Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta; cinta gairah dan cinta karena Engkau layak mendapatkannya.
Adapun cinta gairah, itu adalah kesibukanku mengingat-Mu tanpa mempedulikan yang lain.
Sedangkan cinta karena Engkau layak mendapatkannya, itu adalah ketika Engkau menyingkap tabir agar aku dapat melihat-Mu.
— Rabiah al-Adawiyah
Ketika kita menyebut nama Rabiah al-Adawiyah, gambaran seorang perempuan yang saleh, sufi, mistikus, dan asketis langsung terlintas dalam pikiran; gambaran seorang perempuan yang tenang dan lembut yang di pipinya terpancar cahaya petunjuk Ilahi.
Rabiah al-Adawiyah, perempuan paling terkenal dalam seluruh sejarah sufisme Islam, dari awal hingga hari ini, bukanlah fenomena yang cepat berlalu, meskipun namanya ada di bibir semua orang dan gambarnya ada di benak semua orang. Secara paradoks, ia tetap menjadi teka-teki. Mungkin kita dapat membersihkan sebagian debu dan tahun-tahun kelupaan serta misteri untuk mengingatkan kita tentang dirinya dan filosofi sufistiknya yang unik!
Sejumlah orientalis percaya bahwa para sufi awal, termasuk Rabiah, yang mengenakan wol dan dikenal karena hal itu, sebenarnya lebih merupakan para asketis (zuhhad) yang rendah hati daripada mistikus sufi. Kesadaran mereka yang luar biasa akan dosa disertai dengan rasa takut yang mendalam akan Hari Kiamat dan siksa Neraka—rasa takut di luar pemahaman kita, yang digambarkan dengan jelas di dalam al-Qur’an. Rasa takut ini mendorong mereka untuk mencari keselamatan dengan meninggalkan dunia.
Lebih jauh lagi, al-Qur’an memperingatkan mereka bahwa keselamatan terutama bergantung pada kehendak Allah yang tersembunyi, yang membimbing orang-orang saleh ke jalan yang lurus dan menyesatkan orang-orang zhalim dari tujuan yang benar. Takdir mereka tertulis dalam loh abadi (al-lawh al-khalid), loh pertolongan Allah (lawh ‘inayatillah) yang tidak dapat diubah oleh apa pun. Mereka harus memahami bahwa jika puasa, shalat, dan amal baik mereka ditakdirkan untuk menyelamatkan mereka, maka mereka pasti akan diselamatkan. Keyakinan seperti itu pasti mengarah pada perenungan tentang Tuhan dan penyerahan mutlak kepada kehendak-Nya, sebuah ciri khas sufisme dalam bentuk-bentuk awalnya.
Tahun-tahun Penuh Kesengsaraan!
Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah al-Iraqiyah, seorang perempuan asketis, berdiri di garis depan tokoh-tokoh terkemuka namun penuh teka-teki dalam sejarah awal sufisme Islam. Sebagian besar catatan sejarah berbeda pendapat mengenai tahun kelahirannya, dan kematiannya diperkirakan terjadi antara tahun 135 H dan 185 H.
Lebih jauh lagi, ia tidak pernah menulis buku tentang hidupnya atau mencatat ucapan dan pendapatnya yang paling penting tentang sufisme. Karakteristik ini lazim di antara para sufi besar yang hidup pada abad pertama dan kedua H; asketisme mereka lebih bersifat praktis daripada teoritis.
Rabiah al-Adawiyah lahir di salah satu keluarga termiskin di Basrah. Bahkan dikatakan bahwa orangtuanya tidak memiliki setetes samin pun untuk mengolesi area tempat ia lahir, juga tidak memiliki lampu atau kain untuk membungkus bayi yang baru lahir itu. Hal ini memaksa ayahnya untuk pergi ke tetangga guna mendapatkan minyak untuk menyalakan lampu.
