imaduddin Zanki berhasil menyatukan kekuatan di bawah kepemimpinannya. Dengan kecerdasan, ketegasan hati, dan ketepatan mengambil peluang, ia membangun fondasi yang kokoh guna menghadapi negara-negara Salib di perbatasan. Sebelum melangkah lebih jauh, ia lebih dulu mengamankan sisi belakang wilayahnya dari ancaman para penguasa di dunia Islam yang saling berselisih—mereka yang, sebagaimana dikatakan sejarawan al-Dzahabi, “senantiasa mengepung wilayahnya dengan niat merebut kekuasaan”.
Setelah jalur belakang terjamin keamanannya, pada tahun 539 H/1144 M, Zanki melancarkan kampanye besar dengan tujuan membebaskan kota Edessa—negara Salib pertama yang didirikan di tanah Suriah utara. Atas laporan intelijen yang menyampaikan bahwa Pangeran Joscelin II, penguasa Edessa, sedang berada di luar kota, Zanki segera memimpin pasukannya menuju kota yang dikuasai bangsa Frank tersebut. Di sana, ia memasang alat-alat pengepungan dan menyerang tembok pertahanan. Dengan membakar bagian tembok yang telah rusak, pertahanan kota pun runtuh, dan pasukan Muslim berhasil masuk serta memenangkan pertempuran. Dalam kemenangan itu, lima ratus tawanan Muslim yang ditahan di dalamnya berhasil dibebaskan, sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabi.
Pembebasan Edessa menjadi puncak pencapaian Zanki sekaligus kemenangan terbesar bagi umat Muslim sejak dimulainya pendudukan bangsa Salib. Kota yang menjadi negara Salib pertama yang didirikan itu, kini pula menjadi negara Salib pertama yang jatuh ke tangan umat Muslim. Lebih dari itu, kemenangan ini melemahkan salah satu posisi penjepit yang mengancam kota Aleppo—kota terpenting kedua dalam kekuasaan Zanki setelah Mosul, yang letaknya terjepit di antara Edessa dan Antiokhia. Selama ini Aleppo senantiasa terancam, sementara Damaskus tak berhasil dikuasai meski telah berkali-kali dikepung.
Sejarawan Imaduddin al-Isfahani menegaskan bahwa jatuhnya Edessa menjadi titik balik yang menandai dimulainya kemunduran kekuasaan bangsa Salib. Hal ini dikutip pula oleh sejarawan Ibnu Abi Syamah al-Maqdisi dalam karyanya, al-Rawdhatayn: “Zanki menguasai Suriah … dan dialah yang menaklukkan Edessa dengan kekuatan… Sejak saat itu, wilayah yang dikuasai Joscelin kembali sepenuhnya ke dalam pangkuan Islam pada masa pemerintahan putranya, Nuruddin. Perjanjian-perjanjian yang dibuat bangsa Frank pun dibatalkan, kedudukan mereka berbalik menjadi lemah, dan benteng-benteng mereka pun runtuh.”
Namun, kemenangan atas Edessa sekaligus menjadi penutup masa pemerintahan Imaduddin Zanki yang penuh kejayaan. Ia tak berumur panjang setelah peristiwa itu. Menurut catatan Ibnu al-Atsir dalam kitab al-Kâmil fî al-Târîkh, pada malam tanggal 16 Rabiul Akhir tahun 541 H/1146 M, tatkala Zanki sedang bersiap menaklukkan benteng Ja’bar di tepi Sungai Eufrat, ia dibunuh oleh sekelompok pengawalnya sendiri yang kemudian melarikan diri ke benteng tersebut. Penguasa benteng Ja’bar saat itu adalah Ali ibn Malik al-Uqaili, yang selama ini menjadi saingan Zanki.
Sibth ibn al-Jauzi menyebutkan adanya kemungkinan keterkaitan penguasa Ja’bar dengan peristiwa tersebut. Ia mencatat bahwa Zanki dibunuh oleh seorang pelayan kepercayaannya yang bernama Biranqasy al-Ifranji, bersama beberapa pelayan lainnya. Mereka menyerang Zanki saat ia sedang beristirahat di tempat tidurnya, lalu melarikan diri ke benteng Ja’bar. Sang pelayan melaporkan kematian Zanki kepada penguasa benteng, Izzuddin Ali ibn Malik al-Uqaili, yang kemudian menyambut baik peristiwa tersebut dan merasa gembira atas tewasnya saingannya itu.
Nuruddin Mahmud: Penyatuan Tanah Air dan Pembangunan Peradaban
Setelah wafatnya Imaduddin Zanki, kekuasaannya dibagi kepada dua putranya. Saifuddin Ghazi memerintah Mosul, Irak utara, dan wilayah Pulau Eufrat. Sementara itu, Nuruddin Mahmud menetapkan Aleppo sebagai pusat kekuasaannya dan memimpin wilayah Suriah utara.
Nuruddin melanjutkan garis kebijakan ayahnya yang berlandaskan dua tujuan utama: menghadapi serangan Tentara Salib, serta menyatukan wilayah-wilayah umat Muslim yang terpisah demi kekuatan yang kokoh. Setelah memperkokoh kedudukannya, ia mencurahkan segenap kemampuannya untuk memperjuangkan tegaknya agama, menahan gempuran musuh, serta memelihara dan memakmurkan rakyatnya, sebagaimana dikisahkan oleh sejarawan Ibnu Asakir dalam karyanya, Târîkh Dimasyq.
