Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Di penghujung tahun ajaran dan di hari kelulusan, kita kerap menyaksikan, terutama di kota-kota besar, pemandangan yang menyayat hati: sejumlah siswa membuang buku catatan mereka berserakan di jalanan, atau mencorat-coret seragam dan dinding sekolah dengan tulisan yang penuh emosi. Perilaku ini jauh dari mencerminkan tujuan luhur pendidikan, dan sama sekali bukan ekspresi positif dari kebahagiaan kelulusan yang seharusnya kita harapkan. Fenomena “membuang buku catatan” kini telah menyebar ke hampir semua jenjang pendidikan, menjadi kontras yang sangat tajam dibandingkan masa lalu.
Dulu, momen kelulusan dirayakan dengan melempar topi wisuda ke udara—sebuah simbol harapan, tanda berakhir satu babak dan dimulainya lembaran baru kehidupan. Namun kini, buku yang seharusnya menjadi harta berharga justru dilempar seolah-olah adalah beban berat yang paling menyakitkan.
Sangat mendesak bagi kita untuk meneliti makna di balik perilaku ini, yang asing bagi nilai-nilai luhur budaya kita, namun nyata menjadi ancaman bagi kelestarian sistem pendidikan dan jati diri bangsa. Tindakan ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang mengerikan, yang ditujukan kepada apa yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan generasi masa depan, serta jalan utama membebaskan manusia dari kebodohan dan keterbatasan.
Bagi dunia pendidikan, tidak ada benda yang lebih bermakna daripada tas punggung siswa dan isi buku catatannya—tempat di mana tulisan tangan, keringat, dan harapan masa depan seharusnya tersimpan rapi, membentuk mereka menjadi manusia yang berjuang meraih mimpi.
Mungkin kita sepakat bahwa ada satu “kendala besar pendidikan” yang kita hadapi bersama: ketidakmampuan kita, sebagai satu kesatuan bangsa, untuk menjembatani hubungan batin dan pemahaman antara siswa, materi pelajaran, dan kehidupan nyata masyarakat. Namun, kita harus berani menelusuri akar permasalahannya lebih dalam: Apakah dunia pendidikan kita sanggup menghadapi perubahan budaya yang begitu cepat mengubah segala tatanan? Atau mungkinkah struktur sistem pendidikan itu sendiri yang membutuhkan kerangka kerja yang lebih kreatif, lebih luwes, dan lebih manusiawi?
Apa yang Sebenarnya Tidak Kita Ajarkan?
Masalah perilaku negatif ini berakar pada hubungan rumit antara siswa dengan sistem yang tampaknya sederhana, namun sesungguhnya sangat peka dan penuh tekanan. Ada tiga pilar utama—kurikulum, sekolah, dan penyelenggara pendidikan—yang memikul tanggung jawab besar untuk membentuk citra bangsa yang beradab, sekaligus membentengi jati diri generasi muda di tengah arus budaya asing yang masuk.
Hubungan ini sejatinya dibangun di atas prinsip etika yang menempatkan peserta didik sebagai prioritas utama. Bisa dikatakan, siswa adalah jiwa dari seluruh proses pendidikan, yang bertujuan mencetak generasi yang memiliki pandangan hidup sendiri, mampu mengembangkan kepekaan rasa, serta memiliki daya cipta yang tinggi. Di sini, ujian terbesar bagi bangsa dan masyarakat terletak pada tanggung jawab sosial dan politik: menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu membentuk mental dan karakter siswa, membuat mereka merasa dekat dan mencintai apa yang mereka pelajari, bukan sekadar memandang sekolah sebagai tempat duduk diam, mendengarkan, dan mencatat. Sekolah adalah perjanjian suci antara masyarakat dan negara—tempat yang harusnya memelihara jati diri, bukan menjadi penjara yang mengurung potensi dan kebebasan berpikir.