Meskipun laki-laki itu telah bersumpah kepada Allah bahwa ia tidak akan pernah meminta apa pun kepada siapa pun, ia tetap pergi atas desakan istrinya. Namun, tidak seorang pun membukakan pintu untuknya.
Ayah Rabiah pulang dengan sedih, lalu bersimpuh dan tertidur. Ia melihat Nabi dalam mimpinya, yang berkata kepadanya: “Janganlah bersedih! Bayi perempuan yang baru lahir ini adalah perempuan yang mulia, dan tujuh puluh orang dari umatku berharap akan syafaatnya.” Nabi memerintahkannya untuk pergi keesokan paginya kepada gubernur Basrah saat itu, Isa Zadzan, dan menulis surat kepadanya yang berisi bahwa: “Nabi mengunjunginya dalam mimpi dan menyuruhnya untuk pergi kepada gubernur dan berkata: ‘Engkau shalat seratus rakaat, dan empat ratus rakaat pada malam Jumat, tetapi pada Jumat terakhir engkau melupakanku. Maka, bayarlah empat ratus dinar halal kepada orang ini sebagai penebusan atas kelupaan ini!‘”
Ketika ayah Rabiah terbangun, ia menulis surat itu dan menyampaikannya kepada Amir Basrah. Setelah membacanya, sang amir memerintahkan gubernur Basrah untuk memberikan empat ratus dinar kepadanya dan berkata: “Bawalah ia kepadaku agar aku dapat melihatnya.” Kemudian sang amir mempertimbangkan kembali dan memutuskan untuk pergi sendiri kepada orang ini untuk mendapatkan berkah dari rumahnya.
Rabiah menderita kemiskinan, dan penderitaannya semakin bertambah dengan kematian ayahnya, yang meninggalkan seorang janda yang segera menyusulnya. Rabiah dan ketiga saudara perempuannya sangat lemah, miskin, dan takut akan kehidupan dan perubahannya.
Kemudian bencana melanda Basrah dengan kelaparan hebat yang memaksa para penduduk untuk mengungsi. Mereka tercerai-berai, dan salah seorang yang zhalim melihat Rabiah, lalu menangkapnya dan menjualnya seharga enam dirham kepada seorang laki-laki yang membebaninya dengan pekerjaan yang berlebihan.
Suatu hari, ia meninggalkan rumah majikannya untuk buang air kecil ketika seorang laki-laki menatapnya dengan niat buruk. Karena ketakutan, ia lari, bersembunyi, dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya untuk diselamatkan. Beberapa penulis biografinya sepakat bahwa momen ini merupakan titik balik dalam hidupnya.
Dr. Abdurrahman Badawi berkata: “Momen ini dalam kehidupan Rabiah harus dianggap sebagai titik penting perkembangan kehidupan spiritualnya, seperti halnya situasi yang telah kita sebutkan mengenai rekan-rekannya di antara tokoh-tokoh spiritual besar di dunia, namun ia masih berada dalam tawanan materi dari tuan yang kejam yang telah melelahkannya, dan kelelahan serta kesulitan ini mempunyai pahala berupa ledakan semangat batinnya yang mulia.”
Pada akhirnya Rabiah memperoleh kebebasannya. Beberapa catatan sejarah menggambarkan kerinduan awalnya akan kebebasan sebagai periode menikmati kesenangan, bahkan bermain seruling. Namun, setelah bertemu dengan sufi besar Basrah, Riyyah ibn Amru al-Qaisi, hidupnya berubah.
Rabiah mulai mengetuk pintu-pintu asketisme dan sufisme, meninggalkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kelalaian, dan berpaling kepada Tuhannya. Mungkin yang membawanya ke jalan ini adalah saat-saat ia menyendiri untuk bemunajat kepada Tuhannya ketika seseorang hendak menyerangnya pada masa-masa ia hidup sebagai budak.
Cinta Adalah Jalan Rabiah
Tidak diragukan lagi bahwa Rabiah dipengaruhi oleh Riyyah al-Qaisi, serta oleh seorang laki-laki lain yang ketenarannya memenuhi cakrawala, dan yang duduk di singgasana sufisme pada zamannya, yaitu Ibrahim ibn Adham.