Selama dua puluh delapan tahun pemerintahannya, Nuruddin terus berjuang melawan penjajah dan berupaya menyatukan segenap wilayah Suriah. Tak lama setelah berkuasa, ia pun melancarkan serangkaian kampanye yang membuahkan hasil berupa jatuhnya benteng-benteng dan pos pertahanan musuh satu per satu.
Kekalahan yang diderita musuh begitu besar sehingga para pemimpin mereka kerap kali jatuh ke dalam tawanan—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal konflik. Salah satu peristiwa terbesarnya terjadi ketika Pangeran Raymond dari Antiokhia, yang dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, bergerak menyerang. Nuruddin sengaja menarik mundur pasukannya dari benteng Inib guna memancing musuh, lalu berbalik menyerang dan mengalahkan mereka sepenuhnya. Dalam pertempuran itu, Raymond tewas bersama tiga ribu prajuritnya. Tak lama kemudian, putra penguasa Antiokhia yang lain pun tertawan dalam Pertempuran Harim. Nuruddin menerima tebusan yang besar bagi pembebasannya, dan segenap harta tersebut ia pergunakan sepenuhnya untuk keperluan perjuangan.
Pada tahun 549 H/1155 M, Nuruddin berhasil menyatukan wilayah utara dan selatan Suriah. Damaskus pun jatuh ke dalam kekuasaannya tanpa pertumpahan darah yang berarti. Penduduk dan pasukan di sana memilih untuk tidak melawan, karena mereka telah mengenal keadilan, kemurahan hati, dan nama baik Nuruddin. Bahkan para penduduk sendiri yang bergegas membuka gerbang kota guna menyambut kedatangannya. Kegembiraan melanda segenap penjuru Damaskus, karena mereka terbebas dari kelaparan, harga yang melambung, serta ketakutan yang terus-menerus membayangi akibat ancaman musuh.
Namun, yang menjadikan Nuruddin begitu istimewa adalah pandangannya yang jauh ke depan. Ia memahami bahwa perjuangan ini bukan sekadar soal senjata dan pasukan—melainkan pertarungan dua peradaban. Oleh karena itu, ia melengkapi kekuatan senjatanya dengan pembangunan menyeluruh yang mencakup pemerintahan yang adil, sarana umum, kesejahteraan sosial, pendidikan, serta kebangkitan kembali nilai-nilai agama yang telah lama terabaikan. Ia menyadari bahwa kemenangan sejati hanya dapat diraih jika masyarakatnya utuh, berilmu, dan bersatu dalam satu ikatan iman.
Ibnu Asakir menuliskan bahwa di Aleppo, Nuruddin menegakkan ajaran Islam Sunni yang murni, menyebarkan ilmu dari empat mazhab, mendirikan sekolah-sekolah, mewakafkan harta untuk kepentingan umum, serta menegakkan keadilan bagi segenap penduduk. Demikian pula ketika Damaskus masuk ke dalam kekuasaannya: ia memperkuat benteng pertahanan kota, membangun sekolah dan masjid, memperbaiki jalan raya, memperluas pasar, dan menghapuskan segala bentuk pungutan liar serta ketidakadilan yang sebelumnya membebani rakyat.
Hal ini dikuatkan pula oleh sejarawan Ibnu al-Athir dalam karyanya, al-Kâmil fî al-Târîkh, yang menyebutkan bahwa Nuruddin memperkuat tembok dan benteng di segenap kota Suriah, mendirikan banyak sekolah, membangun rumah sakit serta tempat peristirahatan bagi para pelancong di sepanjang jalan, membina tempat-tempat ibadah dan pendidikan kerohanian, serta memberikan penghormatan dan kedudukan yang terhormat kepada para ulama dan cendekiawan.
Dengan demikian, Nuruddin tidak hanya berjuang membebaskan tanah air dari penjajahan, tetapi juga membangun fondasi peradaban yang kokoh—agar ketika kemenangan itu kelak datang, umat Muslim telah siap dengan ilmu, persatuan, dan keadilan yang menjadi kekuatan abadi mereka.
Langkah-Langkah Penting Menuju Penguasaan Mesir dan Bangkitnya Dinasti Ayyubiyah
Hubungan erat yang terjalin antara Najmuddin Ayyub, penguasa Tikrit dan ayah dari Shalahuddin al-Ayyubi, dengan Imaduddin Zanki bermula sejak tahun 526 H/1132 M. Saat itu, setelah kekalahan yang dialami Zanki bersama Sultan Seljuk Mahmud di Baghdad dalam perebutan kekuasaan, Najmuddin Ayyub berjasa besar dengan membuka akses penyeberangan Sungai Tigris sehingga memungkinkan Zanki kembali dengan selamat ke ibu kotanya, Mosul. Sejak peristiwa itu, dimulailah pengabdian keluarga Ayyubiyah kepada Imaduddin Zanki yang berlangsung sejak tahun 532 H/1138 M.