Banyak pihak yang sibuk menyerukan pembaruan sistem pendidikan, namun sering kali melupakan dua pertanyaan mendasar yang menyentuh hati: Apa sesungguhnya yang dipelajari anak-anak kita? Dan Apa yang menjadikan mereka warga negara yang aktif dan berharga, bukan di masa depan, melainkan hari ini juga?
Kita semua tahu bahwa pengetahuan dan materi pelajaran berfungsi membentuk jati diri, menjaga kelestarian budaya, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Namun, apa yang terjadi pada kanvas putih tempat mimpi anak-anak dilukis? Di tempat itulah masa depan seharusnya digambar dengan tangan kecil dan senyum tulus mereka. Pernahkah kita membayangkan, ketika seorang guru bertanya kepada muridnya, “Apa cita-citamu, Nak?”, dan anak itu menjawab sederhana, “Saya ingin menjadi guru seperti Bapak/Ibu.” Jawaban itu indah, namun terselip pesan tersembunyi: betapa sempitnya ruang imajinasi yang kita berikan, betapa sedikitnya mimpi besar yang mampu tumbuh di antara tumpukan materi pelajaran.
Sistem pendidikan memang penting untuk menyerap ilmu dan keterampilan, namun yang jauh lebih penting adalah menanamkan keyakinan bahwa tas sekolah dan buku catatan itu—tempat mereka menulis setiap hari—adalah jembatan emas menuju penemuan jati diri dan pembangunan bangsa, bukan kewajiban berat yang merampas kebebasan dan harga diri mereka. Sayangnya, banyak anak merasa bahwa dunia ini telah melepaskan tanggung jawabnya terhadap mereka; semua orang hanya pandai memberi nasihat dan kritikan, seolah-olah sudah menulis takdir mereka sebagai kaum yang akan gagal.
Ketika Buku Catatan Dibuang ke Jalanan
Memecahkan kaca jendela sekolah, merobek halaman buku, dan membuangnya di jalanan, bukan sekadar kenakalan remaja. Itu adalah protes keras terhadap sistem pendidikan yang dianggap gagal menyeimbangkan antara tuntutan akademis dan kebutuhan jiwa manusia. Di momen kelulusan, siswa seharusnya berdiri tegak dengan rasa bangga, karena telah melewati ujian yang memperkaya nilai hidup, memperluas wawasan, dan memicu kreativitas. Namun nyatanya, pencapaian mereka sering kali hanya diukur dari seberapa tebal buku yang mereka hafal, bukan seberapa luas pemikiran yang mereka kembangkan.
Apa yang kita sebut sebagai “kekerasan terhadap pengetahuan”—yang terwujud dalam penghancuran buku dan fasilitas sekolah—berakar dari kurikulum yang terlalu padat namun kurang mendalam, yang gagal mengakomodasi bakat dan minat beragam siswa. Sistem ini terlalu sering menumpuk materi tanpa memberi ruang berekspresi, dan terlalu bergantung pada ujian akhir yang membuat nasib siswa ditentukan oleh angka di atas kertas. Pandangan sempit bahwa pengetahuan hanyalah materi yang harus dihafal untuk mendapatkan nilai tinggi inilah yang melahirkan sikap apatis, kekecewaan, dan kebencian terhadap proses belajar itu sendiri.
Ketika seorang siswa melempar dan merobek bukunya, ia sedang berteriak tanpa suara tentang kondisi jiwa dan sosialnya yang sedang sakit parah. Bukan hanya sakit selama satu tahun ajaran, tapi sakit bertahun-tahun lamanya. Ia merasa masa kecilnya dicuri, mimpinya dipendam, dan dirinya hanya dipaksa mengejar angka sempurna, bukan didorong untuk berinovasi atau menjadi diri sendiri. Buku catatan itu menjadi benda mati yang tak berarti, yang hanya mengingatkan mereka pada kegagalan berulang dari sebuah sistem yang seharusnya diperbarui, disederhanakan, dan dimanusiakan. Jika kita diam saja, kita takut di masa depan akan menghadapi kekerasan yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada sekadar memecahkan kaca sekolah.