Di kota Basrah, Irak selatan, kehidupan kota menyatukan dua hal yang berlawanan dengan cara yang mencolok dan aneh: kesenangan terang-terangan yang mencapai puncak syahwat, dan asketisme gelap nan keras yang menutupi wajahnya dengan debu. Rabiah berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya di kota yang penuh pertentangan ini. Ia juga menyadari bahwa pertobatannya adalah keridhaan dan kehendak Allah, dan filosofi pertobatannya terus bersandar pada makna ini.
Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rabiah: “Aku telah melakukan banyak dosa dan maksiat. Jika aku bertobat, apakah Dia menerima tobatku?” Ia menjawab: “Tidak, justru jika Dia menerima tobatmu, kamu pasti telah bertobat.” Di sini perkataannya dapat dipahami: “Aku memohon ampunan kepada Allah atas kurangnya ketulusan dalam ucapanku ‘astaghfirullah’, dan perkataannya: ‘Permohonan ampunan kita sendiri membutuhkan ampunan karena tidak adanya ketulusan di dalamnya.”
Kehidupan yang penuh kesenangan memengaruhi pertobatan Rabiah. Pada masa itu, ketika ia mencintai, ia tidak melupakan cinta itu; ia membawanya bersamanya dalam pertobatannya, menjadikan cinta kepada Allah sebagai fokus asketisme dan visi sufismenya. Munajat-munajatnya kepada Allah dipenuhi dengan cinta dan keinginan untuk senantiasa terhubung dengan Kekasih Yang Maha Agung ini.
Diriwayatkan bahwa setelah shalat Isya’, ia akan pergi ke atap rumahnya, mengencangkan jubah dan tudungnya, dan berkata:
Tuhanku! Bintang-bintang telah bersinar, mata-mata telah terpejam dalam tidur, raja-raja telah mengunci pintu mereka, dan setiap kekasih sendirian dengan kekasihnya, dan di sinilah aku berdiri di hadapan-Mu.
Kemudian ia kembali tenggelam dalam shalatnya. Ketika fajar menyingsing dan matahari mulai menunjukkan dirinya, ia berkata:
Tuhanku! Malam telah berlalu, dan hari ini telah tiba. Aku bertanya-tanya! Apakah Engkau menerima doa malamku agar aku dapat bersukacita, atau apakah Engkau menolaknya agar aku dapat berduka? Demi kekuatan-Mu, inilah kebiasaanku selama Engkau memberi aku kehidupan dan menolongku. Demi kekuatan-Mu, bahkan jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu, aku tidak akan pernah meninggalkannya karena cinta kepada-Mu yang telah berakar di dalam hatiku.
Beberapa sarjana percaya bahwa perjalanan spiritual Rabiah dimulai sejak masa mudanya, menghampirinya saat ia mengalami penderitaan dan kekurangan yang paling berat. Memang, bagaimana mungkin sebaliknya, ketika hal-hal yang berlawanan berubah menjadi kebalikannya? Kehilangan kenikmatan duniawi membawanya ke akhirat, dan keputusasaannya di dunia ini membuatnya berpegang teguh pada akhirat.
Kehilangan orangtuanya di usia muda mendorongnya untuk mencari Yang Mahakuasa, dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan menanamkan kepercayaan kepada Tuhan, ketergantungannya kepada-Nya, dan kedamaian di dalam-Nya.
Penindasan eksternal dalam kehidupan Rabiah melepaskan energi spiritual yang sangat besar dalam dirinya, membuat batinnya sangat berbeda dari penampilan luarnya. Kehilangan cinta, kasih-sayang, dan rahmat duniawi membawanya untuk mencari makna cinta batin dengan kerinduan, keinginan, dan kegembiraan yang terkadang terwujud dalam kefasihan dan ekstasi spiritual.