Ibnu al-Atsir mencatat dalam karyanya, al-Kâmil fî al-Târîkh, bahwa jasa Najmuddin Ayyub inilah yang menjadi pangkal persahabatan dan kepercayaan, hingga akhirnya Dinasti Ayyubiyah kelak berkuasa atas Mesir, Suriah, dan wilayah-wilayah lainnya. Seiring berjalannya waktu, Najmuddin Ayyub, saudaranya Asaduddin Syirkuh, serta putranya Shalahuddin al-Ayyubi, perlahan menjadi orang-orang kepercayaan dekat Nuruddin Mahmud. Jalan inilah yang kemudian membuka peluang bagi penyatuan Mesir ke dalam wilayah kekuasaan Dinasti Zengid di Suriah, sekaligus mengakhiri pemerintahan Dinasti Fatimiyah dan menggulingkan Wazir Syawar al-Sa’di yang telah bersekutu dengan Tentara Salib dan mengizinkan mereka masuk ke Mesir.
NuruddinMahmud menyadari betul bahaya yang mengancam: jika Tentara Salib berkuasa di Mesir, maka kehancuran bagi dunia Islam tak terelakkan. Demikianlah pandangan yang dikemukakan oleh Ibnu Washil al-Hamawi dalam karyanya, Mufarrij al-Kurûb fî Akhbâr Banîy Ayyûb. Maka pada tahun 564 H/1169 M, dikirimlah pasukan ketiga ke Mesir, kali ini di bawah komando Asaduddin Syirkuh, dengan tujuan menjadikan Mesir bagian dari kekuasaan Zengid sekaligus memutus sepenuhnya jalan bagi ambisi bangsa Salib.
Salahuddin tampaknya sempat ragu ikut serta dalam ekspedisi ini, mengingat dua upaya sebelumnya belum membuahkan hasil. Namun, sebagaimana diriwayatkan oleh penulis biografinya, al-Qadhi Baha’uddin ibn Syaddad, dalam al-Nawâdir al-Sulthânîyyah, berdasarkan keterangan langsung dari Shalahuddin: “Nuruddin berpesan kepadaku: ‘Kau harus berangkat bersama pamanmu.’ Aku menyampaikan kesulitan yang kuhadapi, terutama soal bekal dan biaya. Lalu ia mencukupi segala keperluanku, seakan-akan aku sedang diantar menuju maut!”
Namun keberhasilan justru datang. Shalahuddin berhasil menguasai Mesir, dan dengan cepat ia menggantikan pamannya, Syirkuh, menjabat sebagai wazir dengan kekuasaan penuh. Ia pun mewujudkan cita-cita Nuruddin: menyatukan Mesir dengan Suriah, sekaligus mengakhiri pemerintahan Dinasti Fatimiyah yang telah berkuasa selama dua ratus sepuluh tahun!
Al-Maqrizi menjelaskan jalannya peristiwa tersebut dalam buku al-Sulûk fî Ma’rifah Duwal al-Mulûk. Khalifah Fatimiyah terakhir, al-Adid, menyerahkan jabatan wazir kepada Shalahuddin dan memberinya gelar al-Malik al-Nashir. Di tangan Shalahuddin, urusan pemerintahan tertata dan kekuasaan terkonsolidasi dengan mantap. Secara perlahan namun pasti, ia mulai melikuidasi lembaga-lembaga pemerintahan Fatimiyah. Ketika Al-Adid wafat, Salahuddin segera menghentikan penyebutan nama khalifah Fatimiyah dalam khutbah Jumat, dan menggantinya dengan nama Khalifah Abbasiyah Al-Mustadi’ bi-Amrillah, yang berkedudukan di Baghdad.
Pada tahun 569 H/1174 M, Sultan Nuruddin Mahmud wafat. Sebagaimana ditulis oleh Ibnu Asakir, Allah telah memudahkan penaklukan banyak benteng dan negeri melalui tangannya. Namun bersamaan dengan wafatnya pemimpin besar itu, muncul kembali persoalan penyusunan kekuasaan—persoalan yang kerap terulang setelah berpulangnya setiap pemimpin perjuangan pembebasan wilayah Islam. Pola ini telah terlihat sejak masa Gubernur Mosul, Aqsunqur al-Bursuqi, yang gugur dibunuh oleh kaum Ismailiyah, kelompok yang juga telah membunuh sejumlah besar pemimpin, panglima, dan ulama terbaik di kalangan umat Muslim yang berjuang melawan pendudukan, hingga berlanjut pula hingga masa akhir pemerintahan Dinasti Ayyubiyah.
Penyatuan Tanah Air Islam dan Kemenangan yang Mengubah Sejarah
Setelah wafatnya Sultan Mahmud Zanki, kekuasaan di Aleppo jatuh kepada putranya yang masih muda, al-Shalih Ismail (w. 577 H/1181 M). Pemerintahannya pun berada di bawah kendali para pangeran dan menteri yang memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Shalahuddin menyadari bahaya keadaan ini, terlebih di tengah meningkatnya konflik dengan Tentara Salib. Ia khawatir segala pencapaian besar yang telah diraih dalam menyatukan barisan umat Muslim akan sia-sia begitu saja.