Pengunduran Diri Bersama
Kita tidak boleh menyalahkan sistem pendidikan sendirian. Ada fenomena lain yang lebih mengerikan: apa yang bisa kita sebut sebagai “pengunduran diri kolektif”. Ini adalah sikap menyerah dan lepas tangan yang dilakukan oleh semua pihak yang dipercaya untuk membentuk karakter dan masa depan anak bangsa.
Lihatlah ke dalam keluarga dan masyarakat kita. Masih banyak orangtua yang terobsesi hanya pada nilai angka di rapor, melupakan perkembangan hati dan akal budi anaknya. Beban materi yang terlalu berat ditumpahkan ke dalam kurikulum, dan eksperimen kebijakan sering kali dilakukan tanpa kajian mendalam dan kritik yang membangun. Akibatnya, anak-anak hanya belajar cara menghafal tanpa memahami makna, dan sistem pendidikan pun kehilangan jiwa kemanusiaannya. Masyarakat seolah-olah sudah menyerah, memutus hubungan antara apa yang dipelajari di sekolah dengan kenyataan hidup sehari-hari.
Ini adalah pengunduran diri dalam arti yang sesungguhnya, tidak hanya di dunia pendidikan, tetapi juga hilangnya rasa hormat terhadap sekolah, guru, aturan, dan ilmu pengetahuan. Masyarakat kini terbuai oleh ilusi kemewahan les privat, tren mode, dan kebanggaan semu atas prestasi dangkal. Padahal, di saat yang sama, siswa sedang membutuhkan ruang agar pilihan dan impian mereka dihargai, didengar, dan diwujudkan.
Buku catatan, gedung sekolah, dan papan tulis tidak akan memiliki makna apa pun, kecuali kita sadar sepenuhnya bahwa keselamatan masa depan bangsa dimulai dari pemahaman kita yang mendalam terhadap dunia anak-anak. Mereka adalah fondasi paling utama dari sistem pendidikan dan negara ini.
Jangan pernah kita abaikan dilema yang selalu datang kembali setiap akhir tahun ajaran. Di permukaan, kita hanya melihat sampah buku yang berserakan dan kaca yang pecah. Namun jauh di dalamnya, ada alarm bahaya yang berbunyi nyaring bagi masyarakat yang mengaku maju, modern, dan mengikuti zaman, namun kenyataannya sedang berjalan masuk ke dalam lorong gelap, tenggelam dalam kepalsuan dan nilai-nilai yang diimpor tanpa disaring.
Perilaku negatif yang kita saksikan itu melukiskan gambaran yang memilukan: kematian rasa kemanusiaan. Di mana segala sesuatu terasa hampa tanpa makna, peradaban tidak lagi dihargai, dan keterasingan yang mengerikan mulai menggerogoti masa kanak-kanak yang seharusnya indah dan penuh tawa.
Memang ada beberapa negara yang berhasil mengurangi fenomena ini dengan cara mengumpulkan dan mendaur ulang buku bekas menjadi barang bernilai ekonomi. Namun, masalah kita jauh lebih dalam dan lebih besar daripada sekadar mencari solusi teknis. Merobek dan membuang buku hanyalah dampak nyata dari penumpukan masalah politik, sosial, dan budaya yang lama tidak diselesaikan.
Jika kita tidak segera mengatasi akar masalah ini dengan rencana nyata dan langkah berani untuk menyeimbangkan kembali segala ketimpangan ini, kita akan kehilangan generasi demi generasi. Generasi yang kelelahan bertarung melawan krisis, yang di penghujung setiap tahun ajaran hanya mampu berdiri di pinggir jalan, menatap bukunya yang berserakan, dan bertanya dalam hati yang hancur: “Apakah masih ada yang peduli? Apakah ada yang bisa menyelamatkan kami?”[]
Tinggalkan Komentar