Rabiah menempatkan cinta Ilahi di hadapan matanya dan tidak pernah meninggalkannya, dan lingkaran para sahabat sufinya, para pengikutnya, dan ucapan-ucapannya yang terkenal berputar di sekitar filosofi ini.
Orientalis Prancis, Massignon, menegaskan bahwa Rabiah al-Adawiyah adalah orang pertama yang menetapkan aturan cinta (al-hubb) dan kesedihan (al-huzn) dalam struktur sufisme Islam, dan ia meninggalkan jejak-jejak yang tersisa berupa napas tulus dalam mengungkapkan cinta dan kesedihannya. Apapun yang mengalir setelah itu dalam sastra sufi berupa puisi dan prosa terkait dua hal ini adalah napas dari napas-nafas Rabiah al-Adawiyah, Imamah al-‘Asyiqin wa al-Mahzunin (imam para pencinta dan orang-orang yang sedih) dalam Islam.
Rabiah mengungkapkan cinta ini di setiap tempat dan di hadapan setiap orang. Waktu dan tempat menjadi “eksistensi khusus” baginya untuk menyebarkan hembusan cinta yang tulus ini. Dalam salah satu ungkapan ekstatis dan percakapan intimnya, ia berkata:
Wahai Sukacitaku, Hasratku, Penopangku, Sahabatku, Rezekiku, dan Tujuanku!
Engkau adalah jiwa hatiku, Engkau adalah harapanku, Engkau adalah penghiburku, dan kerinduan akan Engkau adalah penopangku.
Seandainya bukan karena Engkau, wahai Hidupku dan Penghiburku, aku pasti tercerai-berai di negeri-negeri yang luas.
Betapa banyak karunia yang telah Engkau berikan kepadaku, dan betapa banyak hadiah, berkat, dan karunia yang telah Engkau berikan kepadaku!
Cinta-Mu kini menjadi hasrat dan kebahagiaanku, dan obat penawar bagi hatiku yang haus.
Aku tidak mendapat istirahat dari-Mu—selama aku hidup—Engkau teguh bersemayam di dalam diriku dalam kegelapan.
Rabiah sangat ingin menanamkan filosofi ini kepada para pengunjung dan pengikutnya, yang jumlahnya banyak dan terkenal di antara orang-orang saleh. Suatu ketika, ia bertanya kepada beberapa dari mereka mengapa mereka menyembah Allah. Salah seorang menjawab: “Kami menyembah-Nya karena takut akan neraka.” Yang lain berkata, “Lebih tepatnya, kami menyembah-Nya karena takut akan neraka dan berharap akan surga.”
Rabiah menjawab: “Betapa buruk seorang ahli ibadah yang menyembah Allah karena berharap akan surga atau takut akan neraka!” Kemudian ia bertanya: “Jika tidak ada surga maupun neraka, bukankah Allah tetap layak untuk disembah?”
Mereka bertanya kepadanya: “Lalu mengapa engkau menyembah Allah?” Ia menjawab: “Aku menyembah-Nya demi Dia sendiri. Bukankah sudah cukup bahwa Dia telah menganugerahiku dengan perintah untuk menyembah-Nya?”
Karena alasan ini, Rabiah mengabaikan urusan pribadinya di luar apa yang diperlukan, dan ia sangat berhati-hati dengan mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya meskipun sudah usang, dan untuk menahan diri dari makanan meskipun itu berharga.
Sebagian dari kaum saleh merasa sulit melihat Rabiah dalam keadaan miskin dan berpakaian lusuh sementara mereka berada di sekitarnya, sehingga mereka memprotesnya, dengan alasan bahwa ia hanya perlu meminta bantuan dan mereka akan segera memberikan apa yang diinginkannya. Rabiah menjawab bahwa “ia malu meminta harta benda duniawi karena mereka tidak memilikinya, melainkan hanya meminjamnya!”.