Oleh karena itu, Shalahuddin bergerak mengambil alih kendali atas wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Nuruddin, bertekad melanjutkan perjuangan pembebasan tanah suci. Ia memandang Nuruddin sebagai teladan sejati dan pewaris sah perjuangan tersebut. Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abi Syam dalam kitabnya, Kitâb al-Rawdhatayn, dari penasihat pribadinya, Imaduddin al-Isfahani: “Shalahuddin tidak pernah menyimpang dari garis kebijakan Nuruddin, bertindak dengan keteguhan dan kepercayaan seorang pemimpin, dan senantiasa menghormati kebijaksanaan pandangan-pandangannya.”
Shalahuddin melanjutkan strategi yang telah dirintis oleh pendahulunya, Imaduddin Zanki dan Nuruddin Mahmud, yaitu menyatukan dan memperkokoh kekuatan guna menghadapi musuh. Kini, barisan pertahanan itu mencakup wilayah Mesir hingga Suriah, membentang dari Edessa dan Harran di utara hingga Aswan di selatan. Para pemuka Damaskus pun menyadari pentingnya persatuan tersebut. Tujuh tahun sebelum wafatnya al-Salih Ismail, tepatnya pada tahun 570 H/1174 M, mereka mengundang Shalahuddin Yusuf ibn Ayyub, penguasa Mesir, untuk memimpin mereka, sebagaimana dicatat oleh Ibnu al-Atsir.
Shalahuddin pun berhasil menyatukan kekuasaan atas Mesir, Suriah, wilayah Pulau Eufrat, Hijaz, hingga Yaman di selatan, dan wilayah Kirenaika di Libya sebelah barat. Keberhasilan ini tak lepas dari kepemimpinannya yang luar biasa tegas dan berwibawa. Al-Dzahabi memujinya dalam karya biografinya: “Ambisinya dalam berjuang di jalan Allah dan membasmi musuh-musuhnya belum pernah disaksikan oleh siapa pun pada masa itu!” Sementara Ibnu Washil al-Hamawi menuliskan: “Al-Nashir [Shalahuddin] adalah pribadi yang penuh wibawa, berambisi luhur, cerdas, bijaksana, tajam pandangannya, serta senantiasa memantau keadaan di seluruh wilayah kekuasaannya maupun belahan dunia Islam lainnya.”
Berdasarkan kekuatan persatuan yang telah kokoh itulah, al-Nashir Shalahuddin mulai menekan kedudukan Tentara Salib. Serangan dan pengepungan digelar dari benteng Harim di perbatasan utara Suriah hingga Karak, Ramla, dan Askalan di selatan, didukung pula oleh armada laut yang beroperasi di Laut Merah hingga Laut Tengah sejak tahun 575 H/1179 M. Sebagaimana digambarkan oleh Ibnu al-Atsir dalam kitabnya, al-Kâmil fî al-Târîkh: “Pasukannya tak pernah henti menghajar kaum Frank: kadang-kadang bertempur melawan pasukan mereka, dan kadang-kadang memutus jalur logistik mereka!”
Upaya penyatuan yang gigih ini berlangsung sekitar sepuluh tahun. Di samping memperluas pembaruan sosial yang telah dirintis oleh Nuruddin hingga ke Mesir, Shalahuddin juga berhasil membebaskan banyak benteng yang diduduki musuh. Segala persiapan itu pun memuncak pada kemenangan gemilang di Hittin atas Tentara Salib pada bulan Rajab tahun 583 H/1187 M. Tak lama kemudian, berdatangan pula kemenangan-kemenangan besar yang disambut sukacita di seluruh penjuru dunia Islam—salah satunya pembebasan Kota Yerusalem dan Masjid al-Aqsa. Seperti yang dikatakan Ibnu Washil: “Pada tahun yang mulia inilah Allah membersihkan Tanah Suci dari kekotoran kesyirikan, setelah tanah itu tertawan di tangan kaum kafir selama lebih dari sembilan puluh tahun.”
Kemenangan Teluk Hattin: Titik Balik Kekuasaan Tentara Salib
Sejarawan Ibnu Washil menyatakan bahwa sejak bangsa Frank menguasai wilayah pesisir, umat Muslim belum pernah mengalami hari yang seberat sekaligus seagung hari Hattin. Sejarawan Perang Salib, Suhail Zakkar (w. 1441 H/2020 M), dalam jilid ke-38 al-Mawsû’ah al-Syâmilah fî Târîkh al-Hurûb al-Shalîbîyyah, mengutip catatan perjalanan biarawan Dominikan Felix Fabri (w. setelah 888 H/1483 M), yang mencatat:
“Sepanjang masa berdirinya Kerajaan Latin di Timur, belum pernah ada pertempuran yang menumpahkan darah Tentara Salib sebanyak hari itu. Pada hari itu, segenap kekuatan militer mereka di Timur runtuh dan hancur lebur … Dalam pertempuran yang paling tragis itu, hampir seluruh bangsawan dan prajurit gugur; hanya sejumlah kecil yang tertawan, dan di antara mereka pun adalah raja Tentara Salib sendiri, Guy dari Lusignan (w. 590 H/1194 M)!”
Shalahuddin menyadari bahwa kekuatan inti dan penopang utama Tentara Salib terletak pada dua ordo ksatria militer-keagamaan, yaitu Ksatria Templar dan Ksatria Hospitaller. Mereka ibarat pasukan elit atau pasukan khusus yang selama puluhan tahun menjadi sumber penderitaan umat Muslim, melakukan pembunuhan, penawanan, dan berbagai kekejaman.
Kemungkinan besar, sikap tegas Shalahuddin terhadap kedua kelompok ini berakar pada fakta yang dicatat Felix Fabri bahwa di medan pertempuran Hattin, “prajurit yang paling berani dan gigih di pihak Frank adalah Ksatria Hospitaller dan Ksatria Templar!” Komandan Hospitaller gugur di medan perang, sementara pemimpin Templar tertawan bersama raja. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan sejarawan Ibnu al-Atsir: meskipun Shalahuddin dikenal luas—bahkan oleh pihak musuh sendiri—sebagai sosok yang lembut hati dan murah hati, ia mengambil keputusan tegas untuk menghukum mati para anggota ordo Templar dan Hospitaller, dikarenakan permusuhan mereka yang luar biasa terhadap umat Muslim sekaligus kehebatan mereka dalam peperangan.
Maka setelah kemenangan di Hattin, Shalahuddin memandang bahwa demi keselamatan umat Muslim, wilayah itu harus dibersihkan dari kedua kelompok tersebut. Ia memerintahkan agar setiap anggota Templar dan Hospitaller yang tertawan dibawa ke hadapannya untuk dihukum mati. Ia juga menawarkan hadiah sebesar lima puluh dinar (sekitar sepuluh ribu dolar Amerika Serikat saat ini) kepada siapa pun yang membawa seorang tawanan dari kedua kelompok itu. Menurut catatan Ibnu Washil, dalam sekejap dua ratus orang telah dibawa kepadanya.
Setelah kemenangan gemilang di Hattin dan pembebasan Yerusalem, Shalahuddin memperluas rangkaian penaklukannya dengan merebut kota-kota dan benteng-benteng yang dikuasai Tentara Salib di sepanjang pesisir Syam. Sejarawan al-Dzahabi mencatat lebih dari tiga puluh lokasi yang jatuh ke tangan umat Muslim. Sejak lama, Shalahuddin menyimpan cita-cita luhur: membersihkan sepenuhnya tanah air dari jejak penjajahan, lalu membawa perjuangan melintasi lautan hingga ke tanah asal mereka, di benua Eropa.
Ibnu Syaddad al-Maushili, penulis biografi dan juru tulis Shalahuddin, meriwayatkan dalam kitabnya, al-Nawâdir al-Sulthânîyyah, sebuah percakapan yang terjadi di tepi pantai Laut Tengah. Di sana, Shalahuddin bertanya kepadanya: “Maukah engkau kuberitahu apa yang tersimpan dalam hatiku? Jika Allah Swt. telah memudahkan penaklukan sisa wilayah pesisir ini, niscaya akan kuterjang lautan ini menuju pulau-pulau mereka, akan kukejar mereka hingga ke tanah asal mereka, atau aku akan gugur di jalan-Nya!”
Namun, takdir memanggilnya sebelum cita-cita agung itu dapat terlaksana. Al-Dzahabi mencatat bahwa tidak hanya umat Muslim, bahkan bangsa Frank pun turut berduka atas wafatnya Shalahuddin, karena mereka menyaksikan ketulusan, kesetiaan, dan kemuliaan hatinya yang tiada taranya.
Kemunduran dan Perpecahan: Dinasti Ayyubiyah di Tengah Ancaman Tentara Salib
Setelah wafatnya Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 589 H/1193 M, kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir dan Suriah memasuki masa penuh gejolak dan perselisihan internal. Ketiga putra Shalahuddin saling bersaing memperebutkan kekuasaan—mula-mula di antara mereka sendiri, kemudian berbalik melawan paman mereka, Abu Bakr bin Ayyub (w. 615 H/1218 M), yang akhirnya menguasai Mesir dengan gelar al-Malik al-Adil. Namun sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabi dalam karyanya, Târîkh al-Islâm, salah satu kekurangan al-Adil adalah kurangnya perhatian terhadap perjuangan melawan Tentara Salib; justru sebaliknya, ia lebih banyak mengerahkan kekuatan untuk berperang melawan sesama umat Muslim.
Setelah wafatnya al-Adil, persaingan takhta kembali berkecamuk, kali ini di antara ketiga putranya: al-Mu’azhzham Isa (w. 624 H/1227 M) dan al-Asyraf Musa (w. 635 H/1238 M) yang berkuasa di Suriah, serta al-Malik al-Kamil Muhammad (w. 635 H/1238 M) di Mesir. Perselisihan yang tajam ini mendorong berbagai pihak melakukan tindakan yang tercela—bahkan meminta bantuan Tentara Salib untuk melawan sesama saudara seagama!
Konflik internal ini menguras tenaga dan kekuatan para penguasa Ayyubiyah, mengalihkan perhatian mereka dari perjuangan yang telah berlangsung sejak masa pemerintahan Imaduddin Zanki hingga masa Shalahuddin. Akibatnya, upaya militer mereka menjadi pasif dan sekadar menanggapi serangan musuh. Di sinilah Tentara Salib memanfaatkan peluang untuk memperkuat kedudukan mereka di sepanjang pesisir Syam.