Mereka menyetujui jawabannya, dan keheranan mereka semakin bertambah, karena bagaimana mungkin perempuan miskin dan asketis ini dapat mencapai tingkat ibadah dan pemahaman yang luar biasa tinggi ini, dan belum pernah ada perempuan yang mencapai tingkat seperti itu sebelumnya? Jawabannya adalah bahwa ia tidak menjadi sombong karenanya, tidak menjadi angkuh, dan tidak mengklaim ketuhanan, dan itulah cara perempuan saleh seharusnya.
Orientalis Jerman Annemarie Schimmel, salah satu sarjana terpenting yang telah menelaah sejarah sufisme dan para guru besarnya dengan cermat, meyakini bahwa Rabiah al-Adawiyah adalah perempuan pertama yang memperkenalkan gagasan cinta Ilahi murni (al-hubb al-Ilahiy al-thahir) ke dalam pemikiran sufi. Sejak saat itu, cinta (al-hubb) menjadi istilah fundamental bagi para sufi secara umum.
Diketahui bahwa sufisme, sebagai istilah umum, mencakup setiap gerakan batin yang membawa dimensi dalam esensinya dalam hal pencarian eksistensi dan kedekatan dengan al-Ma’bud (Zat yang Wajib Disembah) melalui asketisme (al-zuhd). Dan ketika hati diubah menjadi cermin jernih, maka akan dapat memanfaatkan cahaya Ilahi. Dengan demikian, sufisme memperdalam studi tentang gejolak jiwa yang paling halus dengan cara paling menakjubkan dan mengagumkan.
Lebih lanjut, Schimmel berpendapat bahwa Rabiah mengantarkan era baru kreativitas dalam kehidupan sufi. Ia menjadi tokoh sufi terkemuka di Irak pada masanya, dan di antara banyak pengikutnya, yang tinggal di Baghdad dan kota-kota Irak sekitarnya dan yang pengaruhnya sangat luas, terdapat seorang asketis bernama Syaikh Ma’ruf al-Karkhi, seorang pemuda sezamannya. Ia menjadi batu loncatan dalam memperluas jangkauan sufisme dan melebarkan pengaruh geografisnya dari Levant ke Irak dan Mesir, berkat pengaruh guru besarnya, Rabiah al-Adawiyah.
Jalan Menuju Tuhan
Saat Rabiah mengumpulkan kekuatan spiritualnya, ia merasa terdorong untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Meskipun haji adalah kewajiban dalam Islam, bagi seorang sufi, haji merupakan salah satu kewajiban terpenting. Sementara sebagian besar orang pergi haji sebagai respons terhadap panggilan Allah, untuk memenuhi perintah-Nya, untuk memohon ampunan dan pengampunan, dan untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. dalam satu ibadah haji beliau, seorang sufi, di sisi lain, menginginkan sesuatu yang lebih: untuk bersama Tuhan Ka’bah, untuk berkomunikasi dengan-Nya dan berbicara kepada-Nya melalui pelatihan sufi yang telah diterimanya—pelatihan dengan dimensi dan pemahaman batiniah dan esoterisnya sendiri, yang seringkali di luar pemahaman masyarakat umum.
Rabiah mengungkapkan keinginan ini ketika ia berkata:
Tuhanku, Engkau telah menjanjikan dua pahala untuk dua hal: melaksanakan haji dan sabar menanggung kesulitan. Jika hajiku tidak sah dan tidak diterima oleh-Mu, celakalah aku! Betapa besar musibah ini bagiku! Tetapi apa balasan untuk musibah ini?
Kemudian ia melewati setiap tingkatan untuk mencapai tingkatan lain yang lebih tinggi ketika ia berbicara kepada Tuhannya dalam perjalanannya ke Makkah, seraya berkata:
Tuhanku, hatiku gelisah dalam kesunyian ini. Aku adalah batu bata dan Ka’bah adalah batu, dan yang kuinginkan adalah melihat Wajah-Mu yang Mulia.