Tentara Salib pun mulai merencanakan penyerangan terhadap pelabuhan Damietta di pesisir utara Mesir, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib V (615–618 H/1218–1221 M). Menurut riwayat Jurjis bin Al-Amid (w. 671 H/1272 M) dalam kitabnya, Akhbâr al-Ayyûbîyyîn, pada tahun 615 H/1218 M pasukan bangsa Frank bergerak menuju Damietta dan mengepungnya dengan sangat ketat serta menguasai wilayah pesisir. Sultan al-Malik al-Kamil pun mundur dan memusatkan pasukannya di kawasan tersebut. Terjadilah pertempuran-pertempuran besar, dan pada akhirnya al-Malik al-Kamil berhasil memukul mundur mereka serta menawan banyak pasukan musuh.
Namun kemenangan itu dengan cepat terhapus oleh sebuah langkah politik yang keliru: al-Kamil justru menjalin persekutuan dengan Tentara Salib. Demi memperkuat kedudukannya melawan saudara-saudaranya di Suriah, pada tahun 626 H/1229 M ia menyerahkan kota Yerusalem kepada Kaisar Frederick II dari Jerman (w. 648 H/1250 M)—sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Perang Salib VI.
Sejarawan Ibnu al-Atsir mencatat betapa dalamnya kesedihan umat Muslim atas peristiwa tersebut: “Ketika bangsa Frank menguasai Yerusalem, hati umat Muslim terasa remuk redam. Mereka merasakan kepedihan yang tiada tara. Semoga Allah mengembalikannya kepada kami dan membebaskannya dari tangan musuh!” Demikian pula sejarawan Sibth ibn al-Jauzi dalam kitabnya, Mir`ât al-Zamân, menggambarkan: “Kabar penyerahan Yerusalem sampai ke segenap penjuru negeri Islam. Kesedihan melanda negeri hingga upacara berkabung pun diadakan. Sungguh memalukan keadaan para penguasa umat Muslim!”
Ironisnya, al-Kamil sendiri menyadari betapa beratnya konsekuensi tindakannya. Ia sempat menulis surat kepada saudaranya, Raja al-Asyraf Musa, guna membenarkan langkahnya memperluas kekuasaan ke wilayah Suriah. Ia menyampaikan sebagaimana dikutip Ibnu al-Atsir: “Aku datang ke negeri ini semata-mata karena ancaman bangsa Frank, sebab tak ada satu pun penguasa di sini yang sanggup menahan langkah mereka … Kalian pun tahu bahwa paman kita, Sultan Shalahuddin, merebut Yerusalem dan mengukuhkan kemuliaan yang abadi bagi kita. Jika kini bangsa Frank merebutnya kembali, maka kehinaanlah yang akan mewarisi nama baik yang ditinggalkan paman kita. Wajah macam apa yang akan kita hadapkan kepada sesama manusia dan kepada Allah Swt. kelak?”
Setelah wafatnya para penguasa yang saling berselisih ini, persaingan kekuasaan justru terus berlanjut kepada keturunan mereka. Banyak di antara mereka yang terjerumus ke dalam persekutuan dengan musuh—tindakan yang sangat merugikan perjuangan kaum Muslimin hingga akhirnya berdirinya kekuasaan Mamluk. Perpecahan ini menyimpang dari semangat persatuan yang pernah menyatukan segenap lapisan masyarakat, termasuk pula penduduk non-Muslim yang turut mendukung perjuangan bersama.
Salah satu penguasa yang mencatatkan jejak pengkhianatan adalah al-Shalih Ismail bin al-Adil (w. 648 H/1250 M), yang berkuasa di Damaskus dan Suriah selatan setelah wafatnya saudaranya al-Asyraf Musa pada tahun 635 H/1237 M. Al-Dzahabi merangkum kelancangan dan ketidakmampuannya dalam kitabnya, Siyar A’lâm al-Nubalâ`: “Ismail membantu kaum kafir, menyerahkan benteng-benteng kepada mereka, merebut Damaskus dengan kekerasan, melanggar sumpahnya, dan membunuh para pemimpin yang seharusnya memperjuangkan jalan Allah!”
Puncak tindakan yang memalukan itu terlihat pada tahun 642 H/1244 M, ketika Ismail memimpin persekutuan penguasa Damaskus, Homs, dan Karak bersama Tentara Salib untuk melawan sepupunya sendiri, Sultan Najmuddin Ayyub bin al-Kamil dari Mesir. Pasukan gabungan itu berbaris di bawah panji-panji salib—sebagaimana digambarkan Sibth ibn al-Jauzi dengan penuh keprihatinan.
Namun di saat-saat paling genting itulah, kota Gaza tampil menjadi benteng kebanggaan dan pembeda arah sejarah. Di kawasan inilah pecah pertempuran yang dikenal sebagai “Pertempuran Gaza”, yang oleh para sejarawan disebut sebagai “Hattin yang kedua” karena dampaknya yang begitu besar: menyelamatkan Mesir dari jatuh ke tangan musuh, membuka jalan bagi penyatuan kembali wilayah Syam, serta menjadi babak awal kemenangan gemilang dalam Pertempuran Mansuriyah lima tahun kemudian.