Kemudian sebuah suara memanggilnya dari atas:
Wahai Rabiah, apakah hanya engkau yang mencari apa yang membutuhkan darah seluruh dunia? Ketika Musa berusaha melihat Wajah Kami, Kami hanya memancarkan setitik cahaya Kami ke atas sebuah gunung, dan ia langsung jatuh pingsan.
Mungkin keadaan asketisme dan cinta Ilahi yang luar biasa ini, yang terpancar dari Rabiah dan melestarikan para pengikutnya, mazhabnya, dan bahkan seluruh pemikiran sufi, membuatnya menjauhkan diri dari pernikahan. Masalah ini telah dibahas oleh para sejarawan, yang berbeda pendapat mengenainya. Sebagian menyatakan bahwa ia menikah dengan seorang laki-laki bernama Ahmad ibn Abi al-Hawari, tetapi ini kemungkinan besar karena kekeliruan dengan Rabiah al-Syamiyah, yang juga merupakan seorang perempuan ahli ibadah yang saleh
Namun, telah dipastikan bahwa seorang laki-laki saleh bernama Abdul Wahid ibn Zaid berusaha menikahinya, tetapi ia menjawab dengan berkata kepadanya, “Wahai laki-laki yang penuh nafsu … carilah perempuan yang penuh nafsu seperti dirimu!”
Riwayat lain menyebutkan bahwa Muhammad ibn Sulaiman al-Hasyimi, Amir Basrah, seorang laki-laki dari keturunan bangsawan Hasyimi, kaya, dan berkuasa, sangat terkesan oleh Rabiah dan juga ingin menikahinya, dengan berkata kepadanya, “Aku memiliki penghasilan sepuluh ribu [dirham] setiap bulan yang akan kuberikan kepadamu.” Rabiah membalas suratnya, “Aku tidak akan senang memilikimu sebagai budakku dan semua hartamu menjadi milikku, sehingga kau mengalihkan perhatianku dari Allah bahkan untuk sesaat pun.”
Menurut sejarawan al-Manawi, ia juga menulis kepada Amir Basrah, mengatakan:
Selanjutnya: kezuhudan (skestisme) di dunia ini mendatangkan ketenangan jiwa, sedangkan keterikatan padanya menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan. Siapkan bekalmu, buatlah pengaturan untuk kehidupan akhiratmu, dan jadilah pelaksana wasiatmu sendiri. Jangan menunjuk orang lain sebagai pelaksana wasiatmu, agar mereka tidak membagi warisanmu. Berpuasalah terus-menerus, dan jadikan kematian sebagai akhir puasamu. Adapun aku, sekalipun Allah memberiku kekayaan yang sama dengan kekayaanmu dan berkali-kali lipat lebih banyak, aku tidak akan senang untuk teralihkan dari Allah bahkan untuk sesaat pun. Salam sejahtera untukmu.
Rabiah menginginkan jalan Allah dan cinta-Nya semata, dan tidak ada satu pun—bahkan teman, pasangan, kekayaan, anak-anak, atau harta benda, meskipun diperbolehkan dan halal bagi orang-orang yang beribadah—yang dapat mengalihkannya dari jalan itu!
Oleh karena itu; bait-bait syair di bawah ini menjadi simbol cinta abadi nan agung Rabiah al-Adawiyah dalam meniti jalan menuju Allah:
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta; cinta gairah dan cinta karena Engkau layak mendapatkannya.
Adapun cinta gairah, itu adalah kesibukanku mengingat-Mu tanpa mempedulikan yang lain.
Sedangkan cinta karena Engkau layak mendapatkannya, itu adalah ketika Engkau menyingkap tabir agar aku dapat melihatmu.
Rabiah sedang mencari makna sejati dari segala sesuatu, bukan hanya makna sejati dari cinta, tetapi juga makna, hakikat, dan filsafat ketulusan/kejujuran (al-shidq). Fariduddin Aththar menceritakan bahwa: Malik ibn Dinar, al-Hasan al-Basri, dan lainnya datang mengunjungi Rabiah, dan ia bertanya kepada mereka tentang makna al-shidq (ketulusan).
Al-Hasan berkata: “Barangsiapa yang tidak tahan dengan pukulan tuannya, maka ia tidak tulus dalam klaimnya.”
Rabiah menjawab: “Ini adalah kesombongan!”
Syaqiq al-Balkhi, yang kebetulan hadir, berkata: “Barangsiapa yang tidak mengungkapkan rasa syukur atas pukulan tuannya, maka ia tidak tulus dalam klaimnya.”
Rabiah berkata: “Ada sesuatu yang lebih baik dari ini!”
Ibnu Dinar berkata: “Barangsiapa yang tidak merasa senang dengan pukulan tuannya, maka ia tidak tulus dalam klaimnya!”
Rabiah berseru: “Ada sesuatu yang lebih baik dari semua ini!”
Mereka berkata kepadanya: “Kalau begitu, kau bicaralah.”
Rabiah berkata: “Barangsiapa yang tidak melupakan sebuah pukulan ketika melihat tuannya, maka ia tidak tulus dalam klaimnya, seperti perempuan-perempuan Mesir yang melupakan rasa sakit di tangan mereka ketika melihat wajah Yusuf.”
Rabiah tetap teguh pada jalan yang telah dipilihnya, tak pernah menyimpang darinya, tak menginginkan apa pun selain rahmat, kasih-sayang, dan keridhaan Allah. Ia telah memahami kebenaran, dan kebenaran itu menyadarkannya di tengah penderitaan, kepedihan menjadi yatim piatu, perbudakan, dan penindasan.
Ia tetap demikian hingga kematian mendekat. Ia memanggil pelayannya, Abdah bint Abi Syawal, dan berkata kepadanya: “Wahai Abdah, jangan biarkan siapa pun tahu tentang kematianku. Kafani aku dengan jubahku ini,” jubah wol yang biasa ia kenakan ketika semua orang tidur.
Abdah berkata, “Maka kami menyelimutinya dengan jubah itu dan dengan tudung wol yang biasa ia kenakan. Kemudian, sekitar setahun kemudian, aku melihatnya dalam mimpiku mengenakan pakaian dari sutra hijau, dan tudung sutra hijau, dan aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari itu sebelumnya. Aku berkata: ‘Wahai Rabiah, apa yang kau lakukan dengan jubah yang kami kafani engkau dengannya dan tudung wol itu?’ Ia berkata: ‘Demi Allah, kain kafanku telah diambil dariku dan digantikan dengan apa yang kalian lihat kupakai ini. Kain kafanku dilipat dan ditutup, dan aku diangkat ke langit tertinggi agar pahalanya dapat disempurnakan bagiku pada Hari Kiamat…’ Aku berkata: ‘Kalau begitu, perintahkanlah aku untuk melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan diriku kepada Allah Azza wa Jalla.’ Ia berkata: ‘Engkau harus sering mengingat-Nya, dan engkau akan segera bergembira karenanya di dalam kuburmu.”
Rabiah al-Adawiyah hidup dan mati sebagai Syaykhah al-‘Asyiqin (matriark para pencinta), perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mencintai Allah dalam perkataan dan perbuatan, lahiriah dan batiniah, hingga jati dirinya yang tersembunyi menjadi seperti jati dirinya yang tampak di depan umum. Semua orang, baik orang asing maupun kerabat, mengetahui apa yang diinginkan Rabiah, ke mana ia menuju, dan apa yang menjadi petunjuk dan sandarannya.
Asketis terkenal Sufyan al-Tsauri pernah bertanya kepada Rabiah: “Apa jalan terdekat bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla?” Rabiah menangis dan berkata: “Orang sepertiku masih ditanya tentang hal ini! Hal terdekat yang dapat dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah mengetahui bahwa ia tidak mencintai apa pun di dunia ini atau di akhirat selain Dia.”
Demikianlah keadaan Rabiah, dan begitulah ia wafat.[]
Tinggalkan Komentar