Al-Dzahabi menceritakan kemenangan itu dalam kitabnya, Târîkh al-Islâm: “Pasukan musuh dikalahkan dengan telak di luar kota Gaza. Pedang umat Muslim berputar membasmi pasukan bangsa Frank hingga nyaris tak ada yang selamat selain pelarian belaka … Sementara itu di Kairo, kota dihiasi dengan kemegahan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kabar kemenangan disiarkan, para tawanan dan pemimpin musuh diarak keliling kota. Hari itu menjadi hari yang tak terlupakan sepanjang masa di Kairo.”
Mamluk: Generasi Penegak Kembali Kejayaan Islam
Dengan naiknya al-Shalih Najmuddin Ayyub ibn al-Kamil al-Ayyubi (w. 647 H/1249 M) ke atas takhta Mesir, terbukalah lembaran baru. Ciri utama masa pemerintahannya adalah semakin dipercayanya unsur bangsa Turki dalam jajaran militer Ayyubiyah. Di tangan al-Shalih, Mesir perlahan-lahan mengembalikan kekuatan dan keperkasaannya, mengingatkan kembali pada masa kakeknya, Shalahuddin al-Ayyubi. Sejarawan sekaligus kerabat kerajaan, al-Malik al-Mu’ayyad al-Ayyubi (w. 732 H/1332 M), mencatat dalam karyanya, al-Mukhtashar fî Akhbâr al-Basyar: “Al-Shalih menghimpun pasukan Mamluk Turki dalam jumlah yang belum pernah dimiliki oleh anggota keluarganya sebelumnya, hingga sebagian besar panglima perangnya berasal dari kalangan tersebut.”
Pasukan yang kelak menjadi cikal bakal Dinasti Mamluk ini dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan militer serta keagamaan yang sangat ketat. Kesiapan mereka teruji nyata dalam Pertempuran Manshuriyah tahun 647 H/1249 M, ketika berhadapan langsung dengan Tentara Salib di bawah pimpinan Raja Louis IX dari Prancis (w. 669 H/1270 M). Dalam pertempuran itu, pasukan Mamluk berhasil membabat habis lawan—separuh pasukan musuh tewas, dan rajanya sendiri tertawan. Itulah kekalahan telak yang menimpa Perang Salib VII (647–648 H/1249–1250 M).
Ibnu Aibak al-Dawadari (w. sekitar 736 H/1335 M), pangeran Mamluk sekaligus sejarawan yang turut menyaksikan peristiwa itu, menuliskan dalam karyanya, Kanz al-Durar: “Pada hari itu, para prajurit Mamluk seakan menghidupkan kembali kejayaan Islam. Setiap prajurit Turki tampil bagaikan singa yang tak kenal takut, dengan hati yang lebih keras dari baja. Belum sejam berlalu, pasukan Franka telah berbalik lari kocar-kacir dalam kekalahan. Para singa Turki itu pun terus mengejar hingga mereka jatuh tertimpa pedang!”
Sejak masa al-Zhahir Baibars (w. 676 H/1277 M)—pendiri Dinasti Mamluk yang sesungguhnya—semangat perjuangan terus dikobarkan demi mengusir sisa-sisa pendudukan Tentara Salib dari seantero pesisir Syam. Hal ini didukung oleh kekuasaan yang kuat dan terpusat, yang menyatukan kekuatan Mesir dan Suriah di bawah satu komando.
Pada kurun waktu 659–690 H/1261–1291 M, Dinasti Mamluk berhasil membebaskan satu per satu kota, benteng, dan pelabuhan yang masih berada di bawah pendudukan asing—wilayah-wilayah yang belum sempat terbebaskan pada masa-masa sebelumnya. Dengan demikian, mereka meneruskan dan menyempurnakan cita-cita pembebasan yang sempat melamban pada paruh pertama abad ketiga belas Masehi.
Sejarawan Ibnu Taghribirdi (w. 874 H/1469 M) memuji kehebatan al-Zhahir Baibars dalam karyanya, al-Manhal al-Shâfîy: “Sultan al-Zhahir Baibars adalah penguasa yang pemberani, ulung dalam peperangan, memiliki pandangan yang tajam, strategi yang matang, kecerdasan politik, serta wawasan yang luas. Segala keputusannya diambil dengan cepat dan tepat … hampir selalu ia memenangkan peperangan dan merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai bangsa Frank.” Ia pun mendata lebih dari empat belas kawasan di pesisir Syam yang berhasil dibebaskan.
Namun, puncak segala pencapaian al-Zhahir Baibars—yang sejak tahun 663 H/1265 M telah memulai rangkaian penaklukan demi pembebasan tanah—adalah jatuhnya kota Antiokhia ke dalam kekuasaan Islam pada tahun 666 H/1268 M. Kota itu merupakan pusat kekuasaan kedua terbesar yang pernah didirikan Tentara Salib di bumi Syam. Pembebasannya menjadi kemenangan terbesar umat Muslim sejak Shalahuddin merebut kembali Yerusalem hampir seratus tahun sebelumnya.
Ibnu Washil, seorang sejarawan sezaman, membandingkan pencapaian Baibars dengan Nuruddin dan Shalahuddin, bahkan menempatkannya setara atau bahkan lebih berat tantangannya, karena di zamannya ancaman bangsa Mongol turut menimpa dunia Islam. Ia berkata:
“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Sultan Shalahuddin … sesungguhnya setelah masa para Sahabat, Islam tidak pernah mendapat pendukung sekuat dia dan Nuruddin Mahmud ibn Zanki … dialah yang membangkitkan kembali Islam di masa-masa suram. Kemudian, setelah mereka berdua, Allah mengangkat Sultan al-Zhahir Baibars untuk menopang agama-Nya. Dan sungguh, perjuangannya jauh lebih mengagumkan! Ia tampil di saat bangsa Tatar telah menguasai sebagian besar negeri Islam, dan keputusasaan mulai merayap di mana-mana. Namun ia berhasil memukul mundur mereka, menjaga agar tanah Islam tetap lestari, dan merebut kembali benteng-benteng pesisir dari tangan kaum Frank!”
Penyelesaian Perjuangan: Pembebasan Tripoli dan Acre, Berakhirnya Kekuasaan Tentara Salib
Setelah wafatnya Sultan Baibars, penerusnya, Sultan al-Manshur Qalawun al-Alfi (w. 689 H/1290 M), melanjutkan perjuangan untuk melenyapkan sisa-sisa kekuasaan Tentara Salib di wilayah Syam. Di bawah kepemimpinannya, berbagai benteng musuh berhasil direbut. Puncak keberhasilannya adalah pembebasan Tripoli—negara keempat yang didirikan oleh Tentara Salib—pada tahun 688 H/1289 M. Dengan jatuhnya kota tersebut, Qalawun menuntaskan berakhirnya kekuasaan empat negara Tentara Salib yang selama hampir dua abad mendirikan apa yang mereka sebut “Kerajaan Latin di Timur” di tanah Syam.
Raja Abu al-Fida’ al-Ayyubi, yang turut menyaksikan peristiwa itu, mencatat dalam karyanya: “Ketika Sultan mengepung kota ini, ia mendirikan banyak mesin ketapel berukuran besar maupun kecil, dan terus melancarkan serangan. Pertempuran semakin berkobar hingga kota jatuh ke tangan umat Muslim. Penduduk berlarian menuju pelabuhan, sebagian berusaha melarikan diri dengan kapal, sementara sebagian besar kaum laki-laki gugur. Banyak sekali harta rampasan perang yang berhasil diraih.”
Setelah keberhasilan tersebut, Sultan Qalawun bersiap merebut benteng terakhir dan terbesar yang masih dikuasai Tentara Salib, yaitu Kota Acre. Kota ini pada mulanya bukan salah satu dari empat negara awal pendirian mereka, melainkan tempat berkumpulnya sisa-sisa pasukan yang diizinkan meninggalkan Yerusalem dan benteng-benteng lain yang telah dibebaskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Sisa pasukan tersebut kemudian berkumpul di Tirus, sebagaimana diceritakan oleh sejarawan Ibnu al-Atsir, di mana “para pejuang bangsa Frank yang paling tangguh berkumpul, dan kekuatan mereka pun bertambah”. Kemudian mereka memperkuat Acre dengan kedatangan pasukan Perang Salib III yang tiba pada tahun 587 H/1191 M di bawah pimpinan Raja Inggris, Richard Sang Hati Singa (w. 596 H/1199 M). Setelah pengepungan yang panjang dan menimbulkan banyak korban, Acre berhasil dikuasai dan dijadikan pusat kekuasaan kelima yang bertahan selama seratus tahun.
Namun, sebelum sempat melancarkan serangan terakhir ke Acre, Sultan Qalawun wafat pada tahun 689 H/1290 M dalam perjalanan memimpin pasukan dari Kairo. Putranya, Sultan al-Asyraf Khalil, kemudian meneruskan amanat tersebut. Pada fajar tanggal 17 Jumadil Awal 690 H/17 Mei 1291 M, setelah dikepung selama dua minggu, dilancarkan serangan besar-besaran yang menghantam tembok pertahanan kota. Acre pun jatuh, dan kemenangan gemilang kembali diraih umat Muslim.
Sejarawan al-Dawadari menggambarkan suasana penaklukan bersejarah itu dalam karyanya, Kanz al-Durar: “Ketika fajar menyingsing dan matahari belum terbit, al-Asyraf memimpin pasukannya bergerak menuju Acre. Suara gendang perang berdenting serentak bersahutan dengan teriakan para pejuang, derap kuda, dan dentingan senjata. Melihat hal itu, penduduk Acre seakan menyangka bahwa hari kiamat telah tiba! Ketika matahari mulai terbit, panji-panji kebesaran Islam telah berkibar di atas menara-menara kota, dan bangsa Frank pun berbalik melarikan diri.” Dengan jatuhnya Acre pada bulan Jumadil Awal tahun 690 H/1291 M, berakhirlah babak panjang Perang Salib yang telah berlangsung selama dua abad. Sejarawan Ibnu al-Wardi (w. 749 H/1348 M) mencatat: “Seluruh wilayah pesisir kembali bersatu di bawah naungan Islam, dan tanah Syam pun bersih sepenuhnya dari kekuasaan bangsa Frank—musuh yang nyaris saja menguasai Damaskus hingga Mesir.”[]
Tinggalkan Komentar